
"Makasih kak," teriak anak itu lagi setelah menerima lemparan bola dari ku. Aku lalu kembali meneruskan perjalanan ku menuju ke rumah.
"Oiya ngomong-ngomong gimana ekstrakulikuler mu?" tanya Cindy.
"Sejauh ini masih berjalan lancar. Kebetulan sebentar lagi akan segera diadakan seleksi, jadi harus lebih serius dan fokus lagi," jawab ku.
"Wah semangat Lang hihihi," Cindy kembali tersenyum.
"Ma-makasih," jawab ku agak tersipu.
***
Sesampainya di rumah, aku langsung memanggil-manggil Hana, "Hanaa... Hanaa...?"
Sudah berulang kali aku memanggilnya tapi tetap tidak ada jawaban. Aku lalu memeriksa kamarnya dan hasilnya pun sama. Hana tidak ada di rumah ini.
"Sepertinya Hana masih berada di toko bunga Cin. Bagaimana kalau kita ke sana aja?" ajak ku.
"Oh begitu yah. Wah kebetulan lagi. Aku juga sedang ingin melihat-lihat bunga," jawabnya. Kami berdua lalu langsung menuju ke toko bunga yang terletak tepat di samping rumah ini.
***
"Eh kak Cindyyyyy. Lama gak ketemu," Hana berlari lalu memeluk Cindy dengan cukup erat.
"Hihihihi, gimana kabarnya Hana?" Cindy merendah lalu ikut memeluk Hana.
"Sehat kak sehat. Kalau kakak gimana?" tanya Hana yang kini sudah melepaskan pelukannya.
"Kakak juga sehat," Cindy kembali bangkit berdiri.
"Wah kakak kok bisa bareng kak Cindy?" tanya Hana penasaran.
"Iya soalnya tadi kita habis dari rumah temen, terus kak Cindy bilang ingin ketemu sama kamu. Jadi, kakak sekalian aja pulang bareng kak Cindy," jelas ku yang kemudian duduk di kursi plastik yang disediakan di situ.
"Ooooooo," jawab Hana.
"Temennya suruh duduk dulu Lang," tiba-tiba saja ibu ku datang menghampiri kami.
"Eh tante..." Cindy tersenyum lalu menyalami ibu ku.
"Temannya Galang yah?" tanya ibu ku yang menyambut juluran tangan dari Cindy.
__ADS_1
"Iya tante... Saya teman sekelasnya," jawab Cindy yang masih tersenyum.
"Silahkan duduk dulu. Oiya ngomong-ngomong namanya siapa?" tanya ibu ku lagi.
"Cindy tante..."
"Oo gitu... Ya sudah, Tante tinggal dulu yah. Silahkan kalau mau liat-liat bunga. Galang bikinin minum dulu sala, ibu lagi sibuk," ucap ibu ku lalu pergi kembali menuju ke mejanya. Suasana toko sore ini memang cukup ramai.
"Iya bu..." aku lalu menuju ke belakang untuk membuatkan minum.
***
Setelah selesai membuat kan minuman, aku lalu menaruhnya di meja. Aku membuat 7 gelas sirup jeruk dingin untuk aku, Cindy, Hana, ibu, dan sekaligus untuk tiga karyawan yang sedang bekerja di sini.
Sambil meminum sedikit-demi sedikit, aku memperhatikan Cindy dan Hana yang sedang melihat-lihat bunga. Mereka berdua terlihat sangat bahagia sekali. Hanya dengan memandangi mereka saja, aku sudah bisa ikut merasakan kebahagiaan juga.
Selain itu, aku juga baru menyadari bahwa sekarang ibu sudah menggunakan kalkulator yang baru aku berikan kemarin. Rasanya juga sangat menyenangkan melihat hadiah pemberian kita digunakan dengan baik oleh orang yang kita berikan itu.
Kini, waktu berjalan begitu cepat. Langit yang tadinya masih cerah pun kini sudah mulai bewarna jingga. Lampu-lampu sudah mulai banyak yang dinyalakan.
"Galang, kamu pulang aja duluan... Sekalian ajak Cindy sama Hana... Biar nanti menyusul," ucap ibu ku yang sudah mulai berberes-beres mau menutup toko.
"Gapapa bu. Sekali-sekali aku juga ingin membantu ibu menutup toko. Gak papa kan Cin kita berada di sini sedikit lebih lama lagi?" tanya ku.
