
"Sudah-sudah jangan berdebat terus, jadi siapa nih yang mau menemani ku membeli makanan?" tanya Aji.
"Dengan ku aja gak papa," ucap Renaldi datar.
"Ehhh? Wah Renaldi masih bisa ngomong yah ternyata," ucap Ruben.
"Tentu saja masih lah. Memangnya kau yang sudah gak punya otak," ucap Ahsan.
"Kau itu tuh yang udah ga punya otak," balas Ruben lagi.
"Hahaha sudah-sudah. Kasian tuh Galang. Dia kan juga masih butuh istirahat," ucap Aji.
Setelah itu, Aji dan Renaldi pun pergi untuk segera membeli makanan. Sejujurnya, aku sangat senang mempunyai teman-teman seperti mereka ini. Entah kenapa aku merasa hubungan kami menjadi semakin erat. Mengetahui orang lain membutuhkan diri mu, ternyata rasanya sebahagia ini.
***
5 menit telah berlalu sejak Aji dan Renaldi pergi. Saat ini, suasana begitu hening. Cindy terlihat sedang membaca buku di sebelah kanan sambil duduk. Sementara Ahsan dan Ruben terlihat sedang duduk di luar ruangan. Aku sendiri tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan di luar sana.
Cindy saat ini terlihat begitu serius membaca buku pelajaran itu. Sepertinya dia adalah tipe-tipe murid yang rajin dan selalu mendapatkan juara kelas. Aku yakin itu. Aku bisa melihat semuanya dari cara ia membaca.
Tanpa sadar, aku memperhatikan wajah lelah Cindy terus-menerus. Di bawah sinar lampu UKS yang cukup terang ini, wajahnya terlihat sangat cerah walaupun memang tampak sedikit lelah.
Jika dilihat dari samping seperti ini, hidung Cindy terlihat mancung juga. Entah kenapa aku jadi ingin memegang pucuk hidung itu, walau cuma sebentar.
Saat ini, suara yang terdengar di ruangan ini hanyalah suara detakkan jarum jam saja. Sementara itu, suara Ahsan dan Ruben yang tadi masih terdengar walau samar berada di depan UKS, kini telah menghilang entah kemana.
"Cin?" ucap ku pelan.
"Iya Lang?" jawab Cindy yang langsung menutup buku yang sedang ia baca sembari memalingkan wajahnya ke arah ku.
"Lagi belajar apa?" tanya ku.
"Oh ini... Lagi belajar Biologi. Materinya banyak banget jadi aku sambil baca-baca sekarang. Kamu udah baikan sekarang?" tanya nya.
"Wah biologi yah... Maaf yah padahal materinya banyak banget tapi kamu malah di sini. Sekali lagi maaf yah, aku jadi gak enak," ucap ku. Aku udah baikan kok. Nanti setelah makan sepertinya aku udah bisa berdiri dan berjalan," jawab ku.
__ADS_1
"Gak ngerepoti kok Lang. Lain kali jangan terlalu memaksakan diri yah?" ucap Cindy dengan lembut.
"Iya hehe..." balas ku.
Tak lama berselang, Ahsan dan Ruben kembali ke dalam ruangan. Mereka terlihat habis berlari dan entah kenapa muka mereka terlihat begitu ketakutan.
"Ga gg ga gawat Lang, Cin," ucap Ruben saat baru saja sampai.
"Gawat kenapa?" tanya ku yang juga jadi ikut penasaran.
"Po ppppo pol pokoknya gawat," timpal Ahsan.
"Iya gawat kenapa emangnya?" tanya ku yang jadi semakin penasaran. Jarang sekali melihat Ahsan dan Ruben memakai ekspresi yang sama. Apalagi sama-sama ekspresi ketakutan seperti sekarang ini.
"Tadi, saat aku berjalan di parkiran sepeda, tiba-tiba saja aku melihat sesosok yang dari atas ke bawah bewarna putih," ucap Ruben dengan sedikit gemetaran.
"Ha? Apa maksud mu?" tanya ku lagi memastikan.
"Maksud ku, sepertinya aku baru saja melihat hantu," jawab Ruben.
