Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 187 : Rekor Baru


__ADS_3

Sepertinya aku katakan tadi, malam ini di saat bulan purnama tengah bersinar, entah kenapa perasaan ku dipenuhi oleh emosi-emosi yang mungkin selama ini telah menumpuk dan pada malam ini seperti memaksa untuk keluar. Saat ini, aku sudah di meja belajar ku dan tengah bersiap-siap untuk mulai menulis sebuah sajak. Sepertinya untuk saat ini, sajak adalah satu-satunya jalan agar semua emosi yang telah menumpuk ini keluar satu per satu.


Malam ini, tepat di bawah bulan purnama,


Aku tiba-tiba saja mengingat hari yang telah berlalu selama lebih dari 7 tahun yang lalu


Aku masih ingat, hari dimana aku melihat senyuman mu untuk yang terakhir kalinya, sebelum menghilang untuk selama-lamanya.


Aku masih ingat dengan jelas suara tawa mu pada malam itu.


Malam yang dipenuhi oleh kebahagiaan.


Namun, kenapa cuma malam itu?


Kenapa cuma malam itu kau tersenyum dengan begitu lepas?


Apakah karena kau sudah tahu kalau itu adalah malam terakhir mu di dunia yang penuh dengan kepalsuan dan sandiwara ini?


Jika benar begitu, tentu saja itu sangat tidak adil.


Kau pergi dengan tawa terkahir mu,


Sedangkan aku harus melepas mu dengan tangisan yang mendalam.


Aku tidak tahu seberapa dalam tangisan ku itu,


Atau mungkin, bukannya aku tidak tahu seberapa dalam tangisan ku itu,


Hanya saja, tangisan ku itu memang tak pernah memiliki dasar.


Semoga sajak ini bisa menyentuh ke tempat dimana kau berada saat ini Ayah,


Aku tahu ini akan sampai kepada mu


Karena aku tahu, kau saat ini sedang mengawasi ku dari jarak yang sangat dekat kan?

__ADS_1


Selepas selesai menulis sajak tersebut, kini perasaan ku menjadi sangat lega. Aku tahu itu bukanlah sajak yang bagus atau yang pantas untuk dipuji. Namun, aku juga tahu. Sajak itu juga tidaklah terlalu buruk jika dibaca oleh ayah ku dari atas sana kan?


***


Hari ini, Jumat 12 Oktober, hari dimana hasil UTS akan dipajang di papan pengumuman setiap kelas. Tentu saja ada yang menantikan hal-hal seperti itu, ada juga yang tidak peduli.


Pagi ini, langit tampak sudah mendung. Suara gemuruh pun sesekali terdengar menghiasi kelabunya langit pada pagi hari ini.


"Bu, aku berangkat dulu yah," ucap ku yang lalu langsung pergi meninggalkan rumah.


"Iya Lang, hati-hati," jawab ibu ku.


Karena mendung terlihat semakin menjadi-jadi, maka aku mempercepat langkah kaki ku agar segera bisa sampai di sekolah. Aku tidak mau kalau sampai aku terkena hujan sebelum aku sampai di sekolah. Entah kenapa hal itu sangat lah merepotkan.


***


Sesampainya di sekolah, suasana kelas masih sepi. Ini karena memang aku berangkat lebih pagi dan juga melangkah dengan lebih cepat. Alhasil, aku sampai di sini juga dengan lebih awal.


Terlihat baru sekitar 10an anak saja yang baru datang. Salah satunya adalah Cindy. Cindy memang terkenal sebagai orang yang selalu berangkat awal setiap harinya. Aku lalu mulai berjalan ke arah kursi dan meja ku.


Di saat aku sudah duduk, aku lalu langsung ingat bahwa aku masih punya hutang pada Cindy semalam. Aku pun lalu langsung mengambil uang dari dalam tas ku dan menyerahkannya pada Cindy.


"Eh oh iya Lang... Sama-sama hehehe," jawab Cindy yang juga ikut tersenyum. Setelah itu, aku pun kembali ke tempat duduk ku yang tepat berada di sebelah kiri Cindy.


