Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 131 : Terasa Nyaman


__ADS_3

"Eh benarkah? Aku tidak menyangka kalau Ruben ternyata orangnya jago masak," timpal Celine.


"Pada awalnya aku juga sama sekali tidak menyangkan, tapi ketika aku mencicipi masakannya, rasanya sungguh enak. Aku rasa kamu harus mencoba masakannya nanti," ucap ku.


"Eh? Boleh nih? Aku kan bukan kelas kalian," tanya Celine.


"Boleh, Ruben pasti senang kalau kau mencicipi masakannya," jawab ku.


"Wah jadi gak sabar nih buat mencicipi masakannya. Oiya ngomong-ngomong rasanya agak sedikit aneh ya, berangkat di hari Sabtu yang biasanya libur ini," ucap Celine.


"Wah ternyata pikiran kita sama. Aku juga berpikiran seperti itu tadi ketika sedang dalam perjalanan berangkat ke sekolah," timpal.


"Hihihihi berarti bukan aku saja yang merasakannya," timpal Celine lagi.


Kita berdua lalu saling diam dan tak saling bertukar kata. Kami berdua kini hanya melihat-lihat peserta lomba masak yang terlihat sudah mulai pada fase memasak. Para peserta itu terlihat begitu sibuk. Mereka berlalu lalang ke sana ke mari, tak jarang mereka sampai berlari untuk menghemat waktu.


Aroma-aroma bumbu kini sudah mulai tercium. Meskipun jarak antara aku dan tempat mereka memasak agak jauh, akan tetapi aromanya dengan mudah tercium sampai ke sini.


"Kalau kamu sendiri suka memasak?" tiba-tiba Celine bersuara setelah beberapa saat kita berdua saling diam.


"Aku tidak bisa mengatakan kalau aku suka memasak, tetapi aku juga tidak bisa bilang kalau aku membencinya. Kalau kamu bertanya seperti itu, mungkin jawaban yang paling tepat adalah aku bisa memasak beberapa makanan saja, tidak banyak," jawab ku.


"Hihihihi jawaban mu menarik sekali," Celine tersenyum tipis.


Aku tidak tahu kenapa aku dan Celine terasa sudah kenal satu sama lain dalam waktu yang cukup lama. Kami mengobrol layaknya orang yang sudah berteman lama, padahal aku baru mengenalnya beberapa hari lalu di sebuah kedai yang tak jauh dari sini. Namun entah kenapa, rasanya aku seperti sudah sangat akrab dengannya.


"Oiya Lang ngomong-ngomong kamu ikut ekstrakulikuler apa?" tanya Celine lagi.


"Sepak Bola, kalau kamu?" tanya ku balik.


"Wah sepak bola yah? Pantas kemaren kamu kelihatan jago banget pas pertandingan lawan 12 IPS 4. Kalau aku ikut ekstrakulikuler paduan suara," jawabnya.


"Masih ada yang lebih jago dari ku kok. Aku rasa kemampuan ku masih sangat jauh untuk dikatakan jago," jawab ku.


"Tidak kok. Menurut ku kamu sudah jago. Buktinya kamu berhasil mengalahkan 12 IPS 4," ucapnya lagi.


"Bukan aku yang mengalahkannya, tapi kami satu tim yang mengalahkan mereka," jawab ku.

__ADS_1


Tiba-tiba saja ada angin yang berhembus cukup kencang melewati kami. Cukup lama, mungkin sekitar setengah menitan. Aku dan Celine pun melindungi mata kami agar tidak terkena debu dan kotoran yang ikut terbawa oleh angin tersebut.


"Wah anginnya kenceng banget yah," ucap Celine sesaat setelah angin itu lewat.


"Iya, jarang sekali ada angin yang sekencang itu," jawab ku.


"Ehemmmm... Ehemmmm..." tiba-tiba ada suara batuk yang dibuat-buat dari arah belakang. Aku dan Celine pun langsung menoleh ke arah suara batuk tersebut berasal. Ternyata suara itu berasal dari Fahmi yang terlihat sedang bersama Calvin dan Tomi.


"Wah keren sekali kau Lang? Lagi apa?" tanya Fahmi dengan senyum kecut dari wajahnya.


"Lagi nonton lomba masak," jawab ku singkat.


"Sama Celine juga?" tanya Fahmi lagi.


