Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 22 : Menuju Bukit Bintang


__ADS_3

"Lang? Kenapa diam saja?" ucap Sofia lagi.


"Eh maaf, gak papa," jawabku sambil menarik mangkok berisi bakso itu mendekat.


"Yasudah, aku kembali ke belakang dulu ya," ucap Sofia.


"Oh iya," jawabku singkat. Setelah benar-benar bertemu dengan Sofia, aku benar-benar tidak tahu harus berbicara apa. Tapi rasanya, aku ingin sekali mengobrol dengannya saat ini. Aku melihat punggung dan rambutnya yang ia ikat itu, saat ia sedang berjalan kembali ke belakang.


Setelah Sofia menghilang di balik tirai yang memisahkan ruang depan dengan belakang warung, aku mulai memasukkan kecap, sambal, dan cuka. Jika aku harus disuruh memilih diantara ketiganya itu, aku sudah pasti akan memilih cuka. Aku sangat suka rasa asam dari makanan yang dikasih cuka. Terutama makanan yang berkuah dan panas. Itu bisa membuatku melupakan masalah yang aku punya untuk beberapa saat.


Saat aku akan mulai menyantap bakso yang baru saja aku aduk itu, tiba-tiba saja Sofia kembali ke sini, dan duduk di hadapanku sambil membawa semangkuk bakso dan satu gelas es teh.


"Aku ikutan makan yah hehe," ucapnya sambil sedikit tersenyum.


"Oh iya, silahkan" balasku.


Untuk beberapa saat kami tidak saling bertukar kalimat. Hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk membuka obrolan.


"Kka-kkamu sering bantu ayahmu?" tanyaku terbata-bata.


"Jarang sih, aku bantu papa kalau pas aku lagi mood aja hehe," jawabnya sambil sedikit tertawa.


"Oh begitu," balasku singkat yang tidak tahu lagi mau bicara apa.


"Aku terkejut," ucap Sofia lagi.


"Terkejut kenapa?" tanyaku heran.


"Iya, aku terkejut sekaligus senang pas liat kamu makan bersama Ruben dan Ahsan. Jadi, benarkan perkataanku waktu itu bahwa makan bersama orang-orang terdekat lebih enak dari pada makan sendirian?" ucapnya lagi.


"Iya aku juga terkejut dan tidak menyangka aku bisa berteman dengan mereka. Waktu di kelas aku selalu sendirian duduk di kursiku, tapi suatu ketika Ruben dan Ahsan menghampiriku dan mengajakku pergi ke kantin. Sejak saat itu kami bertiga jadi lebih sering bersama. Aku rasa perkataanmu memang benar," jawabku.


"Benarkan hehe, oiya kamu jadinya ikut ekstrakulikuler apa Lang?" tanyanya lagi.


"Sepak bola. Aku diajak Ruben sama Ahsan ikut ekstrakulikuler sepak bola. Kamu sendiri ikut apa?" tanyaku balik.


"Kalo aku ikut ekstrakulikuler drama," jawabnya.


"Boleh aku tanya sesuatu Sof?" aku mencoba untuk memberanikan diri.


"Boleh, tanya apa?" jawabnya sambil meniup-niup kuah bakso yang masih agak panas.


"Ma... Ma... Ma-," belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, jantungku sudah berdebar-debar dengan sangat cepat.


"'Ma..' apa Lang?" tanyanya yang kelihatan penasaran.


Aku pun mencoba untuk mengontrol dan menguatkan diriku lagi.


"Ma... Mau... Maukah kamu jadi temanku Sof?" akhirnya aku mengatakannya meski dengan terbata-bata seperti itu, tapi aku sangat senang bahwa akhirnya aku bisa mengatakannya.


"Ha? Kenapa kamu mengatakan hal seperti itu?" kini Sofia malah balik bertanya dengan wajah keheranan.


"Eh kamu tidak mau ya?" tanyaku lagi dengan nada lesu.

__ADS_1


"Hihihi bukannya engga mau Lang. Untuk berteman ga usah bertanya seperti itu. Tentu saja sebel kau bertanya begitu, kita sudah berteman. Kamu ini aneh banget ya," ucap Sofia dengan tertawa.