"Iya aku sangat yakin. Selain aku yang melihatnya, Ahsan juga melihatnya. Benarkan San?" tanya Ruben.
"Iya, bener itu. Aku juga melihatnya Lang," jawab Ahsan yang jarang-jarang satu pandangan dengan Ruben. Apakah benar yang mereka lihat itu hantu? Aku sendiri sebenarnya tak mempercayai hantu itu sendiri.
"Kalau memang yang kalian lihat itu hantu, ya sudah. Mau gimana lagi. Yang terpenting kan kalian tidak apa-apa," ucap ku.
"Tapi kau gak takut Lang?" ucap Ruben.
"Engga, aku tidak takut. Sejujurnya, selama aku belum melihat hantu dengan mata kepala ku sendiri, aku belum mempercayainya," jawab ku.
Sementara itu, Cindy yang tadi duduk di samping pun terlihat tenang-tenang saja. Ia terlihat sama sekali tidak terpengaruh dengan cerita yang tadi Ruben dan Ahsan katakan.
"Kalau kamu Cin, bagaimana? Kamu percaya hantu?" tanah Ruben.
"Mmm entahlah, antara percaya dan engga percaya sih," jawab Cindy.
__ADS_1
Tak lama berselang, Aji dan Renaldi kembali. Tentu saja dengan makanan yang sudah melekat di tangan kanan dan kiri mereka.
"Wah ada apa ini, kenapa kelihatannya sedang tegang banget begini?" tanya Aji.
"Begini Ji, tadi aku dan Ahsan sepertinya habis melihat hantu," ucap Ruben.
"Haaa? Hantuu? Dimana?" ucap Aji dengan ekspresi yang sangat terkejut dan heboh.
"Di parkiran sepeda sana Ji, kami berdua melihat sesosok yang dari atas ke bawah bewarna putih," jelas Ruben.
"Kalian yakin kalau yang kalian lihat itu hantu?" tanya Aji.
"Iya, tentu saja. Entah kenapa aku juga langsung merasa mual saat itu. Terus, aku dan Ahsan langsung berlari sekuat tenaga menuju ke mari," ucap Ruben.
"Waduh ngeri juga yah... Ya sudah lah... Mending kita sekarang makan aja dulu. Udah ga usah bahas-bahas hantu lagi," ucap Aji yang entah kenapa terlihat begitu cemas. Mungkinkah Aji itu orang yang percaya dan takut dengan hantu? Entahlah.
Kami pun lalu mulai memakan makanan yang baru saja Aji dan Renaldi beli itu. Nasinya benar-benar masih hangat. Rasanya pun jadi lebih enak. Ditambah lagi, kami memakannya secara bersama-sama seperti ini, yang mana membuat rasa makanannya menjadi lebih enak lagi. Entah kenapa ketika makan bersama seperti ini, aku jadi teringat dengan perkataan Sofia saat pertama kali aku bertemu dengannya.
Saat itu aku ingat sekali kalau aku sedang duduk makan bakso sendirian. Tiba-tiba saja Sofia yang waktu itu belum aku kenal langsung mengatakan bahwa makan bersama itu jauh lebih enak dari pada makan seorang diri. Dia pun langsung memesan bakso dan duduk di samping ku untuk membuktikan perkataanya itu. Kalau diingat-ingat lagi, aku terkadang tidak habis pikir dengan yang dilakukan oleh Sofia. Apalagi, setelah itu ia benar-benar mengantarkan ku pulang menggunakan sepedanya.
***
"Wahhh enaknya. Ini kau beli dimana ji?" tanya Ruben.
"Itu, di warung Deket halte bus itu. Di sana memang sedang naik daun," ucap Aji.
"Haaa naik daun? Maksudnya?" tanya Ruben yang tampak tidak mengerti.
"Naik daun itu artinya ya naik daun. Jadi mereka jualan sambil naik di atas daun," timpal Ahsan.
"Yang bener? Wah aku kok belum pernah lihat yah... Sekarang masih naik daun Ji?" tanya Ruben antusias.
"Hahaha maksudnya naik daun itu lagi terkenal, bukannya beneran naik di atas daun," jawab Aji.
***
__ADS_1
Bersambung.