Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 153 : Pingsan


__ADS_3

Prittt. Pertandingan babak pertama antara 2 tim yang terdiri dari para pemain yang tidak terpilih seleksi pun dimulai. Kali ini, aku langsung bermain dari menit pertama, begitu juga Ruben.


Sejujurnya, saat ini keadaan ku masih juga belum membaik. Aku masih merasa sedikit pusing dan lemas. Namun, jika aku tidak bermain, aku takut kesempatan ku untuk nanti terpilih menjadi tim utama akan tertutup. Oleh karena itu, aku telah memutuskan untuk mengerahkan apa yang aku punya di pertandingan ini.


Awalnya semua berjalan cukup lancar, namun setelah beberapa menit berjalan, aku mulai merasakan rasa pusing ku menjadi semakin parah. Dan rasa lemas ku juga. Saat ini, aku sudah sangat kesulitan untuk berlari.


Hingga tiba pada menit ke-6 pertandingan, tiba-tiba saja aku tidak bisa merasakan apa-apa dan semuanya terasa gelap. Bruggh. Aku lalu jatuh tersungkur ke tanah. Sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaran ku, aku masih sempat mendekat beberapa orang di sekitar ku berteriak dan juga berlari ke arah ku. Namun, aku tidak ingat apa yang mereka teriakkan itu, dan siapa yang langsung berlari menghampiri ku pun aku tak mengingatnya.


***


Di UKS sekitar pukul 18.10, aku pada akhirnya kembali sadarkan diri. Di samping kanan-kiri tempat aku terbaring ini terlihat ada beberapa orang yang sedang menunggui ku. Saat ini, aku belum bisa melihat mereka dengan jelas. Kepala ku, masih terasa sedikit pusing. Dan penglihatan ku juga masih buruk.


Setelah beberapa menit, akhirnya aku sudah bisa berpikir dengan baik dan melihat dengan baik lagi. Sekarang aku bisa mengenali orang-orang yang sedang berada di samping kiri kanan ku ini. Ada Ruben, Ahsan, Aji, Renaldi, dan juga Cindy. Aku sempat terkejut ketika mendapati Cindy ternyata juga ikut menunggui ku.


"Lang? Lang? Lang?" ucap Ruben berulang kali.


"Ya?" jawab ku pelan.


"Gimana keadaan mu sekarang? Sudah merasa baikan?" sekarang giliran Aji yang bertanya.


"Ya sudah lumayan," jawab ku.


"Kau ini... Kan sebelumnya sudah aku ingatkan untuk tidak usah ikut latihan terlebih dahulu. Tapi, kau malah ngeyel. Lihat apa yang terjadi pada mu sekarang," ucap Ruben.


"Iya maaf. Soalnya, aku sangat ingin sekali terpilih menjadi pemain yang mewakili sekolah kita besok untuk turnamen. Jadi, aku merasa tidak ada pilihan lain," ucap ku.


"Entah kenapa perkataan Ruben tadi untuk sesaat terdengar seperti perkataan seorang ibu hahaha," ucap Ahsan.


"Oi kau jangan berisik, Galang masih belum cukup sehat untuk bisa mendengar suara tawa mu yang mengerikan itu," gumam Ruben.


Aku tersenyum tipis lalu berkata, "Gak papa kok. Justru kalau gak ada keributan, rasanya jadi agak sepi."


"Oi oi oi. Itu pujian atau sindiran sih?" ucap Ahsan.

__ADS_1


"Hahahaha," seisi ruangan tertawa, kecuali Cindy. Entah kenapa, dari semua yang sedang berada di ruangan ini, Cindy lah yang terlihat paling cemas. Raut wajahnya itu, mengatakan semuanya.


"Makasih juga ya Cin, kamu udah mau jagain aku sama yang lainnya. Maaf juga jadi ngrepotin. Ngomong-ngomong kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya ku.


"Oi Lang, kenapa kau cuma mengucapkan terima kasih kepada Cindy? Untuk kami mana nih?" timpal Ahsan.


Plak. Ahsan langsung menepuk punggung Ruben dengan cukup keras.


"Iyauuu. Apa-apaan sih kau ini," ucap Ruben.