"Eh aneh ya menanyakan hal seperti itu?" tanyaku lagi.


"Tentu saja aneh, baru pertama kali ini ada orang yang menanyakan hal-hal seperti itu hihihi," ucapnya lagi.


"Begitu ya hehe, maaf aku kira harus bertanya dulu sebelum berteman," ucapku lagi.


"Hihihi, oiya kamu kenapa hari ini sendirian?" tanya Sofia lagi.


"Iya soalnya mereka hari ini tidak mengajakku kemana-mana. Mereka juga tidak mengirimkan pesan padaku hari ini. Jadi, aku ke sini sendirian," jawabku


"Kamu tidak mencoba untuk mengajak mereka?"


"Eh emang boleh begitu?"


"Ya tentu saja boleh lah, ya ampun kamu ini hihihihi," lagi-lagi Sofia tertawa.


"Aku kira jika mereka tidak mengirimkan pesan apa-apa, berarti mereka sedang ingin menghabiskan waktu mereka sendiri."


"Hihihi kamu ini, kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu? Ngomong-ngomong kamu sampai nanti malam ada acara gak?"


"Sepertinya engga ada, kenapa?"


"Bagaimana kalau kita pergi ke bukit Bintang? Kamu sudah pernah kesana?" tiba-tiba Sofia mengajakku pergi ke bukit Bintang.


"Eh sekarang?" tanyaku terkejut.


"Kamu serius? Bukannya kamu lagi bantu ayahmu?"


"Iya aku serius, aku bisa minta izin ke papa kalau mau pergi. Lagi pula memang aku cuma mau bantu papa dari pagi sampai siang saja."


"Kalau memang begitu, kurasa tidak apa-apa. Baiklah, ayo kita ke bukit Bintang. Lagi pula aku juga belum pernah ke sana." aku menyetujui untuk pergi ke bukit Bintang bersama Sofia. Aku sungguh tidak sabar sampai ke sana.


Kami pun sepakat untuk pergi ke bukit Bintang setelah ini.


***


Setelah selesai menyantap makan siang, kami memutuskan untuk pergi ke rumah Sofia terlebih dahulu.


"Kita ke rumahku dulu ya? Aku mau ganti baju dulu," ucap Sofia yang saat ini masih menggunakan seragam karyawan warung bakso milik ayahnya.


"Oh iya, ayo."


Lalu aku dan Sofia menaiki sepeda kami masing-masing dan langsung menuju ke rumahnya. Karena aku belum mengetahui rumahnya, maka aku bersepeda di belakangnya sambil mengikuti Sofia. Kata Sofia, rumahnya berjarak sekitar 2 km dari warung bakso. Jadi, mungkin akan memakan waktu sekitar 10 menit.


***


Akhirnya kami sampai di rumah Sofia. Kami langsung memarkirkan sepeda kami lalu menuju ke dalam rumah.


"Silahkan Lang, tunggu sebentar ya di sini," ucap Sofia lalu pergi ke belakang. Mungkin ia langsung menuju ke kamarnya.


Rumah Sofia terasa sepi saat ini. Sepertinya, tidak ada seorang pun sebelum kami sampai di sini. Apakah ibunya Sofia juga bekerja? Atau sedang ada urusan di luar rumah? Entahlah.

__ADS_1


Cukup banyak lukisan yang terpajang di ruang tamu ini, sekitar 3 buah lukisan dengan ukurang yang berbeda-beda. Yang paling besar adalah yang berada di hadapanku ini, yang bergambarkan suasana kota saat musim salju datang, lengkap dengan boneka saljunya. Mungkin itu menggambarkan salah satu kota di Eropa sana. Aku juga tidak tahu, hanya menebak-nebak saja.


Kemudian lukisan bergambarkan telapak seorang wanita. Lukisan ini berada di samping kiriku. Lalu yang terakhir adalah lukisan bergambar Harimau yang sedang mengaum di atas sebuah batang pohon. Harimau tersebut terlihat sangat gagah.


Tak lama berselang, Sofia akhirnya keluar. Ia kali ini memakai baju lengan panjang bewarna hitam dengan gambar kepala panda kecil di sebelah kanan atas. Sementara itu,di sepanjang garis lengan baju itu bewarna putih. Di bagian bawah, ia juga memakai celana hitam panjang. Mungkin, Sofia sangat suka warna hitam. Terlepas dari itu semua, Sofia kali ini terlihat sangat cantik. Jantungku pun kembali berdebar-debar dengan kencang.


