Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 64 : Bertemu Kak Alice


__ADS_3

Malam hari sekitar pukul 19.00 setelah hujan seharian tadi, aku berencana pergi ke minimarket untuk membeli cemilan. Aku pun bersiap-siap sebelum mulai melangkahkan kaki ku keluar rumah. Setelah semua beres, aku lalu berpamitan dengan ibu dan langsung pergi bergegas menuju ke minimarket dengan berjalan kaki.


Genangan di kanan-kiri jalan masih cukup banyak. Aku pun harus berhati-hati agar tidak terkena cipratan air dari genangan yang dilewati kendaraan yang lewat. Beruntung, suasana jalan pada malam hari ini tidak lah begitu ramai.


Meskipun hujan telah cukup lama berhenti, akan tetapi suara gemuruh di langit masih sesekali terdengar. Bulan pun masih tampak tertutup oleh awan mendung yang belum juga mau pergi.


Sesampainya di minimarket, aku bertemu dengan Cindy yang juga tampak sedang berbelanja. Kami pun saling bertegur sapa sejenak sebelum kembali berpisah karena Cindy sudah ditunggu oleh neneknya.


Setelah selesai berbelanja, aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sebelum kembali ke rumah. Aku pun berjalan dengan cukup perlahan sambil menikmati bau alam yang basah karena guyuran hujan tadi.


Di saat aku sedang menghirup dalam-dalam udara ini, tiba-tiba saja aku teringat kembali akan Sofia. Rasanya sudah sangat lama aku tidak bertemu dan mengobrol dengannya. Entahlah aku merasakan hal yang aneh tentangnya. Di saat aku sedang tidak bertemu dengannya, aku merasa ingin bertemu. Namun, jika aku bertemu dengannya, entah kenapa aku ingin cepat-cepat pergi darinya. Semua itu berawal dari saat aku melihatnya berangkat bersama dengan kak Jo.


Aku tau bahwa seharusnya tidak ada yang salah dengan itu, akan tetapi entah kenapa aku merasa begitu kesal. Sebenarnya, apa yang sedang aku rasakan ini yah? Entahlah.


Selain terpikirkan tentang Sofia, aku juga sedang memikirkan tentang Risal. Sepertinya Risal sedang ada suatu masalah sehingga dia menjadi sangat penyendiri dan juga kemaren ia tidak ikut main futsal bersama yang lainnya. Apakah sebaiknya aku ajak dia berbicara saja ya? Entahlah, aku masih merasa sedikit ragu akan hal itu.


Sesampainya di rumah, aku langsung menuju balkon samping kamar ku. Sebelum itu, aku membuat secangkir cokelat hangat untuk menemani ku duduk terlebih dahulu.


Seperti yang aku katakan tadi, mendung masih saja menutupi langit malam. Bulan yang bersinar itu, cahayanya terhalang oleh awan hitam mendung itu sehingga cahayanya menjadi samar-samar terlihat.


Angin malam ini rasanya lebih tenang dari pada saat hujan tadi. Angin malam ini terasa sejuk. Aku penasaran, kira-kira dari mana datangnya semua angin-angin ini yah? Entahlah.


***


"Woi Ben kenapa kau terlihat bermalas-malasan seperti itu? Ini kan bar hari Senin. Yang semangat dong," ucap Ahsan saat jam istirahat hari Senin pagi.


"Haa? Bermalas-malasan tidak hanya untuk hari Sabtu dan Minggu San, jika kau punya sedikit lebih banyak keberanian, kau sudah bisa bermalas-malasan sejak hari Senin," jawab Ruben yang memang terlihat kurang bersemangat hari ini.


"Haaa? Apa-apaan tuch? Lagian kenapa kau hari ini kurang bersemangat seperti itu? Tumben sekali," tanya Ahsan lagi.


"Kau tau kemaren hujan lebat seharian kan? Dan hari ini hari sudah sangat mendung sejak dari tadi pagi. Hal itu membuatku menjadi kurang bersemangat," jawab Ruben lagi.


"Mau bagaimana lagi kan? Kan bukan manusia yang menentukan hak itu kan? Ayo dari pada kau hanya tiduran begitu, kita ke kantin saja," ajak Ahsan.

