
15 menit setelah lewat jam 10, Ruben akhirnya datang. Dia terlihat datang dari arah selatan dengan tergesa-gesa. Ia pun berlari cukup cepat.
"Lihat tuh, si anak yang selalu telat akhirnya datang," ucap Ahsan.
"Wah akhirnya datang juga," timpal Devi.
Ruben terlihat sudah melambaikan tangannya dari sebrang jalan sana. Ia kini sedang melihat kanan-kiri-kanan untuk menyebrangi jalan.
"Maaf teman-teman aku terlambat ha... ha... ha..." napas Ruben terengah-engah.
"Dari mana saja kau baru datang? Kita jadi nunggu lama nih dasar bodoh," kata-kata 'mutiara" Ahsan langsung menyambut keterlambatan Ruben.
"Haaa? Aku kan sudah minta maaf," timpal Ruben.
"Maaf kata mu? Memangnya dengan maaf kau bisa mengembalikan 15 menit waktu kita yang terbuang sia-sia? Coba kau bayangkan, kita membuang 15 menit dari hidup kita hanya untuk menunggui orang macam kau ini. Bukankah itu hak terburuk yang pernah kau dengar?" gumam Ahsan lagi.
"Haaa? Apa maksud mu?" timpal Ahsan.
"Hihihihi sudah-sudah. Untuk menyingkat waktu, ayo kita ke halte saja sambil menunggu bus datang," ucap Celine yang tertawa melihat tingkah Ruben dan Ahsan. Sebenarnya bukan hanya Celine, kami semua juga tertawa melihat tingkah mereka berdua. Bahkan Hana juga tertawa.
***
"Sudah ku bilang aku tidak sengaja," ucap Ruben.
"Gak sengaja kata mu? Lalu apa alasan mu sampai kau terlambat begini? Lagi pula, kau juga selalu terlambat kan? Apakah semua keterlambatan mu itu adalah hal yang tidak sengaja?" ucap Ahsan lagi.
"Siapa bilang aku selalu terlambat? Aku juga pernah tepat waktu kok, jangan sombong gitu yah," ucap Ruben.
"Oi oi lihat busnya sudah datang tuh, ayo kita naik. Atau kalian mau kami tinggal?" ucap ku.
Kami semua lalu langsung memasuki bus yang baru saja datang itu. Lama perjalanan dari sini menuju ke kebun binatang mungkin sekitar 30 menit jika perjalanan lancar.
Penumpang pagi ini cukup banyak. Meskipun begitu, kami masih beruntung karena masih ada kursi kosong untuk kami bertujuh. Aku duduk dengan Hana, Ruben dengan Ahsan, dan Celine, Devi, Fani mereka duduk berdekatan.
"Rasanya udah lama gak naik bis kayak gini," ucap Hana saat baru duduk di kursi.
__ADS_1
"Sama, kakak juga hahaha," timpal ku.
"Meluncurrrr," ucap Hana saat bus sudah mulai berjalan.
***
Saat sudah sekitar 10 menit di dalam bus, aku diam-diam melirik ke arah Celine dan 2 temannya itu. Tentu saja, yang paling menyita perhatian ku adalah Celine. Entah kenapa, setiap kali aku mengobrol atau sedang berada di dekatnya, hati ku berdegup begitu kencang, tapi terasa membahagiakan. Aku penasaran, kira-kira dia merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan tidak yah? Entahlah.
Aku masih memperhatikannya. Saat ini, dia mungkin masih belum menyadari kalau aku sedang memperhatikannya. Dia terlihat sedang mengobrol dengan Devi dan juga Fani. Aku tidak mendengar apa yang sedang mereka bicarakan, tapi jika dilihat dari ekspresi yang ditunjukkan Celine, obrolan itu pasti sangat menyenangkan dan menarik.
Untuk sesaat, entah kenapa aku bisa melupakan soal Cindy yang tidak mau berbicara dengan ku lagi hanya dengan memandangi wajah Celine. Rupanya saat ia tersenyum, rupanya saat ia tertawa, rupanya saat ia bahagia, rupanya saat ia senang, semuanya itu terasa begitu menyejukkan hati.