"Ini masih agak siang yah, mungkin tunggu sampai sedikit sore saja gimana? Oiya kamu mau minum apa Lang? Biar aku buatin," ucap Sofia yang baru saja selesai ganti baju.


"Aku si ga masalah, mau berangkat jam berapa emangnya? Wah gausah repot-repot, tadi kita kan baru saja selesai makan siang," balasku yang masih terpukau kecantikan Sofia.


"Engga ngrepotin kok Lang, kamu mau minum apa? Mungkin nanti sekitar setengah empat, bagaimana?"


"Kalau memang begitu, aku minum yang dingin-dingin saja hehe. Aku ikut kamu saja lah hehe."


"Okee, tunggu sebentar ya...," ucap Sofia sebelum bergegas ke dapur.


Sesaat setelah Sofia pergi dari ruang tamu, aku melihat ke arah sebuah foto yang di pajang di atas meja yang terletak di dekat tembok. Karena ukurannya cukup kecil, aku pun menghampiri foto tersebut.


Setelah aku cukup dekat, ternyat foto itu adalah foto keluarga kecil. Ayah, ibu, dan satu anak perempuan yang masih kecil. Mungkinkah ini foto Sofia waktu masih kecil bersama kedua orang tuanya? Aku cukup yakin bahwa foto anak perempuan itu adalah Sofia, dan juga aku cukup yakin bahwa laki-laki yang berada di foto tersebut adalah ayah Sofia.


***


Akhirnya Sofia terlihat sedang menuju kemari sambil membawa dua gelas minuman.


"Ini Lang silahkan, aku harap kamu suka sirup rasa jeruk dingin," ucapnya sambil meletakkan minuman kemudian duduk di kursi yang berada di hadapanku.


"Wah kebetulan sekali, aku memang paling suku sirup yang rasa jeruk," jawabku dengan sedikit tersenyum.


"Wah begitu yah, syukurlah," balas Sofia yang terlihat senang lalu mulai meminum minumannya.


Aku lalu diam-diam memperhatikan Sofia saat sedang mulai meminum minumannya.


***


Akhirnya waktu telah menunjukkan pukul 15.25. Kami pun bersiap-siap untuk berangkat menuju bukit Bintang. Rencananya, kami akan pergi ke sana menggunakan bus saja. Kami pun segera menuju ke halte bus terdekat dari sini.


Sesampainya di halte, kami menunggu sambil duduk tanpa banyak mengobrol. Saat ini, hanya ada aku dan Sofia di halte ini. Akhirnya, tak berselang lama busnya datang. Aku dan Sofia langsung masuk dan mencari tempat duduk yang masih kosong.


Penumpang bus pada sore ini cukup sepi, jadi kami bisa memilih tempat duduk yang masih banyak yang kosong. Kami memilih kursi yang berada di sebelah kanan. Sofia duduk dekat dengan jendela sementara aku duduk tepat di sebelah kirinya. Lalu, bus pun mulai berangkat.


"Wah beruntung hari ini tidak terlalu ramai ya Lang," ucap Sofia sambil melihat keluar jendela.


"Iya yah," jawabku. "Ngomong-ngomong kamu sudah sering ke bukit Bintang?" tanyaku pada Sofia.


"Dulu sering, tapi akhir-akhir ini aku jarang pergi ke sana. Makanya aku ajak kamu ke sana tadi," jawabnya.


"Oh begitu ya," ucapku sambil memperhatikan wajah Sofia dari Samping. Aku penasaran kira-kira apa yang sedang dipikirkan Sofia sekarang ya? Aku juga penasaran apakah ia juga berdebar-debar sama seperti aku yang saat sangat berdebar-debar juga? Entahlah.


Langit yang sejak pagi tadi agak mendung, sore ini terlihat masih sama. Aku tidak tahu apakah nanti malam akan turun hujan atau tidak. Tapi karena sekarang masih bulan Juli, jadi kurasa tidak akan sampai turun hujan.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2