Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 204 : Pemikiran Ruben


__ADS_3

"Oi pendek, sini kau," ucap Alex dengan arogan. Pendek di sini adalah Ruben. Alex memanggil Ruben karena memang tubuh Ruben adalah yang paling pendek di antara aku dan Ahsan.


"Oi nama ku bukan pendek, tapi Ruben," timpal Ruben agak kesal.


"Aku tidak peduli, yang terpenting untuk saat ini tolong belikan aku segelas minuman Sanah. Nih uangnya. Seperti biasa kembaliannya buat kau saja. Aku tau kau pasti belum jajan 3 hari yah?" ucap Alex dengan arogan yang mana menjulurkan satu lembar uang pecahan 50 ribuan.


"Pergi saja sana sendiri," kali ini Ruben menolak permintaan Alex. Biasanya, Ruben pasti akan langsung menuruti permintaan Alex karena ia selalu memberikan imbalan yang sangat besar hanya untuk membeli sesuatu di kantin.


"Haaa? Coba ulangi, aku tidak dengar," ucap Alex lagi.


"SUDAH KU BILANG AKU TIDAK MAU. KAU PERGI SAJA SAJA SENDIRI DASAR PEMALAS MANJA YANG BISANYA HANYA MENGANDALKAN UANG DARI ORANG TUA," ucap Ruben dengan nada agak keras.


"Haaa? Kau kenapa? Apa uang yang aku berikan masih kurang? Ya sudah nih aku tambahin, ucap Alex yang kembali menambahkan satu lembar uang 50 ribuan. Total saat ini yang ia pegang adalah 100 ribu.


Ruben lalu bangkit dari tempat duduknya dan langsung mengambil uang dari tangan Alex.


"Nah gitu do-----," belum sempat Alex menyelesaikan kalimatnya, Ruben tiba-tiba saja langsung melempar 2 lembar uang pecahan 50 ribu itu ke arah mukanya. Ruben kali ini benar-benar kelihatan kesal.


"Sudah ku bilang aku tidak mau. Harus berapa kali aku katakan pada mu supaya kau itu mengerti ha?" timpal Ruben.


"Wah kau belum makan yah? Kenapa kau hari ini marah-marah seperti itu? Gak jelas banget," timpal Alex masih deengan nada arogan.


"Cih, terserah kau sajalah. Yang jelas aku sekarang, maksud ku mulai detik ini aku tidak akan lagi membelikan mu makanan di kantin lagi titik," ucap Ruben yang mana langsung kembali duduk di kursinya.


Alex lalu memungut kembali uang yang tadi terjatuh ke tanah itu. Setelah itu iya tidak berkata apa-apa lagi pada Ruben. Ia pun lalu terlihat hanya duduk diam ditempatnya tanpa berjalan-jalan kemana-mana.

__ADS_1


***


Tet tet tet. Suara bel istirahat ke-2 telah berbunyi. Proses pembelajaran saat ini pun langsung dihentikan dan kami pun bersiap-siap untuk beristirahat.


"Ayo Ben, ke kantin," ajak Ahsan yang datang menghampiri Ruben di tempat duduknya. Sebelum mengajak Ruben, Ahsan terlebih dahulu mengajak ku. Oleh karena itu, saat ini aku juga sudah berada di belakang Ahsan saat menghampiri tempat duduk Ruben.


"Ayo," jawabnya yang lalu langsung bangkit dari tempat duduknya. "Oi orang kaya, kau mau ikut gak? Aku tau kau lapar, ayo kita beli sama-sama," ucap Ruben mengajak Alex.


"Kau kira kau siapa berani memerintah ku seperti itu? Aku? Pergi? Ke kantin yang dipenuhi oleh keringat itu? Idihhh enggak banget deh. Kau pergi saja sana sendiri," ketua Alex dengan nada yang sangat sombong.


"Lalu kau gak merasa lapar?" tanya Ruben.


"Aku lebih baik kelaparan dari pada harus berkerumun dengan orang-orang yang bau keringat itu. Sudah sana pergi. Apa jangan-jangan tadi kau menyesal yah karena telah menolak perintah ku dan sekarang kau menginginkan kembali uang yang aku berikan tadi? Ya sudah ini aku kasih lagi... Tapi belikan aku minuman yah," ucap Alex yang kembali menyodorkan satu lembar uang pecahan 50 ribu.


