Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 67 : Uban


__ADS_3

Rabu 24 Agustus, pukul 16.00, seperti biasa kami anak-anak ekstrakulikuler Sepak Bola melakukan latian Rutin. Kami pun sudah bersiap-siap untuk melakukan pemanasan seperti biasa. Kali ini kami langsung menjadi satu kelompok untuk melakukan pemanasan. Yang memimpin pemanasan hari ini adalah kak Jo, sang kapten tim.


Setelah selesai melakukan pemanasan, kami pun lalu membentuk kelompok susuai posisi kami masing-masing agar latian bisa lebih bersifat khusus. Yang menjadi ketua kelompok pemain tengah, tentu saja adalah kak Jo. Sementara untuk ketua kelompok pemain depan adalah kak Taufik dari kelas 11.


Ketua kelompok untuk pemain belakang adalah pak Bimo sendiri, karena posisi pak Bimo dulu juga sebagai pemain belakang. Sedangkan ketua kelompok untuk posisi kiper adalah kak Seto dari kelas 12.


***


Setelah selesai melakukan latihan sesuai posisi, kini giliran latihan latih tanding. Pak Bimo dibantu oleh masing-masing ketua kelompok mulai membagi semua anggota ekstrakulikuler Sepak Bola menjadi 6 tim. Masing-masing tim tentu akan berisi pemain senior dan junior secara merata, sehingga latihan akan menjadi semakin efektif.


Dari 6 tim yang telah dibagi tersebut, akan menjadi 3 pertandingan. Masing-masing pertandingan, hanya akan diberi waktu selama 13 menit saja.


Aku, Ahsan, Ruben, Aji, dan Renaldi masuk ke dalam tim yang berbeda-beda. Kali ini, aku menjadi satu tim bersama kak Taufik. Aku sangat antusias untuk dapat bermain bersama para pemain senior.


***


Setelah ketiga pertandingan selesai, kami pun langsung beristirahat sambil mendengarkan arahan dari pak Bimo. Di pertandingan tadi, aku hanya bermain sebagai pemain pengganti dan hanya bermain sekitar 3 menit saja. Meskipun begitu, aku sangat senang bisa bermain dengan para kakak kelas dan teman satu angkatan ku yang lainnya.


Dari pertandingan tadi, aku memperoleh banyak hal sebagai bahan evaluasi dan pembelajaran untuk permainan ku kedepannya. Mulai dari operan, menahan bola, memotong bola, menjaga lawan, dan lain-lainnya. Tentu saja aku sangat senang bisa bermain satu lapangan dan satu tim bersama dengan penyerang nomer 1 di sekolah ini yaitu kak Taufik.

__ADS_1


Selanjutnya pak Bimo menerangkan bahwa dalam beberapa pekan kedepan, sekolah kita akan melakukan uji coba latih tanding dengan sekolah lain. Kami pun di suruh untuk mempersiapkan diri kami sebaik mungkin agar bisa menampilkan penampilan yang maksimal nantinya. Walaupun itu hanyalah laga uji coba, tapi kami tetap disuruh untuk fokus dan menganggap seolah-olah pertandingan nanti adalah pertandingan resmi.


Setelah pak Bimo selesai mengatakan penjelasannya, kami pun lalu mengakhiri kegiatan ekstrakulikuler pada hari ini. Kami pun lalu perlahan-lahan pergi meninggalkan lapangan. Saat aku sedang berjalan ke arah pinggir lapangan, aku melihat Sofia sedang duduk sendirian di kursi yang terletak persis di samping lapangan. Aku tidak tahu sejak kapan ia duduk di sana. Aku terlalu fokus untuk mengamati permainan di lapangan sampai-sampai tidak menyadari kehadirannya.


Sofia yang menyadari kehadiran ku, lalu melambai-lambaikan tangannya sambil tersenyum. Seperti biasa, senyumannya selalu terlihat manis. Aku pun membalas lambaian tangannya itu. Entah kenapa, untuk sesaat aku merasa sangat gembira.


