
Pritttt. Suara peluit menandai dimulainya rubber set akhirnya dibunyikan. Kedua pemain yang sedang bertanding terlihat sudah sama-sama lelahnya. Pukulan mereka kini sudah tidak sekuat seperti waktu set pertama dan kedua. Sepertinya, yang memiliki tingkat konsentrasi dan stamina yang lebih baiklah yang akan memenangkan set penentuan ini. Secara teknik dan visi, keduanya terlihat memiliki kekuatan yang seimbang.
Lain halnya dengan para pemain yang sudah kelelahan, suara supporter dari kedua belah pihak justru terdengar semakin keras dan menggema. Kami terus meneriakkan kata-kata penyemangat untuk para pemain yang masih berjuang di set yang ketiga ini. Suara pukulan botol pun ikut terdengar di sela-sela teriakan kami yang membentuk irama yang bisa membakar semangat siapa pun yang mendengarnya.
***
Skor kini 17-17. Pertandingan semakin ketat di akhir-akhir ini. Penonton pun dibuat tegang dengan aksi saling mengejar antar dua pemain yang sedang bertanding tersebut. Di awal pertandingan, lawan yang terlebih dahulu unggul. Erni kemudian mengejar dan menjadi unggul di pertengahan set. Kini, semakin dekat dengan akhir, skor mereka berdua semakin ketat dan bahkan imbang untuk saat ini. Sungguh pertandingan yang sangat seru dan mendebarkan dari awal hingga akhir.
CETASSSS. Akhirnya smash dengan kecepatan tinggi pun kembali keluar. Hanya saja bukan Erni yang melakukannya, tetapi lawannya. Smash yang keras itu pun dengan mulus meluncur ke sisi kanan belakang daerah Erni. Erni tampak mati langkah dan hanya memandangi kok yang jatuh dengan mulus itu. Skor berubah menjadi 18-17 untuk keunggulan lawan.
Sepertinya, Erni sudah mencapai batasnya. Kini ia sudah tidak terlihat fokus lagi ke dalam pertandingan. Sepertinya mental Erni menjadi buruk setelah menerima smash yang keras barusan itu.
Pada akhirnya, hingga akhir set, Erni tidak mampu lagi mencetak angka. Skornya pun berhenti di angka 17 tadi. Dengan begini pertandingan di rubber set ini dimenangkan oleh kelas 11 IPA 3 dengan skor 21-17.
"Maaf ya teman-teman, aku kalah," ucap Erni yang sudah terlihat sangat kelelahan.
"Hahaha gak papa Er, tadi itu pertandingan yang bagus, besok kita balaskan waktu ganda campuran," ucap Aji menyemangati.
"Betul apa kata Aji Er, besok kita balaskan hahaha," kini giliran Ahsan yang ikut menyemangati.
"Tadi itu pertandingan yang sangat spektakuler loh. Rasanya seperti menonton profesional yang biasa ada di tv hihihi," ucap Ayu yang ikut menyemangati.
"Betul, betul sekali itu. Malahan aku kira tadi kita sedang berada di ibukota menyaksikan laga sekelas internasional," ucap Ruben yang disambut gelak tawa yang lainnya.
Erni yang tampak sangat kelelahan itu kini duduk sambil melemaskan kembali otot-otot yang dari tadi digunakannya itu saat pertandingan bulu tangkis. Tak ketinggalan ia juga sambil meminum air yang cukup banyak. Seluruh tubuhnya kini dipenuhi dengan keringat. Aku tidak menyangka pertandingan bulu tangkis bisa seseru ini. Mungkin, tadi adalah pertandingan yang paling seru yang terjadi di hari pertama festival.
Setelah cukup beristirahat, kami semua pun kembali menuju kelas lagi untuk beristirahat dan menunggu salah satu dari kita bertanding kembali. Dari 4 cabang yang sudah dimainkan, kita masih berhasil meloloskan 3 cabang, yaitu futsal, basket, dan bulu tangkis tunggal putra.
***
Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 12.00. Sekarang pun sudah memasuki waktu istirahat. Waktu istirahat adalah sekitar 45 menit. Perlombaan akan kembali dilanjutkan pada pukul 12.45.