"Gak papa kok Lang. Aku sama sekali gak repot kok. Tadi aku kebetulan sedang dari perpustakaan, terus aku lihat kamu sedang di tandu ke UKS. Lalu, aku langsung ke sini," jawab Cindy.


"Oh begitu yah... Makasih ya..." ucap ku.


"Oi Lang, sudah dua kali kau mengucapkan makasih pada Cindy loh... Buat kami mana nih?" gumam Ruben lagi.


Plakkk. Lagi-lagi Ahsan menepuk punggung Ruben dengan cukup keras. Hanya dengan mendengar suara yang ditimbulkan, aku sudah bisa membayangkan bagaimana rasanya.


"Kau kan tadi yang menyuruh ku untuk diam kan? Kenapa sekarang malah kau yang berisik?" timpal Ahsan.


"Oh iya maaf. Makasih juga buat kalian yah sudah mau membantu membawa ku ke sini. Sekali lagi makasih," ucap ku yang masih pelan.


"Hehehe bukan masalah besar kok," ucap Ruben.


"Kenapa kau bicara seolah-olah kau yang paling berkontribusi? Bukannya yang membawa Galang ke sini Renaldi dan Aji yang menggunakan tandu? Kau kan dari awal cuma bicara saja tanpa melakukan apa-apa," ucap Ahsan.


"Haaa apa maksud mu?" Tentu saja aku melakukan apa-apa. Mungkin penglihatan mu sudah tertutup untuk melihat perbuatan baik ku ini," balas Ruben.


"Hahaha sudah-sudah. Yang terpenting sekarang adalah kita cari makan dulu buat Galang biar dia ada tenaga dulu," ucap Aji.


"Ide bagus tuh. Kau mau makan apa Lang?" tanya Ruben.


kruyuk kruyuk kruyuk. Bunyi perut Ruben yang menandakan perutnya keroncongan.

__ADS_1


"Bwahahahahaha," Ahsan langsung tertawa sangat keras, "apa-apaan itu. Ternyata kau lapar juga yah."


Teooooo. Bunyi suara perut Ahsan setelah selesai mengejek Ruben.


"Ha? Hahahahahaaha. Apa-apaan itu. Perut mu bunyi juga tuh. Makanya kalau punya mulut sama perut tuh disekolahin biar saling sinkron hahaha," ucap Ruben gantian mengejek Ahsan.


"Hahahahaha," kini seisi ruangan tertawa.


"Ya sudah mending kita cari makan ja yuk? Kau mau makan apa Lang?" tanya Aji.


"Eh ga usah repot-repot. Aku makan di rumah saja. Mending kita pulang sekarang saja. Lagian juga sudah gelap," ucap ku yang merasa tidak enak jika mereka membantu ku lebih dari ini.


"Sudah gak papa. Kita kan teman. Sudah sepantasnya kan kita saling membantu," ucap Aji lagi.


"Betul tuh Lang. Kan sebelumnya juga sudah aku katakan kan untuk jangan terlalu kaku. Santai saja," timpal Ruben.


"Kalau memang kalian tidak keberatan ya sudah gak papa. Sekali lagi makasih ya..." ucap ku yang entah kenapa merasa terharu dengan ucapan dan perilaku teman-teman ku ini.


"Jangan cuma makasih... Kau belum mengatakan makanan apa yang ingin kau makan lohh," ucap Aji.


"Oh iya maaf. Kalau begitu tolong belikan ayam goreng dengan nasi hangat saja," ucap ku lirih.


"Okeee siap. Sekarang siapa yang mau menanami ku pergi beli makanan? Oiya ini semuanya sama rata beli nasi sama ayam goreng saja yah? Kita makan di sini saja. Biar bisa rame-rame makannya. Kan orang-orang bilang kalau makan bersama-sama akan terasa lebih enak dari pada makan sendirian," ucap Aji.


"Setuju tuh," ucap Ahsan dan Ruben bersamaan.


"Haaa kenapa kau sering sekali meniru ucapan ku sihh?" gumam Ruben.


"Siapa juga yang meniru mu? Jika aku tahu kau akan mengatakan hal itu, aku pasti tidak akan mengatakan hal yang sama selama 1000 tahun," timpal Ahsan.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2