
"Boleh kok," jawab ibu ku yang kini sedang terlihat sibuk melihat catatan.
"Wah makasih bu, kalau begitu aku pamit pulang ke rumah dulu," ucap ku.
"Iya Lang," balas ibu yang masih terlihat serius menatap buku catatannya.
Aku pun lalu langsung pergi meninggalkan toko bunga dan langsung bergegas menuju rumah. Masih tersisa beberapa jam hingga aku berangkat menuju rumah Ruben.
***
Malam pukul 18.30, aku sudah bersiap-siap untuk berangkat menuju rumah Ruben. Aku membawa selimut dan beberapa makanan ringan untuk cemilan. Mungkin ini pertama kalinya aku menginap di rumah orang lain, jadi aku merasa sedikit deg-degan.
"Kakak mau menginap sampai kapan kak?" tanya Hana polos.
"Cuma malam ini kok hehehe," jawab ku sambil tersenyum.
"Jauh gak kak?" tanyanya lagi.
"Engga kok, rumah temen kakak di sekitar sekolah kakak. Jadi, ga terlalu jauh," jawab ku.
"Oh begitu ya," ucapnya lagi lalu pergi berlari kembali menuju ke kamarnya.
Setelah itu, aku lalu pamit pada ibu ku dan langsung menuju ke tempat Ruben.
"Aku berangkat dulu bu," ucap ku.
"Oh iya Lang, hati-hati," balas ibu ku.
Suasana jalan pada malam hari ini lumayan ramai, mungkin karena besok adalah hari libur nasional. Di kanan kiri jalan banyak terpasang hal-hal yang sangat berbau hari kemerdekaan. Seperti bendera, lampu kerlap-kerlip, cat warna merah putih, sepanduk, dan lain-lain. Penduduk kota terlihat sangat antusias dalam menyambut hari kemerdekaan.
Banyak anak-anak muda juga yang sedang nongkrong di pinggir jalan sambil bertukar cerita dengan temannya, atau hanya sekedar bersenda gurau. Ada juga yang membawa alat musik untuk memeriahkan suasana seperti gitar, alat perkusi, ukulele, angklung, dan lain-lain.
Aku penasaran apakah besok akan ada pawai karnaval atau tidak. Satu hal yang langsung terpikirkan oleh ku ketika mengingat karnaval yaitu Ruben. Ruben pasti akan mengajak ku dan Ahsan untuk menonton karnaval. Hal-hal yang meriah seperti karnaval ini pasti sangat menarik perhatian Ruben yang memang terlihat sangat menyukai suasana ramai.
Jujur saja, aku tidak terlalu suka menonton karnaval. Aku memang beberapa kali diajak ayah untuk menonton karnaval waktu kecil dulu, tapi aku sungguh tidak pernah menikmatinya. Lebih tepatnya, aku tidak tahu cara untuk menikmati karnaval, atau mungkin aku hanya merasa tidak nyaman saja berada di tempat sangat ramai di siang bolong begitu? Entahlah. Mungkin, jika besok ada karnaval dan Ruben mengajak ku, aku akan menolaknya untuk kali ini saja.
__ADS_1
Tak terasa, sebentar lagi aku akan sampai di rumahnya. Hanya tinggal satu belokkan lagi.
Akhirnya aku pun sampai. Sepertinya, Ahsan juga sudah sampai, terlihat dari sepatunya yang berada di luar.
Aku pun lalu mengetok pintu sambil memanggil-manggil nama Ruben. Baru dua kali ketokan dan satu kali panggilan, Ruben sudah menjawab dan langsung membukakan pintu.
"Wah kau kalah sama Ahsan, Ahsan sudah dari tadi loh sampai sini," ucap Ruben saat baru membuka pintu.
"Ah maaf, tadi aku agak sedikit melamun di jalan," ucap ku.
"Hahaha sudah tidak apa-apa, jangan terlalu dianggap serius," ucap Ruben
"Oke, oiya ini aku bawa beberapa cemilan," ucap ku sambil mengambil beberapa cemilan yang aku masukkan ke dalam tas.
"Wah meskipun kau lebih lambat dari Ahsan, tapi kau lebih berguna Lang. Terima kasih Lang hahahaha," ucap nya sambil meledek Ahsan.
