Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 24 : Penghujung Bulan Juli


__ADS_3

Suara keluh kesah orang yang di bawa oleh angin yang entah berasal dari mana. Entah itu kesepian, depresi, kekecewaan, kegagalan, dan apa pun itu yang bisa membuat air mata keluar dengan rasa sesak di dada.


Setiap orang pasti memiliki masalahnya sendiri-sendiri, yang berbeda adalah cara seseorang itu mengendalikan emosinya dan mencari solusi terbaik untuk secepat mungkin keluar dari masalah itu. Sebagian orang beruntung dikelilingi orang-orang yang selalu mendukungnya apa pun yang terjadi, sebagian yang lain diberkati hati yang lebih kuat karena harus melewati masa sulit seorang diri.


Bahkan jika itu hanyalah sebuah mimpi buruk sekalipun, kalau kita bisa membagi rasa sakit dari mimpi itu kepada orang lain, kita pasti akan merasa lebih baik. Oleh karena itulah manusia sebenarnya akan lebih bahagia bila dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya juga.


Saat ini, aku seperti sedang bermimpi. Aku tidak menyangka aku akan pergi ke tempat yang luar biasa seperti ini bersama Sofia. Bahkan untuk berpikir bahwa aku bisa pergi ke tempat yang luar biasa seperti bersama Sofia saja aku belum bisa membayangkannya. Dan tentu saja, saat ini aku merasa sangat bahagia. Bahkan, aku tidak bisa mengungkapkan rasa bahagiaku ini ke dalam kata-kata. Aku rasa, rasa bahagiaku saat ini berada jauh melebihi kosakata yang ada, atau mungkin aku hanya belum menemukannya saja.


Sejujurnya hal yang paling indah di sini bukanlah langit yang penuh bintang, ataupun kota yang terlihat seperti langit berbintang. Hal yang paling indah di sini adalah senyuman gadis muda di sebelahku saat ini. Untuk beberapa saat, aku berharap bahwa malam ini tidak akan pernah berakhir.


Aku akan selalu mengingat wajahnya malam ini. Wajah yang dipenuhi dengan keindahan, keanggunan, dan kebahagiaan. Hatiku pun saat ini berdebar sangat kencang.


Angin berhembus semakin kencang, suara serangga pun kini terdengar lebih keras. Suara alam yang terdengar saat ini seperti suara nyanyian alami alam semesta.


"Kamu suka Lang?" tiba-tiba suara Sofia yang lembut menyadarkan aku yang tadi sempat "terbang jauh" dalam lamunan.


"Eh suka?" tanyaku keheranan.


"Iya kamu suka pemandangannya?"


"Ah iya tentu saja aku sangat suka hehe," jawabku yang kini tertawa kecil.


"Syukurlah kalau begitu, lain kali kita ke sini lagi yah?"


"Ya, tentu saja."


Tiba-tiba HPku bergetar, ternyata ada panggilan masuk dari ibuku. Aku jadi ingat bahwa aku belum memberitahu ibu bahwa aku sedang pergi ke bukit Bintang.


"Halo Galang?" buka ibuku melalui panggilan.


"Halo bu?" jawabku


"Kamu lagi dimana Lang? Kok belum pulang?"


"Aku lagi di bukit Bintang bu, aku pulangnya mungkin nanti agak malam."


"Oh begitu, ibu khawatir soalnya kamu engga ngasih tau ibu mau pergi."


"Ah iya maaf bu, aku lupa tadi hehe."


"Oh begitu, yasudah hati-hati yah."


"Oh iya bu."

__ADS_1


"Telepon dari ibumu Lang?" tanya Sofia.


"Iya, aku tadi lupa bilang pada ibuku kalau aku mau pergi hehe," jawabku.


"Oh begitu."


"Oh iya sebelum pulang mau cari makan malam dulu gak?" tanyaku.


"Boleh."


Karena waktu sudah menunjukkan pukul 18.50 kami pun bergegas mencari makan malam dulu sebelum pulang. Sofia ingat bahwa di dekat Halte tempat turun kita tadi, terdapat warung makan. Kami pun segera bergegas menuju ke sana.


Setelah sampai, aku memesan ikan lele goreng dan nasi, sementara Sofia memesan ayam goreng. Untuk minuman, kami sama-sama memesan es teh.


***


Pukul 19.30 kami sudah berada di halte untuk menunggu bus. Karena sudah cukup malam, bus yang lewat pun semakin berkurang. Mungkin akan memakan waktu cukup lama hingga bus datang.


"Makasih ya Lang udah mau nemenin aku ke sini," ucap Sofia yang duduk di sampingku.


"Justru aku yang seharusnya bilang makasih ke kamu."


