
Aku dan Cindy kini tengah berjalan menuju pasar bagian selatan dimana toko daging ayam berada. Panas terik matahari kali ini sangatlah terasa menyengat. Kami pun berjalan cukup cepat agar cepat sampai di tujuan.
"Eh itu ada warung es cincau Cin. Bagaimana kalau kita istirahat sebentar di situ?" ucap ku sambil menunjuk ke warung es cincau yang berada tepat di sebelah kanan kita saat ini.
"Eh gak papa nih kita istirahat dulu? Nanti kalau kita keburu ditunggu yang lainnya gimana?" Cindy menoleh ke arah ku.
"Sepertinya gak papa. Sebentar aja," jawab ku lagi.
"Ya udah deh gak papa. Kebetulan aku juga haus banget," Sofia kini berpaling dan menatap tajam ke arah warung es cincau itu. Kami berdua pun lalu langsung menyebrangi jalan yang ramai dihadapan kami ini, sebelum sampai di warung es cincau itu. Kami melihat ke kanan-kiri-kanan dengan hati-hati sebelum benar-benar menyebrangi jalan.
Setelah aman, kami pun langsung menyebrang dengan langkah yang cukup cepat. Poni milik Cindy terlihat ikut bergoyang dan sedikit meneteskan keringat.
"Bu beli dua ya," ucap ku ketika kami baru saja sampai di depan warung cincau.
"Dibungkus atau diminum sini dik?" tanya ibu penjual cincau sambil mengambil gelas.
"Diminum sini aja bu," aku dan Cindy kini sudah duduk di kursi yang telah disediakan.
"Oke dik, tunggu ya sebentar," ibu itu lalu langsung memulai memasukkan bahan-bahan ke dalam gelas.
"Tadi aku gak nyangka banget kalau Ruben bisa salah informasi hihihi," Cindy membuka obrolan sambil mengipas-ngipasi dirinya menggunakan tangannya.
"Iya aku juga, tapi yang paling membuat ku terkejut adalah kedatangan Ahsan itu sendiri. Bisa-bisanya ia datang hahaha," timpal ku sambil menggoncang-goncangkan kerah bajuku tanda merasa gerah.
"Iya hihihihi, tapi ada untungnya juga Ahsan datang. Kita jadi gak salah ngasih kejutan untuknya," balas Cindy lagi.
"Iya, bener juga," balas ku lagi.
"Ini dik es cincaunya," ibu penjual cincau meletakkan dua gelas es cincau pesanan kami.
"Oh iya bu, makasih..." jawab ku.
Kami berdua lalu buru-buru langsung menyeruput es cincau yang terlihat begitu menyegarkan tersebut. Perpaduan rasa manis dan pahit serta dinginnya es batu membuat es cincau ini terasa sangat sempurna diminum di tengah cuaca yang sedang sangat terik ini. Tenggorokan yang tadinya terasa cukup panas, kini kembali merasa sejuk dan dingin.
"Hihihi pelan-pelan Lang, nanti keselek loh," Cindy tersenyum melihat ku yang sangat cepat meminum es cincau tadi.
"Hehehehe habisnya haus banget. Cuacanya juga panas banget," aku juga ikut tersenyum.
"Iya... Meskipun begitu tetap harus pelan-pelan loh," ujar Cindy lagi.
__ADS_1
"Hehehe okedeh kalo gitu," aku masih tersenyum tersipu.
"Ngomong-ngomong Hana kabarnya gimana? Sudah lama aku engga ketemu sama dia," tanya Cindy.
"Hana baik. Seperti biasa dia selalu terlihat bersemangat. Iya, kemaren juga ia cerita kalau sudah lama engga bertemu sama kak Cindy semenjak kamu pindah ke toko buku itu," ucap ku lagi.
"Kalau begitu, nanti sepulang dari rumahnya Ruben, aku boleh ikut kamu gak Lang buat ketemu Hana?" ucap Cindy.
"Eh beneran? Tentu saja boleh. Hana juga pasti akan merasa senang bertemu kamu lagi hehehehe," Aku pun akan merasa senang jika Cindy benar-benar ikut dengan ku nanti.
