Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 126 : Kak Jo Vs Kak Taufik


__ADS_3

Para pemain dari kedua tim kini sudah berada di dalam lapangan. Mereka terlihat sudah mulai melakukan pemanasan masing-masing. Wajah santai terpampang dari wajah kak Jo dan kak Taufik. Mereka terlihat begitu tenang dan tak terlihat sedikit pun ketegangan di wajah mereka. Sebaliknya, mereka malah terlihat seperti sedang menikmati suasana partai final ini.


Tak lama berselang, kak Taufik dan kak Jo dipanggil oleh wasit untuk mendekat. Seperti biasa, kedua kapten dari kedua tim akan dipanggil untuk menentukan siapa yang akan mendapatkan bola terlebih dahulu, atau siapa yang berhak memilih gawang terlebih dahulu.


Setelah selesai, kak Taufik terlihat langsung menuju ke arah bola. Sepertinya, yang mendapatkan bola terlebih dahulu adalah kak Taufik. Itu berarti, kak Jo yang mendapat giliran untuk memilih gawang terlebih dahulu.


Setelah semua pemain siap dan sudah berada di posisi mereka masing-masing, wasit pun lalu langsung meniup peluitnya tanda pertandingan dimulai. Seperti biasa, pola permainan dari kak Taufik dan kawan-kawannya sangatlah cepat. Mereka tanpa basa-basi langsung membawa bola ke arah pertahanan kak Jo dan kawan-kawannya.


Namun tak semudah yang dibayangkan. Kak Jo dan kawan-kawannya terlihat bisa mengatasi pergerakan para lawannya itu dengan tenang tapi sangat akurat. Mereka langsung bisa menghentikan serangan dari kelas 11 IPA 5 itu dan berhasil merebut bola dari mereka. Kini bola telah berpindah tuan menjadi milik kak Jo dan teman-temannya.


Tak seperti kak Taufik, kak Jo kini terlihat begitu tenang sambil terus menjaga bola di kakinya. Ia dengan tenang mengarahkan para teman-temannya itu menggunakan kode atau isyarat yang kak Jo berikan.


***


Babak pertama kini telah berakhir. Skor sementara adalah 1-0 untuk keunggulan kak Taufik dan kawan-kawan. Rasanya, beruntung sekali aku dapat menyaksikan pertandingan final ini. Dua tim sangatlah berimbang meskipun keduanya memakai gaya bermain yang berbeda.


"Tuh kan lihat, kak Taufik yang menang. Sesuai seperti apa yang aku prediksikan," ucap Ruben dengan bangga.


"Masih ada waktu. Semuanya masih bisa terjadi. Kita saja tadi sempat tertinggal 3-0 lalu terus berhasil menyamakan kedudukan jadi 3-3. Ya walaupun memang pada akhirnya kita kalah 4-3 sih, tapi tetap saja semua kemungkinan masih bisa terjadi," ucap Aji.


"Dengar tuh apa kata ahlinya. Orang bodoh seperti mu mana bisa paham," ketus Ahsan.


"Cihhh," gumam Ruben.


"Mau cari cemilan dulu gak nih? Apa mau nunggu?" tanya Calvin.


"Wah kalau kita pergi, nanti pasti kita gak bisa dapet tempat ini lagi. Sekarang aja penontonnya masih banyak banget yang ada dibelakang sana. Tuh lihat," ucap Fahmi sambil menunjuk pada penonton yang harus menonton dari belakang dan agak jauh dari lapangan pertandingan.


"Kau benar. Banyak banget penontonnya," timpal Aji.

__ADS_1


"Jadi?" tanya Calvin.


"Ya kita tahan aja rasa haus sama lapar kita hingga pertandingannya selesai nanti. Lagi pula kan gak terlalu lama juga," ucap Aji.


"Okelachhh," ucap Ahsan dengan logat khasnya.


"Oiya ngomong-ngomong kalian tadi waktu pas pertandingan lawan 12 IPS 4, lihat ekspresinya Celine gak?" tanya Fahmi.


"Wah mana bisa, aku kan main terus tadi. Emang kenapa Mi?" tanya Ruben penasaran.


"Jangan heboh ya. Tadi pas waktu pertandingan berlangsung, muka Celine kelihatan tegang banget. Ia juga beberapa kali sampai memejamkan kedua matanya dan lalu seperti memanjatkan doa gitu. Terus pas tadi kita menang, dia juga keliatan senang banget gitu," ucap Fahmi.


