
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pesanan kami pun datang. Pelayan warung terlihat dengan ramah meletakkan makanan pesanan kami. Senyum ramah selalu terpancar dari wajah setiap pelayan yang sedang melayani.
Aku mulai memakan burger pesanan ku. Rasanya enak, lembut dan sangat meleleh. Aku pun seperti tak bisa berhenti mengunyah burger yang baru saja datang ini. Sepertinya tak sampai 5 menit, burger ini akan habis.
"Mau pesan lagi?" tanya Sofia yang melihat ku makan dengan begitu cepat.
"Eh engga-engga, ini saja sudah cukup kok," jawab ku yang sebenarnya ingin sekali memesan 1 atau 2 burger lagi, akan tetapi aku tidak mau merepotkan Sofia lagi jika aku pesan lagi.
"Ehhh beneran? Kamu kelihatannya suka sekali burgernya," ucap Sofia lagi.
"Burger ini rasanya memang enak sekali. Aku jadi tidak bisa berhenti untuk memakannya hehehe," jawab ku yang kini telah menghabiskan burger yang baru datang lagi.
"Hihihihi cepet banget kamu habisnya. Ya sudah, tunggu aku selesai makan dulu ya," ucap Sofia.
"Oh iya-iya," jawab ku.
Rasanya sudah lama sekali aku tidak bertemu dan mengobrol dengan Sofia seperti ini. Entah kenapa, kini getaran yang dulu terjadi ketika aku bertemu dengan Sofia, kini seperti sudah tidak aku rasakan lagi. Aku juga bisa bersikap normal dihadapannya walaupun kami sedang berdua seperti ini.
Langit yang tadi masih mendung dan gelap, kini perlahan sudah mulai cerah kembali. Di langit bagian barat, sinar matahari malah sudah benar-benar sangat cerah dan tak ada lagi awan gelap yang terlihat.
Aku lalu mengalihkan pandangan ku ke arah akuarium yang terletak di dekat pintu masuk warung ini. Akuarium yang tak terlalu besar itu, diisi beberapa ikan koi dan ikan mas. Dulu waktu ayah masih hidup, aku ingat bahwa di rumah ada satu buah akuarium dan satu buah kolam ikan yang diisi cukup banyak ikan. Ukuran akuarium itu, aku rasa lebih besar dari pada yang berada di tempat ini.
Selepas ayah meninggal, aku tidak begitu ingat lagi apa yang terjadi terjadi pada akuarium dan kolam ikan itu. Mungkin karena tidak ada yang merawat ikan-ikan itu lagi, ikan-ikan itu di jual oleh ibu. Aku juga tidak terlalu ingat.
__ADS_1
Jika mesin waktu sudah ditemukan, aku ingin sekali menggunakannya untuk kembali lagi ke masa lalu dimana ayah masih hidup. Masih ada begitu banyak hal yang ingin aku lakukan dan tanyakan pada ayah. Meskipun begitu, entah kenapa semenjak ayah meninggal di hari kelabu itu, hati ku seperti terhubung dengan ayah. Ayah seperti sedang selalu mengawasi ku entah dari mana. Dan ketika aku memejamkan mata, ayah selalu muncul dengan senyum sumringah di wajahnya.
"Eh kenapa mata mu keluar airnya Lang? Kamu menangis?" ucap Sofia yang terlihat terkejut itu.
"Eh benarkah? Aku tidak merasa bahwa aku sedang menangis, aku hanya sedang melamun saja. Aneh sekali," aku lalu mengusap air yang menetes dari mata sebelah kiri ku itu. Aku sungguh tidak sadar bahwa air mata ku turun.
"Kamu gak papa? Tapi kok cuma mata sebelah kiri mu saja ya, yang mengeluarkan air mata?" tanya Sofia lagi.
"Engga, enggak papa. Aku juga tidak tahu kenapa bisa begitu, aku juga tidak merasa sedang menangis atau semacamnya. Mungkin mata sebelah kiri ku kemasukan debu atau semacamnya," jawab ku sambil tersenyum tipis.
