
"Iya hampir aja. Mungkin kami malah bisa menang loh, tapi sayang," ucapan Ruben terhenti.
"Sayang kenapa?" tanya Celine dengan polos.
"Aku gak papa kok sayang hehehe," Ruben lagi-lagi mengeluarkan senyuman termenawannya.
"Pepet terossssss," timpal Fahmi.
"Ya ampun Lin... Udah blokir aja Ruben," ucap Fani dingin.
"Hehehehe," Celine hanya tersipu.
"Oi ini bukan WA atau sosial media lainnya. Mana bisa diblokir," ucap Ruben menanggapi ucapan Fani yang dingin tadi.
"Udah bener itu, blokir aja," Ahsan mengompor-ngompori.
"Kenapa kau tiba-tiba ikut campur haaaa?" ucap Ruben.
"Hati-hati kalian bertiga sama Ruben. Sekali kalian lengah, mungkin kalian sudah tidak bisa kembali lagi," ucap Ahsan pada Celine dan kedua temannya itu.
"Apa maksud kalimat mu itu? Memangnya aku tukang culik atau semacamnya?" ucap Ruben tidak terima.
"Hehehehe kalian keliatan akrab sekali yah," ucap Celine.
"Man mungkin..." ucap Ahsan dan Ruben bersamaan.
"Hehehehe tuh kan," ucap Celine sambil tertawa lagi.
"Sudah-sudah, yang penting tadi Celine udah nonton pertandingan kita. Nanti juga kalian akan nonton kan?" Calvin mencoba untuk mengalihkan topik.
"Iya, tentu saja kami akan menonton. Kalian kan satu-satunya wakil kelas 10 yang masih berkesempatan untuk jadi juara. Kalian juga tadi mainnya keren banget. Aku jadi suka nonton kalian," ucap Celine dengan lembut.
"Suka permainannya apa suka orangnya?" ucap Ruben menggoda.
"Kenapa kau jadi terlihat seperti pemeran utamanya? Bukankah tadi kau malu-malu untuk menawari Celine dan yang lainnya bergabung dengan kita? Kenapa sekarang malah kau yang terlihat begitu mendominasi?" protes Fahmi.
"Sudahlah... Bukan masalah besar. Lagi pula untuk apa membahas masalah sepele seperti itu," balas Ruben.
"Sudah-sudah hahaha. Maaf ya Lin, anak-anak di kelas kami memang suka berdebat seperti itu. Harap maklum aja," ucap Calvin.
__ADS_1
"Gak papa kok," ucap Celine singkat.
"Kalian kelihatan sudah akrab banget. Kalian sudah saling kenal yah?" tanya Devi.
"Sebenarnya aku dan Celine dulu satu sekolah waktu SMP. Kami juga sempat satu kelas di kelas 8 dan 9, makanya kami cukup akrab," jelas Calvin.
"Wah pantesan... Sekarang masuk akal kenapa kau langsung berani untuk mengajak Celine duduk bareng kita... Ternyata... Hmm... Dunia memang tidak adil yah," ucap Ruben.
"Katanya kau bilang itu bukanlah masalah besar dan tak perlu dibicarakan. Kenapa kau malah mulai membicarakannya lagi Ben?" ucap Fahmi.
"Oh iya yah, benar juga. Aku lupa hahahaha," Ruben hanya tertawa.
"Sudah Mi, jangan ladeni Ruben terus. Nanti kau malah ketularan bodohnya itu. Satu orang bodoh saja udah merepotkan, apalagi kalau sampe ada dua," ucap Ahsan.
"Apa maksud mu haaaa?" protes Ruben.
"Bukan apa-apa," ucap Ahsan santai.
"Oi Lang kenapa kau diam saja, sakit perut?" tiba-tiba Ruben menyinggung ku.
"Enggak kok. Aku tidak tahu harus ngomong apa jadi aku pikir lebih baik diam saja. Lagi pula, aku cukup menikmati percakapan kalian tadi. Rasanya, seperti aku sedang menonton sebuah pertunjukan saja," ucap ku.
"Hihihihi," Celine tiba-tiba tertawa.
"Eh kenapa Lin ketawa? Jangan manis-manis atuh... Nanti gula minder loh sama kamu," kali ini Fahmi yang mencoba menggoda Celine.
"Kalian... Kalian emang lucu banget. Bener apa kata Galang tadi. Rasanya memang seperti sedang menonton sebuah pertunjukan komedi hihihihi," ucap Celine yang masih setengah tertawa itu.