"Wah bisa detail banget gitu yah? Kau sebenarnya nonton pertandingan kami? Atau kau nonton Celine yang sedang nonton pertandingan kami sih?" ucap Ahsan.


"Tentu saja nonton pertandingannya lah," jawab Fahmi dengan muka yang mulai memerah.


"Hahaha jujur aja," ucap Ahsan sambil tertawa.


"Iya pokoknya cantik banget lah... Ehhhh maksudnya seneng banget gitu mukanya. Ya kira-kira seperti muka anak-anak kelas kita yang tadi seneng banget pas waktu kita resmi jadi juara 3 tadi," jawab Fahmi.


"Wah kalian berdua nih sama saja yah... Hahahaha," ucap Fahmi yang tertawa gegara ucapan mereka berdua barusan.


"Kalau begitu bisa dipastikan kalau Celine suka sama salah satu dari kita yang tadi bermain. Tadi kan yang main itu Aku, aku, aku, aku, aku, aku, sama aku. Berarti bisa dipastikan Celine itu suka sama aku hahahahaha," ucap Ruben yang lalu langsung tertawa lebar.


"Ngimpiiiiii," timpal Ahsan.


"Apa salahnyaaa?" jawab Ruben.


"Oi Di, kenapa muka mu berubah jadi merah begitu? Wah jangan-jangan... Kau juga suka sama Celine yah? Hahaha," ucap Calvin.

__ADS_1


"Tidak, tidak. Aku bahkan tidak mengerti apa yang kalian sedang bicarakan. Lagi pula, aku juga tidak tertarik," jawab Renaldi dengan agak gagap.


"Meskipun mulut mu berkata tidak, tapi raut wajah mu menjelaskan semuanya tuh hahaha. Ditambah lagi, reaksi mu itu. Sejak kapan kau bisa bicara kalimat sepanjang itu hahaha," ledek Calvin lagi.


"Wah akhirnya Renaldi menemukan belahan hatinya," kini giliran Aji yang meledek Renaldi.


"Siapa yang belahan hatinya Renaldi? Mana mungkin aku akan membiarkannya menjadi belahan hati Celine dengan mudah," ucap Ruben.


"Memangnya kau mau melakukan apa? Kau mau berkelahi dengan Renaldi? Kalau iya, sudah pasti kau yang akan kalah kan? Pake otak kau kau lah," ucap Ahsan sinis.


"Tentu saja aku tahu," balas Ruben


"Hahaha, lihat-lihat pertandingannya sudah mau mulai tuh," ucap Aji


***


Akhirnya, kini babak kedua pertandingan final futsal antara kak Jo dan kak Taufik akan segera dimulai. Tinggal menunggu wasit meniup peluitnya, dan semua akan langsung dimulai.


Pritttt. Wasit akhirnya meniup peluitnya tanda dimulainya babak kedua. Kini bola dimulai dari sisi 12 IPA 4.


Meskipun saat ini kak Jo dan kawan-kawannya tengah tertinggal 1-0, akan tetapi tak sedikitpun raut wajah khawatir atau tegang terpancar dari muka mereka. Bahkan, tempo permainan mereka tidak berubah sedikit pun. Mereka masih setia menggunakan pola permainan santai dengan tempo yang tidak terlalu cepat.


"Lihat tuh muka kak Jo dan kawan-kawannya tenang banget. Padahal mereka lagi ketinggalan. Kalau itu kita, pasti kita tidak akan bisa setenang itu," ucap Ruben.


"Aku sebenarnya bisa bersikap tenang. Satu-satunya alasan bahwa aku tidak bisa bersikap tenang saat bertanding adalah karena mengetahui bahwa kau lah yang menjadi kiper kami. Hingga saat ini, detik ini, aku sejujurnya tidak mempercayai mu sebagai kiper sedikit pun," timpal Ahsan.


"Haaa apa kau bilang? Buktinya kita bisa juara tiga itu berkat siapa? Kalau bukan karena kipernya yang hebat, lalu siapa lagi?" protes Ahsan.


"Oi jangan ribut terus lihat tuh, kak Jo dan teman-temannya sekarang udah mengepung kak Taufik dan kawan-kawan. Wah sepertinya pertandingan akan semakin menarik nih," ucap Aji.

__ADS_1


***


Bersambung.


__ADS_2