Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 32 : Panggilan Masuk


__ADS_3

Setelah didata, anggota baru yang bergabung tahun ini ada 28 anak. Sementara total anggota ekstrakulikuler Sepak Bola secara keseluruhan dari kelas 10 hingga 12 ada 76 anak.


"Untuk anggota baru silahkan berkumpul di depan saya," ucap pak Bimo.


Kami pun langsung melaksanakan apa yang pak Bimo perintahkan.


"Jadi untuk pertemuan pertama kali ini, kalian harus memilih terlebih dahulu posisi mana yang ingin kalian tempati. Ada empat pilihan secara umum, yaitu pemain depan, tengah, belakang, dan kiper. Silahkan kalian pikirkan baik-baik posisi mana yang ingin kalian pilih. Saya beri waktu kalian sepuluh menit untuk berpikir. Dimulai dari sekarang," lanjut pak Bimo.


Sejujurnya, aku masih belum tahu aku harus memilih posisi apa. Aku juga tidak tahu posisi apa yang memang cocok untukku.


"Kau mau pilih posisi apa Lang?" tanya Ahsan yang datang menghampiriku bersama Ruben.


"Entahlah, aku masih belum tahu nih. Menurut kalian aku lebih baik pilih posisi apa?" aku menatap wajah mereka.


"Hmmm apa ya... kau suka nonton Sepak Bola di TV Lang?" tanya Ahsan lagi.


"Aku tidak menyukainya juga tidak membencinya. Biasa saja," Jawabku datar.


"Apa-apaan tuch," Ahsan nampak kebingungan.


"Kalau menurutku kau paling cocok jadi kiper saja Lang," usul Ruben tiba-tiba.


"Benarkah?" aku memastikan.


"Oi oi jangan memutuskan seenak jidat begitu Ben," balas Ahsan.


"Bagaimana kalau begini, kau lebih suka mencetak gol, mengoper, merebut, atau menangkap bola? Kau pilih yang mana diantara itu?" lanjut Ahsan.


"Mungkin aku lebih suka mengoper bola," jawabku.


"Begitu ya...kalau begitu menurutku nanti kau pilih untuk menjadi pemain tengah saja. Kau coba saja," usul Ahsan.


"Kenapa bisa begitu?" Ruben terlihat bingung.


"Kau mana mungkin paham," jawab Ahsan sinis.


"Baiklah kalau begitu, aku akan mencoba untuk memilih pemain tengah. Makasih San atas saranmu," ucapku pada Ahsan.


"Hahaha bukan masalah besar," Ahsan tertawa.


Akhirnya aku pun memilih pemain tengah, Ahsan pemain belakang, dan Ruben memilih untuk di posisi kiper. Sementara itu Renaldi memilih posisi pemain belakang sama seperti Ahsan, dan Aji lebih memilih posisi pemain depan.


Setelah pambagian posisi selesai, pak Bimo lalu melanjutkan menu latihan untuk memulihkan kebugaran kami. Selebihnya pak Bimo memberikan teknik-teknik dasar dalam bersepak bola terutama kepada kami anggota baru.

__ADS_1


Aku sedikit terkejut ketika aku melihat laki-laki yang tempo hari berangkat bersama Sofia. Ternyata laki-laki itu juga ikut ekstrakulikuler Sepak Bola, selain itu dia juga satu kelompok denganku yaitu pemain tengah. Saat perkenalan tadi, aku lupa siapa namanya tapi yang jelas dia berasal dari kelas 12.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.30. Tandanya ekstrakulikuler hari ini akan segera berakhir. Kami lalu mengumpulkan kembali peralatan yang tadi dipakai untuk latihan, lalu mengembalikannya ke ruang peralatan olahraga.


Setelah itu, aku, Ruben, dan Ahsan beristirahat di kantin sekolah sambil membeli minum. Dari kami bertiga, Ruben lah yang paling nampak kelelahan.


"Hahaha kenapa mukamu tambah jelek begitu?" ledek Ahsan.


Ruben tampak tak menggubris ledekkan dadi Ahsan seperti biasanya. Mungkin dia lebih merasa kelelahan dari pada yang terlihat.


"Kalian mau pesan minum apa? Biar aku yang pesankan," ucapku pada mereka.


"Eh benarkah? Yasudah aku pesan es teh saja," ucap Ahsan.