***
Karena terlalu asik mengobrol dengan Celine dan teman-temannya, kami pun sampai lupa waktu. Kami lalu langsung kembali menuju ke lapangan futsal untuk menemui anggota tim yang lain.
Saat kami sudah sampai di lapangan futsal, ternyata tinggal beberapa menit lagi kami akan bertanding. Lawan kami di pertandingan yang akan digelar sebentar lagi itu adalah kelas XII IPS 4. Di semifinal, mereka harus mengakui keunggulan kelas XII IPA 4, yaitu kelas yang dipimpin kak Jo. Kata Aji, mereka pada akhirnya harus menelan kekalahan dengan skor 3-0.
"Sori yah, tadi kami keasikan ngobrol jadi lupa waktu," ucap Calvin pada Aji dan yang lainnya.
"Iya gak papa. Untung aja gak sampe telat," ucap Aji yang sudah memulai melakukan pemanasan mandiri.
"Gimana nih strategi buat ngelawan kelas 12 IPS 4?" tanya Ahsan.
__ADS_1
"Sepetinya kita tiru strategi milik kelasnya kak Jo aja. Gaya permainan mereka juga mirip sama kita," ucap Aji.
"Okeee," balas Ahsan.
"Terus yang main pertama siapa aja nih?" tanya Ruben.
"Aku main di babak kedua ajalah, Tomi yang main duluan. Jadi yang main itu Ruben, Ahsan, Galang, Renaldi, sama Tomi," ucap Aji.
***
Akhirnya, sudah tiba saatnya kami memasuki lapangan pertandingan dan mulai melakukan pemanasan. Di saat yang lain sudah mulai melakukan pemanasan, aku sebagai kapten tim dipanggil wasit untuk menentukan apakah akan mendapatkan bola atau gawang terlebih dahulu.
"Angka atau gambar?" tanya Wasit pada ku sebelum melemparkan koin kecil yang sedang ia pegang itu.
"Angka," jawab ku.
"Berarti 12 IPS 4 gambar yah," lanjut wasit.
Kapten dari kelas 12 IPS 4 pun terlihat mengangguk tanda setuju. Wasit lalu melemparkan koin yang dipegangnya itu ke atas. Saat koin sudah mulai jatuh, ia pun dengan sigap menangkap dan langsung meletakkan koin itu di atas punggung tangan. Hasilnya, gambar yang keluar.
"Karena gambar yang keluar berarti kelas 12 IPS 4 boleh menentukan terlebih dahulu mau ambil bola atau gawang terlebih dahulu," ucap Wasit.
"Kalau begitu kami ambil bola aja terlebih dahulu," ucap kapten tim 12 IPS 4 tanpa banyak berpikir.
"Berarti kelas 10-7 akan mendapatkan gawang. Mau pilih gawang sebelah mana dulu?" tanya wasit itu pada ku.
"Karena kami sudah ada di sisi timur, maka aku akan memilih gawang sisi timur saja," ucap ku.
"Baik kalau begitu, segera posisikan pemain yang lainnya. Permainan akan segera dimulai," ucap wasit itu.
Aku lalu bilang pada teman-teman ku yang lainnya untuk segera menempati posisi mereka masing-masing karena pertandingan akan segera di mulai. Khusus dipertandingan kali ini dan pertandingan final nanti, durasi pertandingan adalah 15 menit satu babaknya. Dan jeda istirahat adalah 10 menit.
Pritttttttt. Wasit sudah meniup peluit tanda dimulainya pertandingan untuk memperebutkan juara ketiga ini. Suara riuh penonton langsung menggema berbarengan dengan suara peluit tadi. Entah ini cuma perasaan ku atau memang nyata, penonton pada pertandingan kali ini terlihat lebih ramai dan lebih banyak dari pada pertandingan-pertandingan sebelumnya.
Atmosfer yang aku rasakan pun cukup berbeda. Aku entah kenapa, jadi merasa sedikit grogi. Aku tau ini adalah pertandingan perebutan gelar juara ketiga, jadi keramaian dan jumlah penonton pun meningkat dengan sangat drastis. Aku jadi tidak terbayang akan seperti apa suasana pada saat laga final nanti yah? Apa lagi laga final nanti akan mempertemukan kak Jo dan kak Taufik. 2 pemain yang paling berpengaruh di tim sepak bola.
***
Bersambung
__ADS_1