Saat aku melihat papan pengumuman tadi, belum ada sesuatu yang tertempel di sana. Sepertinya, hasil UTS tersebut baru akan ditempel ketika jam istirahat pertama atau kedua, atau mungkin juga bisa sewaktu pulang nanti. Entahlah.


***


Sebentar lagi, istirahat pertama kan segera tiba. Saat ini pak Etwar (guru Bahasa Inggris) yang terkenal dengan sifat humorisnya itu terlihat sudah bersiap-siap. Dari semua guru yang mengajar di kelas ku, cuma pak Etwar yang selalu sudah bersiap-siap untuk menyelesaikan jam pelajarannya semenjak 10 menit menjelang bel berbunyi.


"Oi lihat tuh, ada guru yang datang ke papan pengumuman. Wah sepertinya itu kertas hasil UTS deh," ucap salah satu siswa di kelas kami.


Sontak saja hal itu membuat suasana kelas yang tadinya hening menjadi sedikit ribut dan heboh. Pak Etwar pun tampak memaklumi hal tersebut dan malah mempersilahkan kami untuk mulai beristirahat dari sekarang bahkan bahkan sebelum bel istirahat berbunyi. Sontak saja hal tersebut tambah menambah suasana kelas menjadi semakin riuh.


Setelah mempersilahkan kami untuk mulai beristirahat, pak Etwar pun langsung meninggalkan ruang kelas ini tanpa mengatakan sepatah kata lagi. Berbarengan dengan pak Etwar yang keluar dari ruangan kelas, kami para siswa pun ikut keluar untuk mulai melihat papan pengumuman yang barusan ditempel kertas yang diduga hasil UTS kemaren. Terlihat beberapa dari siswa kelas kami sampai berlarian menuju ke sana.

__ADS_1


"Oi Ben, kau tidak ikut berlarian seperti mereka untuk melihat hasil UTS?" ucap Ahsan pada Ruben.


"Hahaha untuk apa melakukan hal seperti itu? Mereka itukan berlarian seperti itu karena antusias untuk mengetahui hasil UTS, nah kan aku udah tahu, ngapain liat pengumuman lagi hahaha," ucap Ruben dengan tertawa yang cukup lebar.


"Wah keren kali udah tahu hasilnya," timpal Ahsan.


"Haha kau juga kan udah," timpal Ruben balik.


"Oi Lang, ngomong-ngomong kau tidak melihat hasil UTS mu?" tanya Ruben.


"Aku nanti sajalah, nunggu sepi," jawab ku


"Oh begitu yah," jawab Ruben.


***


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya papan pengumumannya terlihat sepi. Aku pun lalu mulai berjalan menuju ke papan pengumuman tersebut.


Saat aku sudah sampai di depan papan tulis, tiba-tiba saja ada orang yang berlari menuju ke mari. Saat aku menengok, ternyata yang berlari itu adalah Ruben dan Ahsan.


"Gimana Lang hasil UTS mu?" tanya Ruben sesampainya di sini.


"Ini baru aja aku mau lihat. Ngomong-ngomong kalian dari mana? Dari kantin?" ucap ku.


"Yap benar sekali, kami habis dari kantin. Ya sudah ayo kita lihat bareng-bareng aja," ucap Ruben.


Saat aku mulai melihat hasil UTS ku, aku sedikit terkejut. Ternyata tidak ada satupun dari 15 mata pelajaran yang nilainya dibawah KKM. Itu berarti aku tidak harus mengulang atau mengerjakan tugas untuk memperbaiki nilai UTS kemaren.


"Hahahahaha," tiba-tiba Ruben tertawa dengan begitu keras.


"Oi kenapa kau?" tanya Ahsan.


"Wahh ini sih rekor baru San. Lihat nih kau dapat nilai 0 hahaha," ucap Ruben sambil menunjukkan salah satu nilai Ahsan yang mendapatkan nilai 0.


"Pfttttttt hahahahaha kau juga lihat nilai mu tuh. Yang dapat 0 malah ada 2 hahahaha," suara tawa Ahsan terdengar lebih keras dari suara tawa Ruben barusan.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2