"Hihihi berarti kita sebaiknya bilang makasih satu sama lain yah?" ucap Sofia sambil sedikit tertawa.


"Kamu tahu segitiga musim panas Lang?" tanya Sofia lagi.


"Ya, aku pernah baca sebelumnya, tapi aku belum pernah melihatnya secara langsung sih. Kenapa emangnya?"


"Aku pernah baca kalau di Indonesia walaupun negara tropis, tapi tetap bisa melihat segitiga musim panas. Tepatnya sekitar bulan Juli."


"Oh benarkah? Berarti mungkin sekarang hari terakhir kita bisa mencarinya yah. Besok kan sudah masuk bulan Agustus."


"Mungkin begitu, tapi hingga saat ini pun aku belum bisa menemukannya," ucapnya sambil menatap ke langit.


Aku juga ikut memandang ke langit. Aku memang pernah baca tentang segitiga musim panas, tapi untuk mencarinya secara langsung, ku rasa aku masih belum terbiasa untuk itu.


***


Akhirnya setelah sekitar 15 menit kami menunggu, bus pun datang. Kami pun langsung naik ke bus tersebut. Kali ini, suasana bus juga tidak terlalu ramai. Masih ada cukup banyak kursi yang masih kosong.


Kami lagi-lagi memilih kursi di sisi kanan. Sofia seperti biasa duduk di dekat jendela, sementara aku duduk tepat di samping kirinya.


Suasana jalan pada malam hari terlihat lebih lancar dari pada seperti waktu kami berangkat tadi. Sepertinya kami akan lebih cepat sampai rumah kalau seperti ini.

__ADS_1


***


Di tengah perjalanan, Sofia terlihat sudah tertidur. Ia menyandarkan kepalanya ke kaca jendela di sebelahnya. Ia nampak tidur dengan pulas kali ini.


Aku rasa aku akan membangunkan Sofia ketika sudah hampir sampai saja. Mungkin dia sedikit kelelahan, apalagi dari pagi hari ia sudah membantu ayahnya di warung bakso.


***


Akhirnya kami sudah hampir sampai, kira-kira 10 menit lagi kami akan sampai di halte dekat rumah Sofia. Aku pun berencana untuk membangunkan Sofia sekarang.


"Bangun Sof, kita sudah hampir sampai nih," ucapku sambil menepuk-nepuk bahunya.


"Eh aku ketiduran yah? Aduh maaf yah Lang," ucap Sofia ketika ia membuka matanya dan sadar bahwa dia baru saja tidur.


"Gak papa kok Sof, kenapa minta maaf?"


"Aku tadi tidurnya engga ngelantur kan?" tanyanya cemas.


"Haha engga kok. Kamu tidurnya diem aja."


"Kamu harusnya bangunkan aku lebih awal, aku jadi malu huhuhu."


"Kenapa malu? Kamu kelihatan cape jadi aku engga bangunin kamu tadi sampai benar-benar sudah hampir sampai."


Akhirnya bus berhenti. Kami pun langsung turun dan langsung bergegas menuju rumah Sofia. Beruntung, aku tadi membawa sepeda, jadi aku bisa lebih cepat sampai ke rumah.


Setelah sampai di rumah Sofia, aku langsung mengambil sepedaku dan bersiap-siap untuk langsung pulang.


"Sekali lagi makasih ya Lang, Oiya ini jaketmu," ucap Sofia sambil melepaskan jaket milikku yang sedang ia kenakan.


"Bukan apa-apa kok, aku juga mengucapkan banyak terima kasih ya. Yasudah aku pamit pulang dulu ya. Selamat malam, sampai jumpa besok."


"Selamat malam, hati-hati ya."


"Okee," ucapku sambil mulai mengayuh sepedaku meninggalkan rumah Sofia. Sofia terlihat melambaikan tangannya padaku.


Aku mengayuh sepedaku dengan cukup cepat kali ini. Sesekali aku melihat ke atas untuk melihat langit yang malam ini dipenuhi oleh bintang.


Beberapa jam lagi, bulan Juli akan berakhir dan akan digantikan bulan Agustus. Bulan Juli tahun ini memberikan pengalaman yang sangat luar biasa dan tak terduga. Mulai dari mendapatkan teman, hingga bisa bertemu dengan gadis yang sangat manis dan perhatian seperti Sofia. Bahkan malam ini, aku bisa pergi ke tempat yang luar biasa bersamanya. Ini terasa seperti keajaiban saja.


Aku tidak tahu akan seperti apa bulan Agustus berjalan. Aku harap akan sama baiknya seperti bulan Juli, atau kalau bisa lebih baik lagi. Selamat malam.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2