Sesaat setelah itu, tiba-tiba saja kak Jo datang menghampiri Sofia. Rasa senang yang baru aku rasakan beberapa detik itu pun langsung lenyap begitu saja. Bagaikan tulisan di atas pasir yang tersapu oleh ombak, hilang tak berbekas.


Aku pun lalu langsung berjalan agak cepat menuju tas ku dan langsung buru-buru mengganti sepatuku. Setelah itu, aku langsung pergi meninggalkan area lapangan untuk segera pulang menuju ke rumah. Entah kenapa aku sekarang merasa sangat kesal, sampai-sampai aku tidak ingat lagi pada Ahsan dan Ruben dan langsung meninggalkan mereka berdua tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


***


Aku tidak memanggilnya atau apa, aku hanya memandanginya saja dari kejauhan. Entah kenapa aku sangat suka sekali memandangi seorang perempuan yang sedang membaca buku atau apa pun dengan serius. Menurut ku, perempuan yang sedang membaca buku itu terlihat cantik dan elegan.


Aku rasa Cindy tidak menyadari kehadiran ku. Aku pun lalu terus berjalan melewati toko buku itu.


***


Sesampainya di rumah, aku lalu langsung mandi. Seperti biasa, saat ini rumah masih dalam keadaan kosong karena saat ini masih sekitar pukul 17.45, jadi ibu dan Hana masih berada di toko bunga.

__ADS_1


Setelah mandi, aku lalu langsung duduk di depan tv. Rasanya sudah sangat lama sekali sejak terakhir aku menonton televisi. Aku pun lalu menyalakan tv dan melihat apakah ada acara yang menarik atau tidak di tv sekarang ini.


Aku pun dengan cepat mengganti dari satu channel ke channel lainnya. Aku tidak menemukan satu pun acara yang menarik sekarang ini. Aku pun lalu kembali mematikan tv yang memang jarang digunakan tersebut.


Untuk beberapa saat setelah mematikan televisi, aku masih terus duduk di depan televisi tanpa melakukan apa-apa. Entah kenapa aku masih merasakan sedikit kesal saat melihat kak Jo menghampiri Sofia tadi.


***


Setelah selesai makan malam, aku pun lalu membantu ibu untuk mencuci piring kotor. Saat ini, aku diam-diam melihat ke arah wajah ibu yang tampak lelah. Kini, satu, dua uban sudah terlihat menggantikan warna hitam di rambut ibu. Jika aku bisa, aku ingin menggantikan uban yang tumbuh di rambut ibu itu dengan rambut ku. Sebagian hati kecil ku merasa sangat tersentuh ketika menyadari kalau ibu sudah semakin tua dan harus membesarkan aku dan Hana sendirian.


Setelah selesai membantu ibu, aku pun kembali ke lantai dua. Aku tidak langsung menuju ke kamar ku, melainkan duduk sebentar di balkon. Malam ini, entah kenapa aku merasa begitu gelisah.


Aku merasa begitu gelisah saat menyadari bahwa ibu ku sudah semakin tua. Rasanya, aku ingin sekali segera bisa bekerja dan mendapatkan banyak uang sehingga ibu tidak perlu lagi sekuat tenaga mengurusi toko bunganya. Aku ingin ibu istirahat saja di rumah sambil bersantai. Namun, aku sadar itu hanya angan-angan ku saja.


Aku penasaran, kira-kira jika ayah masih hidup, apa yang akan ayah lakukan pada dua helai rambut ibu yang telah berubah menjadi uban itu ya? Apakah ayah akan mencabutnya? Atau ayah akan mengecatnya? Atau mungkin ayah juga hanya akan membiarkan rambut uban itu berada di antara rambut hitam milik ibu? Entahlah, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan ayah lakukan terhadap uban milik ibu itu. Namun, aku masih bisa membayangkan kalau jika ayah masih hidup, pasti ayah akan selalu menyayangi ibu apa pun yang terjadi.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2