"Tadi aku kebetulan lewat sini. Dan kebetulan juga aku lihat Galang lagi sendirian. Dan kebetulan juga aku lagi sendiri, jadi aku duduk di sini sekalian lihat lomba masak," ucap Celine.


"Tapi Galang gak modusin kamu kan line? Galang gak bicara aneh-aneh kan? Kamu gak digombalin sama dia kan?" ucap Fahmi.


"Hihihi enggak kok, Galang gak bicara yang aneh-aneh," jawab Celine sambil tersenyum.


"Oiya Lang, mau lihat Ruben dari dekat gak? Kita mau mampir ke stand masaknya nih," ucap Calvin.


"Oh kalian mau ke sana? Boleh, aku juga pingin lihat dari dekat," jawab ku.


"Celine mau ikut juga?" ajak Calvin.


"Eh boleh nih?" tanya Celine.


"Boleh lah... Ya udah ayo, kita langsung ke sana aja," ucap Calvin.


Kami berlima pun lalu langsung berjalan menuju ke stand dimana Ruben dan yang lainnya memasak. Semakin kami mendekat, semakin tercium aroma-aroma masakan yang sangat beragam ini.


"Gimana Chef Ruben? Aman semuanya?" tanya Calvin sesaat setelah kami sampai di stand masak.


"Aman bos... Semuanya aman terkendali," jawab Ruben dengan masih menatap ke arah bahan-bahan yang sedang ia potong. Sepertinya ia masih belum menyadari bahwa Celine juga ikut datang ke sini.


"Sip lah. Ngomong-ngomong mau masak apa nih?" tanya Calvin lagi.

__ADS_1


"Rahasia dong, nan---- Eh Celine?? Wah sejak kapan Celine dateng? Udah lama Lin?" ucap Ruben dengan heboh.


"Hahaha kau terlalu fokus memasak sih. Celine dateng bareng kami tadi," jawab Calvin.


"Hah bareng? Apa maksudnya?" tanya Ruben.


"Iya sewaktu kami mau ke sini, kami bertemu Galang sama Celine lagi duduk berdua di sana, jadi kami sekalian ajak aja ke sini," ucap Calvin.


"Iya loh, mereka tadi kelihatan asik banget pas berduaan," timpal Fahmi.


"Haaaa? Wah apa-apaan itu Lang? Kenapa kau bergerak begitu cepat sih? Kau mau mengkhianati kami semua yah?" ucap Ruben.


"Bergerak cepat? Mengkhianati kalian? Apa maksudnya?" tanya ku yang masih belum mengerti apa yang sedang mereka maksud itu.


"Kamu gak dimodusin sama Galang kan Lin?" tanya Ruben.


"Hihihihi maksudnya gimana nih?" ucap Celine.


***


Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 10.30. Aku saat ini sedang berada di perpustakaan seorang diri. Lomba masak setengah jam lagi akan berakhir dan langsung akan dilakukan penjurian.


Suasana perpustakaan saat ini lumayan sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang terlihat di sini.Aku pun sebenarnya jarang sekali mengunjungi perpustakaan. Hanya karena aku tidak tahu harus ngapain, aku pun memutuskan untuk datang ke perpustakaan untuk membaca buku. Kebetulan hari ini aku sedang tidak membawa satu pun buku.


Saat aku sedang melihat-lihat sekeliling, aku menemukan ada seorang siswa laki-laki yang tengah tertidur di pojokan sana. Aku tidak tahu sejak kapan siswa itu tertidur di sana. Dan kenapa juga petugas perpustakaan yang ada di sana tidak membangunkannya? Atau memang petugas itu belum menyadari kalau ada seorang yang tengah tertidur? Entahlah.


Dari sejak bel masuk tadi, aku tidak melihat Ahsan. Biasanya dia pasti akan bersama Ruben. Namun karena Ruben sedang ikut lomba masak, kira-kira dimana Ahsan sekarang yah?


Aku sebenarnya sudah mencarinya ke kantin, ke koperasi, atau ke tempat lain yang biasanya ia datangi. Namun, aku tidak menemukannya dimana pun.


Di saat aku sudah lumayan lama membaca, tiba-tiba petugas perpustakaan menghampiri salah seorang pengunjung yang terlihat sedang tertidur. Petugas itu lalu membangunkan siswa laki-laki itu yang kelihatannya sudah cukup lama tertidur.


Saat siswa laki-laki itu terbangun, aku terkejut. Ternyata siswa laki-laki yang dari tadi tertidur itu adalah Ahsan.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2