"Eh ga usah repot-repot nak Cindy... Biar ibu saja yang berberes-beres," ucap ibu.
"Gak papa kok tante. Saya juga sudah biasa bantu-bantu nenek mengurus toko bukunya walaupun cuma sedikit," jawab Cindy.
"Cindy ini cucunya nenek pemilik toko buku yang menjadi langganan ayah dulu itu loh bu. Ibu ingat?" ucap ku.
"Ohhh begitu... Tentu saja ibu ingat. Ya memang kalau dilihat lebih teliti lagi kamu mirip sekali dengan nenek Maria. Raut wajahnya, tatapan matanya, bahkan kalian juga sama-sama mengenakan kacamata. Dilihat dari mana pun, kamu memang mirip sekali dengan nenek mu itu," ucap ibu ku sambil tersenyum.
Mendengar akan hal itu, Cindy hanya tampak tersenyum. Raut wajah yang benar-benar cantik.
Kami pun lalu mulai beres-beres toko. Karena sudah mulai gelap, ini saatnya untuk menutup toko. Setelah selesai, kami pun sama-sama pulang menuju rumah.
***
"Silahkan nak Cindy dimakan. Maaf cuma masak seadanya," ucap ibu ku yang terlihat sedang mengambil nasi.
"Makasih tante... Maaf merepotkan," jawab Cindy.
__ADS_1
"Sama sekali engga kok. Tante malah seneng kalau ada yang main ke rumah ini. Rasanya jadi ramai hiihihihi," ibu tertawa kecil.
Malam ini, ibu memasak lele saos asam manis. Kebetulan, ini adalah salah satu makanan favorit ku. Aku harap, Cindy juga menyukainya.
"Gimana rasanya nak Cindy?" tanya ibu sesaat setelah Cindy melahap sendok pertamanya.
"Enak, enak kok tante. Kebetulan aku juga juga suka lele," jawab Cindy.
"Wah syukurlah. Tante jadi seneng," ibu ku kembali tersenyum lebar.
***
"Aku pulang dulu ya tante, Hana," Cindy berpamitan kepada Hana dan ibu.
"Iya hati-hati nak Cindy... Kapan-kapan main lagi ya..." ibu ku terlihat tersenyum.
"Iya tante hehe..." Cindy pun lalu mulai pergi meninggalkan rumah ku ditemani oleh ku. Karena sudah malam, aku akan mengantarkan Cindy hingga sampai di toko buku.
"Ibu mu baik sekali yah Lang," ucap Cindy yang terus menatap ke arah depan.
"Iya begitulah. Banyak yang bilang seperti itu juga, termasuk aku sendiri. Aku sangat bersyukur memiliki ibu yang tangguh, kuat, dan selalu merawat ku dengan kesabaran," ucap ku.
"Iya, kamu beruntung sekali hihihi. Oiya ngomong-ngomong ayah kamu lagi dimana?" tanya Cindy.
"Kalau ayah ku... Sudah lama meninggal..." jawab ku.
"Meninggal? Aduh maaf ya Lang bukan maksud ku untuk membuat mu sedih. Aku benar-benar tidak tahu. Sekali lagi maaf yaa..." Cindy terlihat panik.
"Iya, iya. Gak papa kok Cin. Oiya ngomong-nomong sebentar lagi kita akan mengadakan acara ulang tahun sekolah yah selama satu minggu?" tanya ku.
"Iya, rumornya memang seperti itu. Akan ada acara full satu minggu. akan ada banyak sekali lomba antar kelas juga katanya," ucap Cindy.
"Kamu sudah ada rencana mau ikut lomba apa?" tanya ku lagi.
"Belum tau sih hehehe. Aku juga belum tahu lomba apa saja yang akan digelar," jawab Cindy.
"Benar juga yah hehehe. Tapi, aku sudah tidak sabar lagi," ucap ku.
Malam ini, suasana jalan sudah mulai sepi. Tak seramai tadi sore. Meskipun sepi, akan tetapi hati ku tidak lah merasa demikian. Malam ini, entah kenapa hati ku seperti dipenuhi dengan bunga-bunga yang bewarna-warni dan bermekaran. Ada juga kupu-kupu yang terbang kesana-kemari menghinggapi bunga-bunga yang sedang bermekaran itu. Rasanya, aku ingin sekali menggenggam tangan Cindy dan berjalan damai di malam yang penuh dengan rasa senang ini.
***
__ADS_1
Bersambung.