
"Iya gak papa Lang, untuk kamu belum menginjak genangan itu. Tumben kamu ngelamun begitu, ada apa?" tanya Cindy.
"Gak papa hehe. Aku cuma kepikiran sesuatu aja," jawab ku yang berusaha menyembunyikan apa yang aku pikirkan tadi.
Aku dan Cindy pun kembali melanjutkan perjalanan kita menuju sekolah. Tinggal sebentar lagi kita akan sampai di sana. Aku jadi penasaran kira-kira siapa saja yang diundang oleh Ruben untuk datang yah?
Pukul 09.20, kami akhirnya sampai di depan kelas kami yang terkunci itu. Terlihat Ayu, Aji, dan Renaldi sudah sampai terlebih dahulu di sini. Mereka tampak sedang duduk di teras kelas karena pintun ruangan yang masih terkunci itu. Karena ini adalah hari libur, jadi petugas sekolah mengunci setiap ruangan yang ada di sekolah, termasuk pintu kelas kami ini.
Aku dan Cindy lalu langsung menghampiri mereka dan ikut duduk di sebelah mereka.
"Wah tumben Cindy sama Galang barengan, jangan-jangan kalian pacaran yah? Hihihi," ucap Ayu dengan senyum yang cukup lebar.
"Engga-engga, kita engga pacaran. Tadi kebetulan Galang lewat depan toko nenek ku. Jadi, sekalian aja kita berangkat bareng," jelas Cindy dengan wajah yang terlihat cukup panik.
"Mmmm beneran tuh cuma kebetulan? Jangan-jangan memang disengaja? Hahahaha," kini giliran Aji yang ikut meledek kami.
Mendengar hal itu, entah kenapa membuat Cindy menjadi agak tersipu. Pipinya juga kelihatan memerah.
"Iya cuma kebetulan kok. Oiya, ngomong-ngomong kalian ke sini karena diundang Ruben juga?" aku mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Iya," jawab Aji dan Ayu secara bersamaan. Sementara itu, Renaldi hanya diam saja sambil memandangi tanaman di depannya.
"Kalian tau kenapa Ruben mengundang kita berkumpul di sini?" tanya ku lagi.
"Ga tau, pas aku tanya hal itu, dia bilang bakal jelasin langsung di sini," jawab Aji.
Tak lama berselang, siswa yang kian mulai berdatangan satu per satu. Kini, aku sudah yakin kalau yang diundang oleh Ruben adalah semua siswa kelas 10-7. Yang jadi pertanyaan sekarang adalah untuk apa kita diundang ke sini.
Pukul 09.30 tepat, seluruh siswa kelas 10-7 sudah berkumpul kecuali Ruben, Ahsan dan tentu saja Risal. Kita pun mulai bertanya-tanya, "Dimana Ruben, orang yang telah membuat kita berkumpul di sini pagi ini? Kenapa malah dia yang belum datang?"
__ADS_1
"Wah Ruben dimana sih? Kok belum datang? Kan dia yang ngundang kita ke sini, kenapa malah dia yang belum datang?" gerutu WITA yang bangkit dari duduknya sambil meletakkan kedua tangannya di masing-masing sisi pinggang kiri dan kanan.
"Iya nih, masa dia belum datang," timpal Aji.
"Coba telepon aja," usul Ayu.
"Ide bagus tuh, oke aku akan coba telpon orangnya," Aji lalu mulai mengambil HP dan menelpon Ruben.
Pada panggilan pertama, panggilan Aji tidak dijawab Ruben. Yang kedua juga sama tidak diangkat, hingga panggilan yang kelima tetap saja tidak dijawab.
"Wah gak dijawab-jawab nih, gimana?" Aji kelihatan sedikit bingung.
"Ya udah kita tunggu aja sampai jam 10 kurang 10. Kalau sampai gak dateng juga, mending kita samperin aja rumahnya. Katanya kan rumahnya deket sini kan?" usul Ayu.
"Boleh tuh," timpal Risa.
"Ih tapi kenapa sih malah Ruben yang belum dateng. Aku kesel banget dehhh," gerutu Wita dengan raut muka yang memang menunjukkan kekesalan.
