Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 30 : Hujan Di Awal Agustus


__ADS_3

"Tentu saja ingat, kenapa kau begitu percaya diri sekali untuk menang?" Ruben sedikit melotot dan suaranya agak sedikit keras.


"Tentu saja aku percaya diri, lihatlah ke atas sekarang," Ahsan mengacungkan jari telunjuknya ke arah langit yang memang sudah menghitam mendung.


"Tetap saja belum hujan," celetuk Ruben.


"Aku kan cuma bilang siap-siap saja," balas Ahsan lagi.


"Lihat saja nanti siapa yang menang," ucap Ruben.


Lalu kami pun mempercepat langkah kami menuju minimarket karena memang langit sudah terlihat seperti akan menjatuhkan air. Suara gemuruh pun sudah mulai terdengar.


Setibanya di minimarket, kami langsung masuk untuk membeli minuman. Rasanya cukup melelahkan perjalanan tadi, ditambah suasana saat ini juga cukup gerah karena mendung.


Kami pun membeli minuman sesuai selera kami masing-masing. Ahsan membeli jus jeruk, Ruben membeli minuman bersoda, Sofia membeli susu cokelat dingin, dan aku membeli teh yang bersoda. Setelah kami selesai membayar, kami langsung duduk di kursi yang tersedia di depan minimarket tersebut.


"Sepertinya memang akan turun hujan yah?" Sofia meletakkan kotak susu yang baru saja ia minum.


"Oii apa-apaan itu Sof,, tunjukkan semangatmu dong, jangan cepat menyerah seperti itu," Ruben terlihat sangat tidak setuju dengan pertanyaan dari Sofia tersebut.


"Apa-apaan tuch, kenapa kau malah membuat Sofia terlihat sedang mendukungmu?" balas Ahsan.


Tak lama setelah itu, hujan akhirnya benar-benar turun. Diawali oleh gerimis kecil-kecil hingga akhirnya hujan menjadi cukup deras. Rasanya agak aneh terjadi hujan di bulan Agustus. Sebenarnya sekarang musim kemarau atau sudah masuk musim penghujan? Entahlah, terkadang semesta memang suka membuat kejutan-kejutan. Entah itu kejutan yang membuat senang ataupun sedih. Setidaknya hujan kali ini tidak terasa dingin sama sekali, malah sebaliknya, terasa hangat dan nyaman.


"Hahahahaha akhirnya aku yang menang," Ahsan tertawa bangga.


"Cih kenapa bisa sih hujan, apakah langit mbenciku sehingga sekarang turun hujan? Apa salahku sih," gerutu Ruben.


"Kesalahanmu cuma satu Ben, yaitu kebodohanmu itu hahahaha," ledek Ahsan.


"Haa?" Ruben kembali melotot.

__ADS_1


"Kalau di sini ada empat musim pasti menyenangkan yah?" Sofia sedikit tersenyum.


"Kenapa bisa begitu Sof?" tanya Ruben.


"Menurutmu kalau salju mencair itu jadi apa?" kali ini Sofia memandang Ruben dengan tatapan yang penuh kedamaian.


"Tentu saja menjadi air kan?" jawab Ruben dengan cepat.


"Ya itu tidak salah sih, tapi jika kamu hidup di negeri yang memiliki empat musim, kamu akan menemukan bahwa salju yang mencair itu akan berubah menjadi musim semi. Musim dimana bunga-bunga akan bermekaran kembali," jawab Sofia dengan senyuman yang terasa menghangatkan.


"Kamu sedang bikin puisi ya Sof? Kata-katamu terdengar indah tapi sulit dipahami," ucap Ruben.


"Yang sulit itu otak kau itu," celetuk Ahsan.


"Haaa? Apa maksudmu? Memangnya kau paham apa yang dikatakan Sofia barusan?" Ruben sedikit melotot.


"Tentu saja aku paham," ucap Ahsan.


Suara hujan semakin jelas terdengar. Jalanan yang tadinya lumayan ramai, kini terlihat begitu sepi. Bau tanah sewaktu terkena hujan itu hingga kini masih tercium. Langit masih saja terlihat gelap, belum ada tanda-tanda bahwa hujan akan berhenti.


***


Akhirnya sekitar pukul 18.10, hujan sudah mulai mengecil. Kini yang tersisa hanya hujan rintik-rintik kecil saja.


"Ayo kita ke halte sekarang, mumpung hujannya sudah engga deras lagi," ajak Sofia sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Ayo," ucap Ruben mengikuti Sofia.