Aku lalu kembali meminum es cincau yang tinggal tersisa sekitar setengah gelas itu. Sambil meminum sambil diam-diam melirik ke arah Cindy. Cindy terlihat meminum es cincau tersebut dengan elegan dan perlahan. Peluh yang tadi terlihat cukup banyak di sekitar kepalanya, kini perlahan telah menghilang. Karena terlalu asik memandangi Cindy, aku sampai tak sadar telah menghabiskan es cincau ku.
"Hihihi punya mu udah habis tuh Lang. Mau pesen lagi?" tanya Cindy.
"Eh engga-engga. Satu gelas udah cukup kok hehehehe," jawab ku.
"Sebentar ya. Aku habisin punya ku dulu," Cindy kini terlihat menyeruput es cincaunya dengan cukup cepat.
"Santai aja Cin. Ga usah keburu-buru gitu hehe. Aku gak bakal ninggalin kamu kok," ucap ku sambil tersenyum.
"Iya, iya..." jawabnya.
"Permisi bu, es cincau dua, jadi berapa?" ucap ku.
"8 ribu aja dik," jawab ibu penjual itu.
Aku lalu memberikan satu lembar uang pecahan 10 ribu.
"Ini Lang," Cindy menjulurkan uang pecahan 5 ribuan.
"Eh gausah Cin. Biar aku aja yang bayar," aku menolak uang pemberian Cindy itu.
"Ini dik kembaliannya," kini ibu penjual itu menjulurkan satu lembar uang 2 ribuan untuk kembalian.
"Makasih bu," aku menerima uang tersebut dan kembali melanjutkan perjalanan ku ke toko daging bersama Cindy.
"Makasih ya Lang," ucap Cindy.
"Bukan apa-apa kok. Lagi pula aku kan yang ngajak kamu buat minum es dulu tadi," balas ku.
__ADS_1
***
Akhirnya kami sampai di toko daging ayam. Cindy lalu langsung memesan 5 kg daging ayam.
"Berapa Bu jadinya?" tanya Cindy setelah menerima kantong berisi daging ayam seberat 5 kg tersebut.
"150 dik," jawab ibu penjual daging itu.
Cindy lalu membayar daging itu dengan uang pas.
"Makasih ya bu, mari..." Cindy meninggalkan kios daging tersebut.
"Sini biar aku yang bawa aja Cin," aku mengambil kantong kresek yang berisi daging ayam tersebut dari Cindy.
Kami berdua pun langsung bergegas kembali menuju ke rumah Ruben.
***
Sesampainya di rumah Ruben, kami langsung menuju dapur untuk memberikan ayam ini pada Ruben. Saat kami sampai di dapur, Ruben sudah terlihat sibuk menggiling tepung untuk dijadikan mie. Lagi-lagi, ia terlihat sangat serius ketika melakukannya.
"Ini Ben ayamnya," aku meletakkan kantong tadi di bawah meja.
"Ada yang bisa aku bantu Ben?" tanya ku.
"Oh kalau begitu, bisa tolong urus daging ayamnya Lang? Kamu dan Cindy ya yang bertugas untuk mengurus daging ayamnya. Pertama bersihkan dulu lalu potong kecil-kecil kemudian rebus," ucap Ruben yang masih sibuk membuat adonan mie itu.
"Oh oke Ben," jawab ku.
Aku dan Cindy pun lalu mulai membuka dan mengeluarkan daging ayam dari kantong tadi untuk segera mencucinya. Setelah bersih, kami pun langsung memotong-motongnya kecil-kecil.
"Segini kebesaran engga Ben?" tanya ku sambil menunjukkan potongan ayam yang baru saja aku potong.
"Ya cukup sih, tapi kalau bisa lebih kecil sedikit lagi," balas Ruben.
"Okee Ben," jawab ku.
Rencananya, mi kuah itu nanti akan diisi daging ayam yang dipotong kecil-kecil dan sayur-sayuran. Untuk sayurannya sendiri kami memilih jamur, kol, tomat, dan brokoli. Membayangkannya saja sudah membuat perut ku terasa lapar dan keroncongan seperti ini. Aku jadi tidak sabar untuk menikmatinya bersama yang lainnya setelah ini.
***
__ADS_1
Bersambung.