"Ihhhhh engga banget deh suka sama Ruben," balas Wita dengan raut muka yang kecut.
Kami pun lalu menunggu Ruben hingga nanti pukul 09.50. Kalau sampai dia belum datang juga, kita akan datang kerumahnya ramai-ramai. Banyak yang menunggu sambil memegang ponsel pintarnya, ada yang saling bercakap-cakap ada yang diam saja sambil melihat pemandangan sekitar, dan lain-lain.
Dari sekian banyaknya orang, perhatian ku kaki ini sangat tertuju pada satu orang gadis yang duduk menunduk sambil membaca sebuah buku kecil, seukuran saku yang cukup tebal. Judul buku itu adalah "Candramawa".
Aku tidak terlalu paham apa arti kata Candramawa itu. Aku juga kurang yakin apakah Candramawa itu adalah bahasa indonesia atau bukan. Kalau sekilas, Candramawa terdengar seperti kosa kata dari bahasa kuno atau semacamnya.
Karena cukup penasaran, aku pun lalu perlahan menuju gadis yang tengah membaca buku itu. Nama gadis itu adalah Cindy. Ya, Cindy lah gadis yang sedang membaca buku itu. Aku tidak cukup terkejut melihatnya membaca buku, karena aku sudah pernah melihatnya sedang membaca buku sendirian di taman waktu itu. Selain itu, neneknya juga sangat menggemari buku, sampai-sampai ia punya toko bukunya sendiri. Mungkin, sifat Cindy itu, menurun dari neneknya.
"Buku apa itu Cin (Cin dibaca Sin) ?" aku lalu duduk di sampingnya yang sedang duduk di lantai tepian teras.
__ADS_1
"Oh ini, 'Candramawa' Lang, kenapa?" ucap Cindy sambil melihat cover bukunya yang bewarna hitam dan putih itu.
"Kalau arti dari 'Candramawa' itu kamu tahu?" tanya ku sambil menatap matanya. Entah kenapa saat aku menatap kedua matanya dari balik kaca matanya itu, jantung ku sedikit berdebar-debar.
"Awal aku juga tidak tahu apa arti 'Candramawa' itu, tapi setelah aku tanya nenek, aku jadi tahu artinya. Arti Candramawa itu hitam bercampur putih," jawab Cindy sambil melihat ke langit-langit.
"Ohhh hitam bercampur putih ya... Sekarang jadi masuk akal kenapa sampulnya warnanya hitam sama putih," ucap ku sambil mengamati buku kecil itu.
"Hehehe iya. Kamu mau baca juga Lang?" ucapnya sambil tersenyum kecil. Walaupun itu adalah senyuman kecil, akan tetapi senyumannya terlihat begitu manis dan cantik. Lesung pipinya juga menambah kemanisannya.
"I-iya, sepertinya aku tertarik dengan buku itu," jawab ku sambil tergugup-gugup. Entah kenapa aku jadi grogi begini dan tak berani menatap ke arah matanya lagi.
"Mau pinjam?" tanya nya lagi.
"Eh engga, engga usah Cin. Nanti aku beli saja di toko hehehe," jawab ku.
"Tapi sepertinya buku ini sudah tidak dijual lagi Lang. Ini aku dapat karena meminjam buku milik nenek yang kebetulan aku lihat sewaktu aku melihat-lihat rak buku milik nenek, " jawab Cindy.
"Oh begitu ya, sayang sekali ya... Ya sudah kalau boleh aku mau meminjamnya hehehe," ucap ku sambil memasang sedikit senyuman.
"Tentu saja boleh," Cindy terlihat menutup bukunya dan menyodorkannya pada ku.
"Eh nanti saja Cin. Nanti saja setelah kamu selesai membacanya," jawab ku yang masih belum berani menatap ke arah matanya.
"Oh begitu. Ya sudah, nanti kalau aku sudah selesai membaca bukunya, aku akan langsung memberikannya pada mu. Nanti biar aku izinkan ke nenek," jawab Cindy.
"O-oke deh, makasih hehehe," aku tersenyum lagi kali ini.
***
__ADS_1
Bersambung