"Oh begitu ya," ucap Sofia yang kini kembali menyantap makanannya yang tersisa sedikit itu.
***
Setelah selesai menyantap makan siang tadi, aku dan Sofia berencana untuk langsung pulang. Karena Sofia menggunakan sepeda, aku pun menyuruhnya untuk berjalan duluan saja, akan tetapi ia menolaknya. Ia bersikeras agar kita bisa pulang bersamaan dengan menggunakan sepedanya. Jalan satu-satunya supaya bisa begitu adalah dengan terlebih dahulu kita berboncengan menuju ke rumah ku, lalu setelah itu Sofia bisa pulang ke rumahnya. Namun, aku sungguh merasa tidak enak lagi karena itu pasti akan merepotkanya.
***
Sekitar pukul 12 siang, kami pun sampai di rumah ku. Setelah itu, Sofia pun langsung meneruskan perjalanannya untuk pulang ke rumahnya.
"Makasih ya Sof... Maaf ngrepotin terus," ucap ku sambil sedikit membungkuk.
"Ga usah minta maaf kok Lang... Aku gak merasa direpotkan kok, malahan aku merasa senang," ucap Sofia dengan sedikit tersenyum.
__ADS_1
"Tetap saja..." timpal ku.
"Hihihi sudah gak papa. Ya sudah, aku pulang dulu ya Lang... Sampai jumpa..." Sofia lalu mulai pergi meninggalkan tempat ini.
"Iya Sof, hati-hati..." jawab ku.
Setelah Sofia sudah tidak terlihat lagi, aku pun lalu langsung masuk ke dalam rumah. Sepertinya sedang tidak ada orang di rumah ini. Ibu dan Hana pasti sedang berada di toko saat ini.
Aku lalu duduk sejenak di sofa ruang tamu. Rasanya cukup melelahkan setelah berjalan-jalan tanpa tujuan, lalu terjebak hujan, bertemu dengan teman ayah, dan berakhir dengan bertemu Sofia. Rasanya begitu banyak sekali hal yang telah terjadi, padahal hari ini baru berjalan sekitar setengah hari saja.
Aku duduk dengan menyandarkan punggung ku kebelakang dan memejamkan kedua mata ku. Rasanya, aku bisa saja tidur sewaktu-waktu jika terus dalam posisi ini.
Aku mendengar detikkan waktu yang berasal dari jam dinding tua yang cukup besar yang terletak di ruang tamu. Suara detakkan jarum jam dinding itu, terdengar begitu jelas karena suasana sekarang ini sangatlah tenang. Waktu yang terus menerus melaju tanpa ada yang bisa menghentikannya itu, seakan mengalir begitu saja tidak peduli manusia sedang senang maupun sedih.
Suara detakkan jarum jam yang kian terasa lembut itu, kini membuat ku merasa begitu nyaman dan membuat ku semakin dalam dan dalam lagi memejamkan mata ku. Aku rasa, tak lama lagi aku akan benar-benar tertidur di sofa ini.
***
Matahari telah berlalu, dan kini bulan telah muncul di langit, tanda malam telah tiba. Aku melihat bulan yang bersinar agak redup itu dari balkon rumah ku.
Aku memandangi bulan sambil duduk ditemani satu gelas cokelat panas yang masih mengeluarkan asap di atasnya. Di malam yang cukup dingin ini, aku menyeruput cokelat panas tersebut sedikit demi sedikit.
Sekitar satu minggu lagi hingga festival lomba sekolah akan dimulai. Aku sudah tidak sabar lagi menantikan betapa meriahnya acara tersebut. Namun, yang paling aku nantikan dari berbagai macam lomba adalah lomba puisi yang diikuti oleh Risal. Aku benar-benar ingin mendengarkan puisinya lagi dan lagi.
__ADS_1
***
Bersambung