
Saat ini, kami para pemain futsal dari kelas 10-7 sedang berada di kantin untuk melepas letih dan mengisi kembali energi kami. Kami untuk sementara masih merasa senang, karena kami masih berhasil lolos ke babak selanjutnya. Saat ini, kami masih belum mengetahui siapa lawan kami selanjutnya. Kami masih harus menunggu hasil pertandingan selanjutnya untuk mengetahui siapa lawan kami berikutnya.
"Wah tadi pertandingannya menegangkan sekali yah," ucap Ahsan.
"Haha iya, untung tadi kita berhasil mencetak gol kemenangan, kalau tidak bisa bahaya kalau sampai babak adu penalti," timpal Aji.
"Iyalah sangat berbahaya, apalagi kiper kita kiper bodoh," ucap Ahsan yang menyindir Ruben.
"Haaaa? Apa maksud mu kiper bodoh? Kalau bukan karena kehebatan ku, pasti Renaldi tidak akan bisa mencetak gol spektakuler seperti itu tadi," ucap Ruben.
"Haaa? Apa hubungannya dengan mu? Kenapa kau bicara seperti itu? Hahahaha ada-ada saja kau ini," ucap Ahsan lagi.
"Hahaha sudah-sudah jangan bertengkar, lebih baik kalian bersantai dulu sambil mengisi tenaga lagi.
"Cihhhh," ucap Ruben sinis menatap Ahsan. Ahsan hanya tersenyum tipis melihat Ruben berekspresi seperti itu.
"Tapi tadi permainan kita sudah bagus menurut ku. Kita sudah bisa menguasai jalannya pertandingan. Hanya saja, kita masih kesulitan dalam hal mencetak gol," ucap Aji kembali ke topik futsal.
"Iya, kau kurang tajam loh Ji," ucap Ahsan dengan gaya ejekannya.
"Hahaha iya-iya maaf. Jadi menurut ku mungkin Galang bisa main lebih ke depan dari pada hanya sampai di lapangan tengah?" ucap Aji.
"Aku? Lebih ke depan lagi? Tapi aku takut bola ku direbut lawan lalu mereka langsung melakukan serangan balik, kayak tadi," ucap ku yang masih merasakan sedikit trauma dari pertandingan tadi.
"Sudah ku bilang kan gak usah terlalu dipikirkan. Tidak apa-apa membuat kesalahan, yang penting kita mengambil suatu pembelajaran dari situ. Jangan takut Lang," ucap Aji menyemangati.
"Iya Lang, gak papa Lang. Ahsan saja yang melakukan kesalahan berulang kali masih tidak mempunyai perasaan bersalah sedikit pun. Kau bisa mengambil contoh itu," ucap Ruben yang gantian menyindir Ahsan.
"Haaa? Apa maksud mu membuat kesalahan berulang kali? Bukannya malah kau yang terlalu bodoh karena tidak bisa menangkap tendangan pertama yang menjadi gol tadi? Coba saja kau lebih jago, pasti kita tadi sudah menang 2-0," sindir balik Ahsan.
__ADS_1
"Hahaha kalian ini," Aji tertawa.
"Oiya ngomong-ngomong bukannya sebentar lagi kita akan ada pertandingan bola basket?" tanya ku mengingatkan.
"Oh iya benar juga, lebih baik kita bersiap-siap saja dulu," ucap Aji.
"Ya sudah cepat habiskan minuman dan makanan kalian lalu segera kembali ke kelas," ucap Ahsan.
***
Kini para pemain bola basket sudah terlihat berkumpul dan mulai berdiskusi tentang posisi dan strategi. Tomi yang menjadi satu-satunya siswa yang mengikuti ekstrakulikuler Basket akan memimpin teman-teman yang lain. Sementara itu, aku hanya mengamati mereka berlima dari kejauhan bersama Ruben di samping ku. Dari apa yang diomongkan oleh Tomi, tak satu pun yang aku pahami. Aku benar-benar tidak mengerti peraturan bola basket sedikitpun.