Saat aku sudah mulai tenggelam dalam memperhatikannya, tiba-tiba saja Celine juga melirik ke arah ku. Untuk sesaat, kedua sorot mata kami saling bertemu sebelum kami sama-sama membanting pandangan kami ke dua sisi yang berbeda. Saat pandangan kami bertemu tadi, hati ku terasa seperti 'Deg' berhenti dan lalu langsung berdegup dengan kencang sebelum aku benar-benar mengalihkan pandangan ku lagi.
Aku tidak tahu Celine sengaja atau tidak saat melihat ke arah ku tadi. Yang jelas aku sudah cukup merasa senang hanya dengan hal seperti itu.
"Oh lihat itu kak?" tanya Hana sambil menunjuk sebuah patung yang sepertinya baru saja dibangun itu. Aku sendiri baru melihat patung itu di situ.
"Itu patung Gajah Mada. Sepertinya itu baru selesai dibangun beberapa hari yang lalu," jawab ku.
"Gajah Mada itu bukan nama hewan, tapi nama salah satu tokoh sekarang penting loh. Gajah Mada itu dikenal sebagai Patih di kerajaan Majapahit dulu. Kamu memang belum mendapat materi itu yah?" tanya ku.
"Gak tau kak lupa hehehehe," ucap Hana dengan polos.
"Ya besok coba dibaca lagi hahaha," aku tertawa.
***
"Masih lama ya kak?" tanya Hana yang terlihat sudah mulai bosan.
"Sebentar lagi sampai kok. Tadi agak macet jadi agak lama," jawab ku mencoba menenangkan Hana.
"Oh begitu yah," jawab Hana lirih. Kali ini ia tampak tidak sesemangat seperti saat tadi pagi.
***
__ADS_1
Akhirnya kami telah sampai di halte terdekat menuju ke kebun binatang. Jarak kebun bianatang dari sini sekitar 200 meter, jadi tidaklah terlalu jauh. Sekarang ini waktu sudah menunjukkan hampir pukul 10, jadi matahari sudah agak tinggi dan sudah mulai terasa menyengat. Kami pun langsung buru-buru menuju ke kebun binatang.
"Ayo kak cepat-cepat," ucap Hana saat berlari paling depan menuju ke meja loket.
"Hati-hati Hana," ucap ku yang mengikutinya dari arah belakang.
Suasana kebun binatang saat ini cukup ramai. Terlihat antrean yang cukup panjang sudah menanti di depan sana. Kami pun harus bersabar lagi hingga benar-benar bisa masuk ke dalam sana.
***
Akhirnya, setelah cukup lama mengantre, akhirnya kami bertujuh sudah bisa mendapatkan tiket dan sekarang kami sudah berada di dalam kebun binatang. Aku lupa kapan tepatnya terakhir kali aku datang ke sini, mungkin saat ayah masih hidup? Atau aku pernah ke sini lagi setelah ayah meninggal? Entahlah aku tidak terlalu mengingatnya.
Salah satu hal yang masih aku ingat adalah patung dua dinosaurus yang saling berhadapan ini terlihat masih sama seperti pada saat aku terakhir melihatnya. Tinggi kedia patung ini mungkin sekitar 5-7 meter.
"Wah sudah lama sekali rasanya kau tidak kesini. Mungkin terakhir kali aku ke sini waktu aku masih SD," ucap Ruben.
"Siapa?" tanya Ahsan.
"Akulah, siapa lagi," timpal Ruben.
"Yang nanyaaaaaa," balas Ahsan dengan cepat yang membuat kami semua tertawa.
"Hahaha kak Ahsan sama kak Ruben lucu banget deh. Kenapa gak jadi pelawak aja kak?" ucap Hana polos.
"Sebenarnya kakak tidak masalah jika jadi pelawak atau apa pun itu, tapi satu yang jadi masalah kakak," jawab Ahsan.
"Apa itu kak?" tanya Hana penasaran.
"Kakak tidak mau bekerja berdekatan dengan orang yang bernama Ruben," jawab Ahsan.
"Haaa? Memangnya ada masalah apa?" tanya Ruben.
"Gak papa, lupakan saja hahaha," Ahsan hanya tertawa.
***
__ADS_1
Bersambung