Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 113 : Serangan Balik


__ADS_3

Renaldi kini tengah menguasai bola di area pertahanan kami. Tidak seperti yang lain ketika menguasai bola yang terlihat gugup dan tergesa-gesa, Renaldi benar-benar berbeda. Ia begitu tenang, bahkan meski ada yang menekannya ia masih bisa tetap tenang.


Ia lalu mengoper bolanya ke Calvin yang membuka ruang di samping kirinya. Calvin kemudian perlahan mulai membawa bola itu ke area tengah lapangan, aku pun berlari ke arah samping sembari mencari celah di pertahanan lawan.


Di saat aku sedang sibuk lepas dari bayang-bayang lawan yang selalu mengikuti ku kemana pun aku pergi, tiba-tiba Calvin langsung menendang bolanya ke arah gawang dari jarak yang cukup jauh. Sayang, tendangannya masih bisa ditepis oleh kiper musuh dan hanya menghasilkan tendangan sudut.


Calvin lalu langsung mengambil bola itu kembali dan akan melakukan tendangan sudut. Tomi terlihat mendekat ke sisi lapangan, sementara aku mencari posisi di area gawang lawan. Renaldi terlihat berdiri tegak di hampir tengah lapangan untuk berjaga-jaga apabila ada serangan balik.


Calvin tampak masih belum yakin kemana ia akan mengumpan. Pemain lawan memang sangat ketat dalam hal menjaga dan membayang-bayangi para pemain kami.


Pada akhirnya Calvin lebih memilih untuk mengirimkan bola sepakannya itu ke arah mulut gawang. Aku tau apa maksudnya. Mungkin maksudnya adalah agar supaya terjadi kemelut dan kekacauan di daerah mulut gawang lawan.


Benar saja, bola sepakannya yang cukup keras itu, mengarah langsung ke arah tiang dekat gawang musuh. Kiper yang tidak menyangka bahwa bola bisa melengkung sebegitu rupa pun terlihat sedikit panik. Bola hasil tepisannya tidaklah sempurna dan malah mengarah ke arah kaki ku. Aku yang mempunyai kesempatan untuk menendang pun langsung menendang dengan sekuat tenaga.


Jebretttt. Tang. Sayang sekali, bola tendangan ku hanya mencium mistar gawang bagian atas sebelum pergi meninggalkan lapangan pertandingan. Aku sangat kecewa dengan bola tendangan ku barusan yang mana seharusnya bisa berbuah menjadi gol jika saja aku bisa lebih tenang dalam mengeksekusinya.


Suara teriakan penonton pun kini semakin keras. Mereka seakan menjadi lebih bersemangat setelah tembakan ku tadi mengenai mistar gawang.


"Ayooo semangat sepuluhhhh tujuhhhhh," teriak anak-anak 10-7 dengan dibarengi oleh pukulan botol.


"Sepuluh sembilaaann jangan mau kalahhhh... Ayoo... Ayooo... Ayooo," balas anak-anak 10-9. Suasana festival ini terasa begitu meriah.

__ADS_1


Kembali ke pertandingan, kini Robi kembali tengah menguasai bola. Tidak secepat dan segesit di babak pertama tadi, Robi kini terlihat bermain lebih santai dengan tempo yang tidak terlalu cepat. Sepertinya ia juga sudah mulai kehabisan tenaga, atau mungkin memang itu adalah strateginya untuk bermain dengan tempo lambat? Entahlah.


Pritttt. Wasit meniup peluit tandan telah terjadi pelanggaran. Salah satu pemain dari 10-9 terlihat terjatuh saat berebut bola dengan Tomi. Sepertinya Tomi sedikit menggunakan tenaganya untuk mendorong pemain lawan hingga terjatuh.


Tendangan bebas didapatkan oleh anak-anak 10-9. Jarak dari tempat pelanggaran ke gawang kami tidaklah begitu jauh dan berada di sisi kanan pertahanan kami. Robi kini terlihat sudah berada di depan bola. Ia menatap gawang yang dikawal oleh Ruben itu dengan serius.