"Kalau kau Ben?" tanyaku lagi.


"Es...teh...," nafas Ruben tampak masih terengah-engah.


"Oke, tunggu sebentar ya biar aku pesankan," aku lalu menuju penjaga warung untuk memesan minuman.


Kami pun menunggu beberapa saat hingga pesanan kami datang.


"Ini pesanannya, tiga es teh kan?" ucap penjaga warung sambil meletakkan tiga gelas es teh yang tadi aku pesan.


"Wah sebentar lagi kita akan pensiun yah hahaha," ucap salah seorang dari mereka.


"Iya ya sayang sekali. Yang lebih menyakitkan semester kemaren kita gagal ke provinsi ya. Padahal tinggal satu langkah lagi," timpal anak yang lain.


"Hahaha setidaknya kita sudah berjuang keras selama kita bermain untuk sekolah ini," balas laki-laki yang berangkat bersama Sofia pada hari Senin.


"Tapi sepertinya tahun ini talenta yang masuk ada yang menjanjikan," lanjutnya.


"Benarkah? Siapa saja Jo?" tanya salah seorang pada laki-laki yang berangkat bersama Sofia.


"Yang aku tahu baru Aji dan Ahsan dari kelas 10-7. Aku dengar mereka sangat hebat waktu di SMP. Selain mereka aku yakin masih ada yang hebat lagi," jawabnya.


"Ya ku harap juga begitu hahahaha," balas yang lainnya.


"Eh itu namamu disebut-sebut loh," ucap Ruben pada Ahsan.


"Bukan apa-apa. Mungkin mereka hanya melebih-lebihkan saja," balas Ahsan.


Setelah selesai minum, kami bertiga pun langsung bergegas ke rumah kami masing-masing.

__ADS_1


"Sampai bertemu besok yah," ucap Ruben.


***


Aku jadi semakin penasaran tentang laki-laki yang waktu itu berangkat bersama Sofia. Kira-kira apa hubungannya dengan Sofia yah?


Lampu-lampu jalan sudah mulai menyala. Langit sudah semakin gelap. Aku mempercepat langkahku agar segera sampai di rumah.


Sesampainya di rumah, aku langsung menuju kamar mandi untuk mandi. Hari ini rasanya cukup melelahkan.


Saat aku masuk ke kamarku, aku melihat novel 'Hujan Di Bulan' tergeletak di mejaku. Aku jadi ingat kalau sudah lama aku tidak membaca novel tersebut. Entah kenapa aku sedang tidak mood untuk membacanya.


Tak lama berselang, Hana dan ibu pulang. Hari ini mereka pulang sudah membawa makanan. Mereka terlihat membeli nasi goreng untuk makan malam.


"Gimana ekstrakulikulernya Lang? tanya ibuku di meja makan.


"Hmm biasa saja," jawabku singkat.


"Kak besok hari Minggu datang ya ke sekolahku?" pinta Hana.


"Eh ada apa emangnya?" tanyaku balik.


"Besok ada acara pentas seni di sekolah, jadi besok Hana akan tampil hehe," Hana tertawa.


"Wah keren, mau tampil apa besok Hana?" tanyaku lagi.


"Rahasia, makanya besok kakak nonton ya."


"Pasti kakak nonton haha," Aku tertawa.


"Kakak juga boleh ajak teman-teman kakak kok biar tambah meriah," ucapnya lagi.


"Eh benarkah?"


"Iya, ajak saja hehe."


"Baiklah kalau begitu, kakak akan ajak mereka."


Setelah selesai makan malam, aku langsung kembali ke kamarku. Aku berbaring sambil menatap langit-langit kamarku. Tiba-tiba saja aku teringat tentang Ayah. Aku masih ingat betul hari dimana langit sangat gelap. Langit yang tidak mengeluarkan air hujan, tetapi air mata. Tidak ada pelangi setelahnya. Hari yang sangat berat dilalui. Jika ayah masih hidup, kira-kira apakah ayah akan senang melihatku seperti sekarang ini ya? Entahlah.


Disaat aku sedang melamun mengenang ayah, tiba-tiba saja ponselku bergetar. Aku langsung memeriksanya dan ternyata Sofia yang menelponku. Kira-kira ada apa ya sampai-sampai ia menelponku malam-malam begini?


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2