Selain bola basket, kami pun akan segera mengikuti pertandingan bulu tangkis tunggal putra dan tunggal putri. Karena Aji yang akan mewakili kelas kita di lomba Bulu Tangkis Tunggal Putra, maka sepertinya ia tidak akan bermain di pertandingan bola basket jam 09.10 nanti.
Aku lalu kini kembali ke tempat duduk ku untuk mengambil air minum di dalam tas. Terlihat Cindy sedang duduk sambil membaca sebuah buku di kursinya yang terletak persis di samping kursi ku.
"Lagi baca apa Cin?" tanya ku saat sudah sampai di kursi ku.
"Oh iya, kamu kan ikut lomba cerpen yah, sudah dapat ide mau menulis cerita tentang apa?" tanya ku yang kemudian meminum air yang ada dalam botol minum ku.
"Belum sih hihihi," jawab Cindy.
"Waktu terakhir pengumpulan naskahnya emangnya kapan Cin?" tanya ku.
"Besok Rabu Lang," jawab Cindy.
"Oh gitu ya, ya udah semangat yah... Semoga bisa menang hehehe," ucap ku sambil tersenyum padanya.
"Iya, makasih Lang," balas Cindy yang kini kembali membuka buku dan kembali membacanya.
__ADS_1
Sementara itu, Agung terlihat sedang menulis sesuatu di atas mejanya. Sepertinya ia sudah mulai membuat puisi untuk dikumpulkan.
Aku lalu menyandarkan punggung ku ke belakang kursi. Sambil menghadapkan wajah ku ke arah langit-langit kelas, aku memejamkan kedua mata ku.
Rasanya, energi ku perlahan sudah mulai kembali. Aku masih belum tahu apakah hari ini, kita akan bertanding kembali di lomba futsal.
Suara teriakan penonton dan suara komentator lapangan, terdengar jelas dari ruang kelas ini. Aku baru merasakan suasana semeriah ini dalam hidup ku.
***
Akhirnya, kini pertandingan bola basket yang mempertemukan kelas ku melawan kelas 11 IPA 1 akan segera dimulai. 3 pemain dari masing-2 tim sudah berada di dalam lapangan. Karena yang terpakai hanya satu sisi lapangan saja, maka dalam satu waktu bisa diselenggarakan 2 pertandingan sekaligus dalam satu lapangan ini.
Sorak Sorai penonton kini mulai terdengar mengeras berbarengan dengan dimulainya pertandingan. Aku sungguh tidak paham dengan pertandingan bola basket, jadi meskipun aku berada di sisi lapangan bola basket, akan tetapi pandangan ku tertuju ke arah lapangan futsal yang berada tepat di samping lapangan basket ini.
***
Akhirnya babak pertama pertandingan basket telah selesai. Satu babak tadi hanya berlangaung sekitar 5 menit saja, akan tetapi aku melihat pemainnya lebih lelah dari pada melakukan pertandingan selam 10 menit di pertandingan futsal. Skor sementara adalah 10-8 untuk keunggulan kelas kami. Aku tidak menyangka kelas kita bisa sementara memimpin dari kakak kelas.
Tomi terlihat begitu letih saat ini karena selama babak pertama tadi, cuma dia satu-satunya yang tidak melakukan pergantian pemain. Sementara Ahsan dan Renaldi melakukan pergantian pemain saat pertandingan sudah berjalan sekitar setengahnya.
Semakin siang, semakin meriah suasana festival ini. Aku lalu melihat-lihat sekeliling ku dan berusaha untuk mencari keberadaan Cindy, akan tetapi aku tidak dapat menemukannya dimana pun di sisi ini. Sepertinya, ia tidak ikut melihat pertandingan basket ini. Apakah ia masih berada di kelas untuk mencari ide cerpennya? Entahlah. Untuk mencari tahu akan hal itu, aku pun bangkit dari tempat duduk ku dan akan pergi menuju ke kelas.
"Mau kemana Lang?" tanya Ruben yang berada di samping ku.
"Mau ke kelas sebentar," ucap ku.
"Mau ngapain?" tanya Ruben.
***
__ADS_1
Bersambung