
Jebrettttt. Aku menembak ke arah samping kiri kiper. Sayang, tembakan ku hanya mencium mistar gawang dan lalu meninggalkan lapangan pertandingan.
"Wah tadi itu hampir aja Lang," ucap Aji lalu kembali menuju ke posisi bertahan.
"Siallll," begitu jerit ku dalam hati. Aku pun lalu kembali ke posisi bertahan sama seperti Aji.
"Ayo tahan-tahan. Tinggal 2 menit lagi, tahannn," ucap Aji lagi saat sudah sampai pada posisinya.
Bola kini telah kembali ke lapangan pertandingan dan sedang dikuasai oleh musuh. Kali ini kami tidak terlalu menekan lawan. Kami hanya akan menunggu lawan melewati garis tengah baru kami akan mengejarnya. Hal ini diterapkan agar stamina kami tidak cepat habis.
Tiba-tiba suatu kesalahan dilakukan oleh pemain lawan. Bola yang seharusnya diumpankannya kepada rekannya, malah mendarat dengan santai di kaki Aji. Aji lalu langsung berlari dengan kencang ke arah pertahanan lawan.
Tepat setelah aji berlari, aku pun ikut berlari. Aku berlari di sisi yang lain dari aji. Aji berlari di sisi kanan, sementara aku berlari di sisi kiri lapangan. Kini 2 pemain langsung mengejar dan mencoba untuk menutup ruang tembak Aji, akan tetapi sepertinya mereka melupakan kehadiran ku kali ini. Aku saat ini sungguh bebas tanpa ada yang mengawal.
Aji yang melihat ku dalam posisi bebas tanpa kawalan berpura-pura akan menembak. Saat lawan sudah bergerak untuk menghalau tembakannya, Aji langsung berbalik arah dan mengumpankan bolanya kepada ku. Aku yang berdiri bebas langsung menendang bola umpan tersebut dengan tenang ke arah atas kanan gawang.
Walaupun tembakan ku tidak terlalu keras, akan tetapi kiper terlihat kaget dan mati langkah. Ia hanya melihat bola sepakan ku masuk ke gawangnya dengan perlahan. Akhirnya, aku berhasil mencetak gol pertama ku di festival sekolah ini. Rasanya begitu fantastis bisa mencetak gol di pertandingan penting seperti ini. Skor pun kini berubah menjadi 2-0 untuk keunggulan kelas kami.
"Yeaaaaayyy," teriak supporter yang terlihat menjadi lebih heboh setelah aku mencetak gol barusan. Ahsan dan Aji kini menghampiri ku dan mengucapkan selamat atas gol yang aku ciptakan itu. Kami bertiga pun saling berpelukan merayakan gol tersebut.
Sementara itu, Renaldi sudah bersiap di posisinya. Mukanya pun terlihat datar seperti biasanya.
Tak lama berselang, wasit meniup peluit tanda permainan telah berakhir. Dengan hasil ini, kami pun berhasil melaju ke babak selanjutnya. Kami semua terlihat begitu senang dan saling berpelukan baik yang tadi hanya menonton maupun yang bertanding. Kami lalu membentuk kerumunan kecil sambil berjoget, berpelukan, dan menyanyi. Kami terlihat begitu menyatu.
Rasa lelah kami sepertinya tidak begitu sebanding dengan rasa bahagia kelas kami ini. Aku rela jika aku harus jatuh pingsan sekalipun asalkan mereka semua merasakan kebahagian seperti ini. Apalagi, saat aku melihat Cindy juga terlihat begitu bahagia, rasa lelah ku seakan langsung lenyap hanya dengan melihat senyumannya itu.
Setelah itu, kami semua pun kembali menuju ke kelas untuk beristirahat dan juga untuk merayakan kemenangan tadi. Rasa suka cita terpancar jelas dari setiap wajah anak-anak kelas 10-7.
"Berarti kita sudah masuk babak 8 besar yah, hahahaha," ucap Aji sambil tertawa.
"Heee? Benarkah?" Ruben tampak sedikit terkejut.
__ADS_1
"Kenapa kau terkejut begitu? Kau kira kita masih bermain di babak berapa hah?" ucap Ahsan sinis.
"Hahaha, rasanya, rasa lelah hari ini terbayarkan sudah dengan kemenangan ini dan mendapat satu tempat di babak 8 besar," timpal Aji kembali.