Kami pun langsung bergegas menuju halte yang letaknya tidak jauh dari sini. Karena masih sedikit gerimis, kami pun berlari kecil saat menuju ke sana.


Setelah sampai di halte, kami pun duduk menunggu kedatangan bus. Beruntung kami tidak terlalu lama menunggu, karena baru sekitar lima menit kami tiba, bus sudah datang. Suasana bus kali ini agak sepi. Kami berempat pun bisa duduk saling berdekatan.

__ADS_1


Sepanjang perjalan, kami mengobrol tentang banyak hal. Tentu saja aku lebih banyak mendengarkan dari pada berbicara. Untuk kali ini, Ruben dan Ahsan tidak terlibat perdebatan seperti apa yang selalu mereka lakukan biasanya. Kali ini, mereka terlihat betul-betul menikmati waktu yang kita berempat habiskan bersama.


Sejujurnya perhatian terbesarku bukan lah pada percakapan kami, akan tetapi aku diam-diam memperhatikan wajah Sofia yang juga terlihat sangat bahagia. Aku bahkan sampai tenggelam dan terkadang tidak mendengar apa yang sedang jadi topik pembicaraan.


Hingga saat ini, aku masih saja berdebar-debar bila bertemu Sofia. Aku penasaran apakah ia juga berdebar-debar bila bertemu denganku? Entahlah.


Akhirnya kami pun sampai di halte dekat sekolah, kami pun langsung kembali menuju sekolah untuk mengambil sepeda milik Ahsan dan Sofia. Setelah itu, kami berempat pun berpisah untuk kembali ke rumah kami masing-masing.


Tadi sepulang sekolah, sebelum aku naik bus, aku sudah mengirimkan pesan pada ibuku bahwa aku mungkin akan pulang terlambat hari ini. Jadi paling tidak ia sudah tahu bahwa aku pulang terlambat hari ini.


Genangan air bekas hujan tadi sore masih belum mengering. Hawa malam ini pun cukup dingin. Walaupun hujan sudah berhenti, akan tetapi sepertinya langit masih saja tertutup awan hitam. Buktinya bulan dan bintang seperti sedang tertutup dan masih samar-samar terlihat.


Tiba-tiba saat aku masih memandangi langit malam, ponselku bergetar. "Sepertinya ada pesan yang masuk," begitu pikirku.


Ternyata benar, aku memang mendapat sebuah pesan. Dan yang membuatku sangat senang adalah pesan terbit dari Sofia."Terima kasih hari ini :)," tulis pesan tersebut. Ngomong-ngomong ini adalah pesan pertamanya kepadaku.


Setelah selesai membacanya, aku kembali memasukkan ponselku ke dalam saku. Aku kembali menatap langit. Bedanya, kali ini aku menatap langit dengan senyum di wajahku.


Sesampainya di rumah, aku langsung mandi dan kemudian makan malam. Kali ini, aku menyantap makan malamku sendiri, karena ibu dan Hana sudah selesai menyantap makan malam mereka dari tadi. Setelah selesai menyantap makan malam, aku langsung menuju ke kamarku dan langsung membaringkan diriku di kasur.


Aku berbalik dan memandangi langit-langit kamarku yang cukup silau terkena cahaya lampu. Lalu, aku memejamkan mataku untuk beberapa saat. Begitu aku mulai memejamkan mata, aku langsung bisa melihat wajah Sofia yang sedang tersenyum itu. Senyumannya begitu membekas.


Suara gemuruh kembali terdengar dari langit, sepertinya akan turun hujan lagi malam ini. Rasanya aku akan tidur lebih awal kali ini. Sebelum tidur, aku pun menyempatkan untuk membaca kembali materi-materi yang telah diberikan. Beberapa kali aku pun sempat menguap saat membaca materi-materi itu.


45 menit kemudian, aku sudah merasa sangat mengantuk. Aku pun menutup kembali buku-buku catatan yang tadi aku baca. Aku mematikan lampu terlebih dahulu sebelum tidur.


Bersamaan dengan aku yang baru saja berbaring untuk tidur, hujan pun turun. Aku sejujurnya sangat suka bila hujan malam-malam seperti ini. Aku menyukai suasana seperti ini yang sangat nyaman sekali untuk tidur. Baru saja bulan Agustus berjalan dua hari, tapi rasanya sudah banyak hal yang terjadi di bulan ini.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2