"Ayo San, Lang, nanti waktu istirahat keburu habis," ucap Ruben yang langsung berjalan keluar tanpa mempedulikan ucapan dari Alex barusan. Aku dan Ahsan pun lalu langsung mengikutinya dari belakang.


***


"Mana mungkin aku sudah kaya," timpal Ruben.


"Lalu, kenapa?" tanya Ahsan penasaran.


"Tadi pagi saat aku berangkat, aku bertemu dengannya. Saat itu, ia terlihat baru turun dari mobil. Sebelum pergi meninggalkan mobil tersebut, ia masih terlihat belum mengenakan kaca mata hitam seperti yang biasanya kita lihat ketika pagi hari," ucap Ruben.


"Lalu apa hubungannya dengan kau tidak mau disuruhnya beli makanan lagi di kantin?" tanya Ahsan penasaran.

__ADS_1


"Saat aku melihat kedua matanya yang sedang tidak menggunakan kaca mata hitam itu, aku melihat kesepian keluar dari sorot matanya," jawab Ruben yang mana terdengar seperti bukan Ruben yang biasanya.


"Haaa? Apa-apaan tuch... Tumben sekali kau bicara hal seperti itu. Seperti bukan diri mu saja," timpal Ahsan.


Sebenarnya, aku sudah sedikit merasakan bahwa Alex itu sedikit aneh sejak pertama kali ia datang. Dari sorot matanya, memang terlihat sekali kalau ada banyak hal darinya yang sedang ia pendam dan seakan-akan ia sendiri yang sedang menutupinya.


***


Sepulang sekolah, karena ini adalah hari Rabu, maka aku langsung bergegas mengganti pakaian ku menjadi pakaian kostum sepak bola untuk mengikuti ekstrakulikuler sepak bola setelah ini. Hari ini adalah hari terakhir seleksi untuk laga uji coba di akhir bulan Oktober ini. Nantinya, akan ada 24 nama yang akan dipanggil sebagai perwakilan dari SMA ini. Itulah kenapa aku begitu bersemangat dan penuh dengan motivasi untuk hari ini. Meskipun aku tau kalau peluang ku terpilih adalah sangat kecil. Mungkin tak sampai 10%.


***


Setelah selesai ganti pakaian, aku pun lalu langsung menuju ke lapangan sepak bola. Kebetulan, cuaca sore ini sangat lah cerah. Matahari terlihat begitu ceria hari ini.


Saat sedang dalam perjalan menuju lapangan ini, aku berpapasan dengan Celine. Seperti biasa Celine selalu terlihat sedang dengan 2 orang sahabatnya yaitu Fani dan Devi. Karena menyebut Fani, aku jadi teringat kalau beberapa waktu lalu Aji ditolak olehnya. Aku masih belum tahu bagaimana kabar hubungan mereka berdua selanjutnya. Apakah mereka masih saling berteman atau mungkin Aji mulai menjauh karena sudah ditolak? Entahlah.


Aku pun lalu saling bertukar senyum dengan Celine yang mana saat ini tengah menuruni tangga. Rambutnya terlihat ter-urai dengan lembut berkat hembusan angin yang terasa sejuk ini. Entah kenapa senyumannya selalu terlihat begitu manis dan selalu terngiang-ngiang di pikiran ku.


***


Sesampainya di lapangan, aku lalu langsung duduk di pinggiran lapangan. Saat ini waktu masih menunjukkan pukul 15.45. Masih ada waktu sekitar 15 menit lagi hingga kegiatan dimulai. Seperti biasa, Ruben dan Ahsan masih belum kelihatan batang hidungnya.


"Wah sendirian aja?" ucap suara laki-laki yang tiba-tiba langsung duduk di sebelah ku. Saat aku menoleh ke sumber suara tersebut, ternyata suara tersebut adalah berasal dari kak Jo, sang kapten tim. Aku penasaran kenapa gerangan kak Jo tiba-tiba duduk di sebelah ku.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2