__ADS_1
"Wah kira-kira kita lawan siapa yah di babak selanjutnya?" tanya Ruben.
"Yang kau maksud itu cabang olahraga mana? Basket, futsal, atau bulu tangkis?" tanya Ahsan.
"Karena aku hanya bermain di cabang futsal, tentu saja yang aku maksud itu cabang futsal. Kau itu bodoh sekali seperti biasanya," ucap Ruben sedikit sinis.
"Haaa? Apa aku tidak salah dengar? Ada orang bodoh yang mengatakan orang lain bodoh hahaha," Ahsan tertawa.
"Yang kau maksud diri mu sendiri yang mengatai orang lain bodoh ya? Hahahaha dasar bodoh," balas Ruben tertawa.
"Hahaha kalian sesama orang bodoh jangan begitu, kasian orang-orang di sekitar kalian nanti terganggu," ucap Agung yang kali ini ikut bercanda.
"Oi oi oi, mulut mu keras juga ya? Bukannya kau itu harus fokus untuk membuat puisi ya? Mana bisa kau menang bila mulut mu bau dan kotor begitu hahaha," balas Ahsan.
"Sudah, sudah jangan di teruskan hahaha," ucap Aji.
"Oiya ngomong-ngomong kalian melihat Risal? Dari sejak pertandingan futsal tadi, aku belum melihatnya," tanya ku.
"Oiya, benar juga. Gara-gara kau mengatakan hal itu, aku juga jadi baru sadar kalau dari tadi Risal tidak bersama kita. Kira-kira kemana ya perginya?" ucap Aji yang sepertinya malah baru menyadari bahwa Risal tidak ada.
"Hahaha maaf,maaf, tapi aku juga tidak tahu keberadaannya saat ini," ucap Aji.
"Kalau kau tau sesuatu Ben?" tanya ku pada Ruben.
"Enggak juga hahaha," Ruben tertawa.
"Kalian sedang mencari Risal?" tiba-tiba Cindy bersuara. Sepertinya ia mendengar percakapan kami.
"Iya Cin, dari tadi sepertinya Risal tidak bersama kita, kamu tau dimana dia?" tanya ku.
"Aku tadi sih sempat melihat Risal sedang membaca buku di perpustakaan," jawab Cindy.
__ADS_1
"Eh benarkah? Kapan Cin kamu lihatnya?" tanya ku.
"Tadi pagi, sehabis pertandingan futsal," jawab Cindy.
"Oh begitu ya," jawab ku.
Aku tidak tahu kenapa Risal masih menyendiri seperti itu. Aku kira, dengan dia setuju mengikuti lomba puisi tersebut, ia jadi lebih terbuka dan sering berkumpul dengan kami. Aku benar-benar masih belum tahu Risal itu orang yang seperti apa sebenarnya.
"Ke kantin aja yuk? Siapa tahu di sana lagi ada kumpul-kumpul wanita cantik hahaha," Ruben tertawa.
"Wah boleh juga tuch. Tumben ide mu bagus," ucap Ahsan dengan logat khasnya.
"Hahaha kalian ini........ Ayoooooo," ternyata Aji juga menyetujuinya.
"Hahaha aku kira kau bakal menolaknya Ji," ucap Ruben.
"Hahaha jadi siapa aja nih yang ikut?" ucap Ruben.
"Kau ikut gak Lang?" tanya Ahsan.
"Sepertinya aku gak ikut deh, aku mau istirahat aja di sini," jawab ku.
"Heeee??? Mencurigakan. Pasti ada perempuan yang kamu sukai di kelas ini ya Lang? Sampai-sampai kamu tidak mau pergi ke kantin bersama kami?" ucap Ruben.
"Bukan, bukan begitu," jawab ku.
"Kalau bukan begitu, terus apa? Begini?" ucap Ruben dengan nada bercanda.
"Pokonya, untuk saat ini, aku mau istirahat di kelas saja. Maaf yah," ucap ku.
"Heee membosankan... Ya sudah deh, ayo yang lain, kita segera melihat-lihat wanita-wanita cantik di kantin hahaha," Ruben lalu mulai pergi meninggalkan kelas diikuti Aji, Ahsan, Agung, dan Fahmi.
__ADS_1
***
Bersambung