__ADS_1


"Kalau kau Lang, gimana perasaan mu setelah hujan seharian kemaren?" Ruben tiba-tiba bertanya pada ku.


"Aku sih tidak ada masalah dengan itu. Aku merasa biasa-biasa aja," jawab ku.


"Sudah ku bilang kan cuma kau yang merasa buruk tentang kemaren," ucap Ahsan.


"Kalian berdua aneh sekali, kalau kamu Cin perasaan mu gimana setelah hujan seharian kemaren?" Ruben tiba-tiba bertanya pada Cindy yang berada tepat di depannya yang terlihat sedang membaca buku.


"Gimana ya, menurut ku memang perasaan ku jadi lebih kurang enak sih waktu hujan seharian kemaren, apa lagi hari ini juga langit sangat mendung. Entah kenapa hal itu membuat ku merasa kurang enak saja," jawab Cindy.


"Tuh kan Cindy merasakan hal yang sama seperti ku, berarti memang kalian berdua saja yang aneh hahahaha," Ruben kini terlihat tertawa.


"Kau sudah bisa ketawa tuh, ayo lebih baik kita cepat-cepat ke kantin saja. Nanti keburu masuk nih," ajak Ahsan.


"Kalian berdua saja yang pergi, aku masih merasa malas," balas Ruben.


"Yasudah kalau kau tidak mau. Kalau kau Lang? Mau pergi ke kantin gak?" tanya Ahsan pada ku.


"Boleh, ayo," jawab ku.


"Katanya tadi malas," ucap Ahsan sinis.


"Hehehehe, entah kenapa sekarang aku merasa lapar dan haus," jawab Ruben.


"Dasar kau ini, kenapa tidak dari tadi? Waktu kita kan jadi berkurang gara-gara debat tadi," ucap Ahsan masih dengan nada sinis.


***


Sesampainya di kantin, kami bertemu dengan kak Alice, kakak kelas yang membimbing kelas kami waktu Masa Orientasi dulu.


"Eh bukannya itu kak Alice?" tanya Ruben.


"Mana Ben?" tanya Ahsan sambil mencari-cari.

__ADS_1


"Itu yang lagi duduk di dekat tiang, yang lagi makan roti," jawab Ruben menunjukkan posisi kak Alice.


"Oh iya, ayo kita sapa dulu," ucap Ahsan.


Kami bertiga pun lalu langsung menuju ke tempat kak Alice sedang duduk.


"Hallo kak Alice..." sapa Ruben tanpa ragu sambil sedikit tersenyum.


"Eh hallo juga... Kalian... Kalau tidak salah kalian dadi kelas 10-7 yah?" sapa kak Alice.


"Iya kak, hehe," balas Ruben masih dengan senyumannya.


"Siapa ya namanya? Kakak masih belum hafal hehehe," kini giliran kak Alice yang tersenyum.


"Nama ku Ruben kak, yang ini Ahsan, yang paling kanan Galang," jawab Ruben sambil memperkenalkan diri kami.


"Oh Ruben, Ahsan, dan Galang yah..." ucap kak Alice.


"Ya udah ya kak sampai jumpa lagi, kami mau beli makanan dulu. Nanti keburu habis," ucap Ruben.


"Oh iya, gak papa. Makasih ya udah mau menyapa kakak hehehe," ucap kak Alice sambil tersenyum.


Setelah membeli makanan yang kami inginkan, kami pun langsung kembali ke kelas karena sebentar lagi waktu bel masuk akan berbunyi.


"Wah kak Alice cantik banget yah. Apa lagi waktu ia tadi tersenyum. Rasanya, gula pun minder dengan kemanisan senyumannya tadi hahaha" ucap Ruben.


"Iya, sepertinya kak Alice sangat cocok dengan ku," balas Ahsan.


"Haaaa? Apakah kau sedang bercanda San? Tentu saja dilihat dari mana pun kak Alice lebih cocok dengan ku dari pada kamu," balas Ruben.


"Mana bisa begitu. Sudah jelas-jelas kak Alice tadi tersenyum kepada ku," balad Ahsan lagi.


Di saat mereka sedang akan mulai berdebat, bel tanda berakhirnya istirahat pun berbunyi. Kami pun lalu langsung bergegas cepat menuju kelas kami.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2