Kami lalu mulai membuat pagar betis supaya Robi tidak dengan mudah mengarahkan bolanya langsung ke arah gawang. Prittt. Wasit meniup peluit tanda tendangan bebas sudah boleh dilakukan. Robi terlihat mundur beberapa langkah untuk melakukan ancang-ancang. Jebretttttt. Tendangannya hanya membentur pagar betis yang kami buat sebelum kembali meninggalkan lapangan pertandingan.


Dari suara yang dihasilkan oleh benturan bola dengan tubuh itu, bisa diketahui betapa cepat dan kerasnya tendangan milik Robi tadi. Jika saja bola itu langsung mengarah ke gawang milik Ruben, bisa saja akan terjadi gol.


Calvin yang terkena bola hasil tendangan Robi tadi pun terlihat meringis kesakitan. Sepertinya, kami harus menggantinya dengan pemain yang lain.


Setelah Ahsan masuk kelapangan, pertandingan kembali dilanjutkan. Masih tersisa sekitar 5 menit hingga permainan di babak kedua ini berakhir. Sebelum itu terjadi, aku harap tim kami bisa mencetak paling tidak satu gol agar pertandingan bisa dimenangkan oleh kami.


Jebrettttt. Ahsan langsung menembakkan bola ke gawang di sentuhan yang pertamanya. Sayang, tembakannya masih melenceng tipis di samping mistar gawang.


Kali ini, yang berperan sebagai ujung tombak tim kami adalah Tomi. Karena Aji terlihat masih belum siap untuk kembali bermain, makan sepertinya Tomi akan bermain penuh hingga akhir babak kedua nanti. Aku harap ini tidak akan mengurangi peformanya di cabang basket nanti.


"Oi Lang kemari sebentar," tiba-tiba Ahsan memanggil ku.


Aku lalu langsung menghampiri Ahsan dengan segera. Dilihat dari wajahnya, sepertinya ia akan membicarakan sesuatu yang serius.

__ADS_1


"Ada apa San?" tanya ku ketika sudah sampai di hadapannya.


Ahsan lalu mendekatkan mulutnya ke arah telinga kiri ku. Ia lalu membisikan sebuah strategi untuk bisa mencetak paling tidak satu gol ke gawang 10-9. Aku hanya mengangguk-angguk tanda mengerti ketika Ahsan mengatakan strateginya. Sepetinya, saat Ahsan dan Aji masih beristirahat di pinggir lapangan tadi, mereka berdua membuat strategi ini setelah melihat pola permainan dari 10-9 ini.


Ahsan mengatakan bahwa peluang kita mencetak gol akan lebih lebar jika kita bermain bertahan dan hanya mengandalkan serangan balik. Melihat stamina dari para pemain 10-9 yang sudah tidak sebaik pada saat babak pertama, membuat serangan balik menjadi lebih efektif untuk diterapkan.


Ditambah lagi, Robi sang 'mesin' penggerak permainan 10-9 belum diganti sejak saat dimulainya pertandingan tadi. Ia kini juga sudah terlihat mulai kelelahan. Hal itu bisa dilihat dari raut wajah dan tempo permainan yang semakin melambat. Jika kita memaksakan serangan balik yang cepat, mungkin mereka akan kalah dalam adu sprint dan pada akhirnya ruang pertahanan mereka akan terbuka dengan lebar. Jika sudah seperti itu, kualitas tendangan dan ketenanganlah yang akan berperan apakah akan berbuah menjadi gol atau tidak.


Aku lalu menyampaikan strategi itu kepada Tomi. Tomi pun tampak mengerti dengan strategi barusan.


***


Waktu kini hanya tinggal tersisa sekitar 2 menit. Sekarang, posisi bola berada di sepak sudut di daerah pertahanan kami. Kami pun menjaga dengan ketat para pemain yang sudah masuk ke area pertahanan kami.


Tendangan sudut sudah dilakukan oleh dan mengarah langsung ke area depan mulut gawang kami. Beruntung, Ruben dengan sigap bisa langsung menangkap dan mengamankan bola tendangan sudut tersebut.


Melihat Ruben berhasil mendapatkan bola, Tomi lalu langsung berlari dengan kencang menuju ke arah pertahanan lawan. Ruben yang melihat pergerakan Tomi itu pun langsung melemparkan bola ke arah Tomi.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2