"Haaa? Apa-apaan tuch?" ucap Ahsan dengan logat khasnya.
"Oke karena semuanya sudah kumpul, ayo pertama-tama kita makan malam dulu sebelum bertempur sepanjang malam," ucap Ruben.
"Ngomong-ngomong kau sudah masak Ben?" tanya Ahsan.
"Wah berarti masakannya udah dingin dong?" protes Ahsan.
"Ya tentu saja," ucap Ruben dengan santai.
"Ya ampunnnn, hadeuh hadeuh," Ahsan menghela nafasnya.
"Tenang, tenang saja. Aku sudah tahu kau bakalan bereaksi seperti itu. Makanya aku sudah menyiapkan hal yang tidak akan membuat mu kecewa," ucap Ruben.
"Haaa? Apa tuch?" tanya Ahsan dengan logat khasnya.
"Meskipun masakannya sudah dingin, tapi nasinya ku pastikan masih hangat. Jadi, tenang saja hahahaha," ucap Ruben dengan bangga.
"Aku menyesal menanyakan hal itu pada mu," ucap Ahsan lemas.
__ADS_1
"Haa? Kenapa kau jadi lemas begitu?" tanya Ruben polos.
"Sudah lah lupakan, terserah kau saja lah," ucap Ahsan.
Kami pun sampai di meja makan. Ruben lalu segera membuka penutup makanan yang dari tadi berdiam sendiri di atas meja makan. Setelah Ruben membukanya, ternyata menu makan malam hari ini adalah lele goreng asam manis.
Lalu kami pun langsung duduk menghadap meja makan yang memiliki 4 sisi tersebut. Kami lalu langsung mengambil nasi nan menu lele goreng asam manis tersebut.
Seperti yang sudah aku duga, rasa masakan ini sangatlah enak. Meskipun lelenya sudah tidak hangat, akan tetapi nasi yang masih hangat bisa membuat rasanya menjadi lebih mantap lagi. Saosnya pun sangat terasa pas baik rasa asamnya maupun manisnya.
***
Setelah selesai menyantap makan malam, aku dan Ahsan langsung kembali lagi ke ruang tamu sementara Ruben mencuci piring bekas makan malam tadi. Sebenarnya aku dan Ahsan telah menawarkan bantuan untuk membantunya mencuci, akan tetapi ia menolaknya.
"Eh ini udah ada pengumuman dari kak Jo di grup ekstrakulikuler Sepak Boal," ucap Ahsan sambil melihat ke layar ponselnya.
"Benarkah? Apa isinya?" tanya ku yang sedang tidak memegang ponsel.
"Katanya besok latihan pukul 15.30 di lapangan sekolah seperti biasa," ucap Ahsan yang masih melihat ke layar ponselnya.
"Oh oke," balas ku singkat.
"Oiya ngomong-ngomong kau tadi semangat sekali ketika di tanya sama kak Jo waktu di kantin. Apakah kau sudah mulai tertarik pada Sepak Bola Lang?" tanya Ahsan.
"Setelah aku baca buku tentang Sepak Bola, berita, dan juga menonton beberapa pertandingan Sepak Bola di TV, entah kenapa aku jadi tertarik pada Sepak Bola. Mungkin tidak hanya tertarik, tetapi lebih tepatnya adalah sangat tertarik," jelas ku.
"Wah keren hahahaha. Berarti kau akan mengikuti ekstrakulikuler ini dengan sungguh-sungguh?" tanya Ahsan lagi.
"Ya tentu saja. Aku bahkan berharap bisa terpilih mewakili sekolah untuk perlombaan mendatang," ucap ku dengan yakin.
"Hahaha kalau kau semangat seperti itu, aku juga tidak boleh kalah semangat nih," Ahsan tertawa.
Setelah itu, Ruben datang dan langsung mengajak kami untuk bermain game sepak bola. Seperti yang terdahulu, kami memainkan game dengan sistem liga. Kami pun membuat taruhan, yaitu yang kalah atau peringkat ke-3 akan memasak sarapan besok pagi.
Ruben kali ini memilih Chelsea, Ahsan memilih Manchester City, sementara aku memilih menggunakan Liverpool. Sebentar lagi, kami pun akan memulai pertandingan pertama yang mempertemukan aku dan Ahsan.
__ADS_1
***
Bersambung