Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 211 : Bertemu Sesosok Familiar


__ADS_3

Kakek itu terlihat sudah selesai membuat satu rokok linting yang siap untuk digunakan. Tak lama berselang, ia pun terlihat menyalakan rokok yang baru saja ia buat itu menggunakan korek api batangan. Terlihat beberapa kali ia gagal karena korek api batang yang ia gunakan mati terlebih dahulu sebelum berhasil menyalakan rokok tersebut. Akhirnya setelah beberapa kali gagal, kakek itu pun kini terlihat sudah berhasil menyalakan rokoknya itu.


Bau khas bahan-bahan rokok linting langsung tercium dengan cukup pekat. Asap yang keluar dari dalam mulut dan hidung kakek pun terlihat begitu banyak dan pekat. Dilihat dari caranya dan juga bahan-bahan tadi yang banyak, sepertinya kakek ini adalah seorang perokok berat.


"Maaf yah, kakek merokok dulu. Kalau kakek tidak merokok, rasanya seperti ada yang kurang," ucap kakek setelah menghembuskan satu kali asap rokok barusan.


"Oh iya gak papa kek," jawab ku yang kini mulai memandangi pemandangan sekitar area pemakaman yang mana terlihat begitu hijau. Rumput yang mana menutupi hampir semua tanah terlihat begitu menyejukkan mata dan juga mengurangi suasana yang mencekam khas area perkuburan.


"Ngomong-ngomong kamu besok setelah lulus SMA mau nerusin kemana? Mencari uang atau mengambil kuliah?" tanya kakek itu dengan mulut yang mengeluarkan asap itu.


"Mmm masih belum tau sih kek. Tapi sepertinya sih aku mau meneruskan kuliah tapi juga aku masih belum mau memutuskan mau ambil jurusan apa," jawab ku.


"Hahahaha sepertinya masalah setiap remaja SMA itu hampir semuanya sama yah. Kakek jadi teringat dulu waktu masih seusia mu dulu juga merasa begitu bimbang mau memilih jurusan apa hahahaha," ucap kakek itu dengan diakhiri tertawa.


"Eh kakek dulu juga meneruskan masuk kuliah?" tanya ku yang mana cukup terkejut.


"Hahaha pasti itu mengejutkan mu yah? Iya kakek dulu sempat menyelesaikan pendidikan S-1 jurusan Psikologi. Namun, setelah beberapa tahun bekerja di salah satu perusahan yang mana malah membuat hidup kakek merasa begitu jauh dari kata bahagia, kakek lalu berpikir dan merenung. Pada akhirnya, kakek lebih memilih meninggalkan dunia yang bingar bingar itu dan lebih memilih untuk menjadi petugas kebersihan makam seperti ini yang mana membuat kakek merasa begitu tentram dan nyaman. Jauh dari masalah dunia yang sangat membodohi manusia itu hahaha," jawab kakek itu yang mana semakin membuat ku merasa terkejut. Ternyata kakek ini adalah seorang lulusan Sarjana Psikologi.


"Eh kenapa kakek lebih memilih menjadi petugas kebersihan dari pada bekerja di perusahaan itu?" tanya ku lagi.


"Seperti yang sudah kakek katakan tadi. Orang yang berpenghasilan 15 juta, belum tentu merasa lebih bahagia dari pada orang yang berpenghasilan 5 juta atau lebih rendah dari itu. Bisa jadi, mereka yang berpenghasilan lebih tinggi itu merasa begitu tertekan hingga melupakan poin penting dari sebuah pekerjaan, yaitu rasa bahagia. Selama beberapa tahun itu saat masih bekerja di perusahaan, kakek merasa tidak mendapatkan kebahagiaan yang mana selalu kakek cari. Pada akhirnya, kakek dengan begitu berat dan begitu sulit membuat keputusan untuk keluar dan lebih memilih mencari pekerjaan yang benar-benar bisa membuat hidup kakek merasa tentram dan bahagia. Sejak saat itu, kakek pun menjadi petugas kebersihan," jawab kakek itu.