"Ayo, ayo, jangan terlalu senang dulu. Kita harus tetap fokus lohhh... Jangan terlena," ucap Ayu sang ketua kelas.
"Hahaha iya, iya," timpal Aji.
"Tapi ternyata Tomi juga jago main futsal yah," ucap Calvin.
"Iya, keren kau Tom," ucap Fahmi.
"Biasa aja sih," jawab Tomi agak datar.
"Oiya, ngomong-ngomong tim basket kita main lagi gak hari ini? Bulu tangkis tunggal putra juga main lagi gak?" tanya Calvin.
"Oiya aku belum tanya lagi. Nanti aku coba tanya Ihsan lagi," jawab Ayu.
"Hehehe Ihsan kan satu-satunya anggota OSIS di kelas kita, ya mungkin dia tau soal jadwalnya... Gitu..." jawab Ayu.
"Ooooo begitu yah, aku baru mengerti," ucap Ruben.
"Orang bodoh seperti mu memang lambat sekali pahamnya yah," ucap Ahsan menyindir Ruben.
"Haaa? Apa kata mu?" balas Ruben.
"Tidak, aku tidak mengatakan apa-apa. Percuma juga jika aku harus menjelaskannya pada mu. Palingan kau juga gak akan paham hahahaha," Ahsan lagi-lagi menyindir Ruben dan tertawa dengan cukup keras.
"Suara ketawa mu jelek sekali, falsss lagi suaranya," Ruben ganti menyindir.
"Haaa ? Apa maksud mu dengan suara ketawa ku yang fals? Memang suara ketawa yang bagus, yang merdu itu seperti apa????" timpal Ahsan.
__ADS_1
"Ya kau pikir aja sendiri. Kau kan orang paling pintar di seantero bumi hahaha," Ruben kini tertawa.
"Cihhhh," jawab Ahsan sinis.
"Hahaha sudah-sudah jangan ribut terus. Baru juga kita mau istirahat, kalian malah udah ribut lagi hahaha," Aji tertawa.
Akhirnya, kami sudah sampai di kelas. Kami pun lalu langsung duduk di kursi kami masing-masing. Sembari istirahat, sembari menunggu kabar tentang jadwal basket dan bulu tangkis tunggal putra.
"Oi Lang, nanti pulang sekolah kau sudah acara belum?" Ruben tiba-tiba datang ke meja ku.
"Belum, emang kenapa Ben?" tanya ku sambil masih memegangi botol minum yang barusan aku gunakan.
"Gak papa hehe, cuma mau tanya aja," Ruben tersenyum memasang wajah tak berdosanya itu.
Plakk. Tiba-tiba, sebuah bola yang terbuat dari kertas yang diremas-remas mendarat tepat di dahi Ruben. Setelah Ruben terkena bola kertas tersebut. Sebuah suara tertawa tanda puas langsung terdengar dari arah belakang ku.
"Hahahahaha," suara tawa tersebut tak lain dan tak bukan berasal dari Ahsan.
"Oiii apa maksud mu melempari ku dengan bola kertas busuk seperti itu?" Ruben terlihat sedikit kesal.
"Hahaha masa begitu saja kau tak paham? Lemparan tadi itu sebagai menu latihan kau sebagai kiper. Kita kan besok akan bertanding di babak 8 besar, pasti musuhnya akan lebih kuat lagi. Jika lemparan lemah seperti itu saja kau tak bisa menangkapnya, makan besok pasti kau akan kerepotan kan? Hahahaha," ucap Ahsan diakhiri suara tawa.
"Bukannya aku tidak bisa, tapi kan aku memang tidak melihat lemparan mu tadi itu," ucap Ruben.
"Ya, ya, ya. Orang yang lemah memang selalu membuat alasan yah? Hahaha," lagi-lagi Ahsan tertawa.
Di saat Ahsan dan Ruben sudah mulai berdebat, aku baru menyadari bahwa ternyata Risal lagi-lagi tidak berada di kelas ini. Padahal, ketika kami baru sampai di kelas selepas pertandingan futsal tadi, Risal masih terlihat sedang duduk di kursinya itu yang terletak di kursi yang paling pojok di sebelah kiri.
***
Bersambung
__ADS_1