__ADS_1


Lagi-lagi, ucapan kakek itu membuat ku tertegun dan tidak mampu berkata apa-apa. Aku pun sekarang tidak tahu lagi mau berkata apa.


"Hahahaha terima kasih anak muda. Berkat mu, kakek jadi merasa seperti kembali ke masa-masa itu. Masa-masa dimana kakek masih begitu banyak memiliki cita-cita di dunia ini hahaha. Ngomong-ngomong siapa nama mu?" tanya kakek itu lagi.


"Galang kek," jawab ku.


"Oo Galang yah. Nama yang memang terlihat cocok dengan rupa dan kepribadian mu hahaha. Oiya, kakek hampir lupa. Nama kakek adalah Hasan. Semoga setelah pertemuan ini kita masih bisa saling mengenal yah hahahaha," ucap kakek itu dengan suara tawa yang cukup keras. Saat ini, rokok yang tadi ia buat itu hanya tinggal seperempat saja.


Tak terasa langit sudah semakin redup. Nyala matahari sudah tidak secerah saat aku pertama kali sampai di sini tadi. Aku lalu melihat ponsel ku untuk mengecek waktu sekarang ini. Ternyata, saat ini waktu sudah memasuki pukul 17.00. Aku pun tak sadar sudah menghabiskan cukup banyak waktu di pemakaman ini. Mungkin karena aku berbincang dengan kakek itu yah.


"Permisi kek, karena sudah sore, aku mau pamit dulu yah," ucap ku yang langsung bangkit dari posisi duduk ku.


"Iya kek, kalau begitu sampai jumpa lagi," ucap ku yang mana langsung pergi meninggalkan makam ayah dan kakek itu.


***


Di saat aku sedang melewati pintu masuk/keluar makam, aku tiba-tiba saja melihat sesosok yang mana familiar. Sosok itu terlihat juga sedang berjalan menuju keluar area pemakaman. Dengan kata lain saat ini aku sedang melihat sosok itu dari belakang. Kami sama-sama sedang berjalan keluar area pemakaman. Mungkin sosok itu berada sekitar 15 meter di depan ku.


Sosok familiar yang aku maksud adalah si anak baru, yaitu Alex. Sama seperti ku, ia masih terlihat mengenakan seragam dan juga menggendong tasnya saat ini. Aku pun lalu mencoba untuk menyusulnya sehingga langkah ku pun saat ini semakin cepat.


Setelah posisi ku sudah hampir sejajar, aku pun lalu langsung menepuk bahu sebelah kanannya.

__ADS_1


Puk. Aku menepuk bahu sebelah kanannya itu. Ia pun lalu langsung berhenti dan menoleh ke arah ku.


"Haaa?? Kkkaauuu? Kenaapa kau ada di tempat seperti ini?" ucapnya dengan ekspresi yang sangat terkejut. Bicaranya pun terdengar begitu terbata-bata.


"Aku habis mengunjungi makam ayah ku, kau sendiri sedang apa berada di tempat seperti ini?" tanya ku balik.


"Haaa ayah mu? Berarti ayah mu sudah meninggal? Maaf aku tidak tahu," ucapnya.


"Iya gak papa. Ngomong-ngomong kau masih belum menjawab pertanyaan ku, kau sendiri habis ngapain berada di sini?" tanya ku lagi.


Alex tampak diam dan sepertinya ia belum mau akan menjawab.


"Oi kenapa malah diam?" tanya ku lagi.


"Berisik kau, aku sedang buru-buru," ucapnya yang mana lalu langsung pergi meninggalkan ku tanpa sempat menjawab pertanyaan ku tadi. Aku pun saat ini masih bertanya-tanya kira-kira siapakah makam yang habis ia kunjungi?


Baru sesaat ia pergi meninggalkan ku, ia kini sudah tidak terlihat lagi. Ia berjalan dengan begitu cepat. Aku pun lalu langsung melanjutkan kembali perjalanan ku. Untuk saat ini, aku akan langsung menuju ke halte.


***


Bersambug

__ADS_1


__ADS_2