Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 39 : Bertemu Cindy


__ADS_3

"Wah gak ada Cindy nih di sini," ucap Ahsan.


"Aneh, padahal tadi aku jelas-jelas lihat kalau dia baru saja masuk toko ini," jelas Ruben.


"Mungkin kau salah liat kali Ben," ucap Ahsan lagi.


"Tadi kau lihat Cindy pake baju warna apa?" tanyaku.


"Pake baju merah," jawab Ruben cepat.


Aku melihat ke dua pengunjung perempuan yang sedang berada di sini. Dari dua pengunjung perempuan tersebut, tidak ada satu pun dari mereka yang mengenakan baju merah. Berarti kemungkinannya memang benar, kalau yang dilihat Ruben tadi adalah Cindy. Pertanyaannya sekarang adalah dimanakah Cindy sekarang.


"Mungkin yang kau lihat itu memang benar-benar Cindy Ben. Soalnya dua pengunjung perempuan yang sedang berada di sini tak ada satu pun yang mengenakan baju warna merah," ucapku.


"Kalau memang begitu, berarti Cindy seharusnya berada di sini dong," ucap Ahsan.


"Iya seharusnya begitu, mungkin dia sedang berada di kamar mandi?" ucapku.


"Mungkin sih, tapi bagaimana kalau kita tanya saja ke nenek tua penjaga toko itu. Barangkali dia tahu dimana Cindy. Dan bila memang ia pergi ke kamar mandi, pasti Cindy minta izin dulu dong ke nenek itu," ucap Ahsan.


"Ide bagus," balasku.


Lalu Ruben pun berjalan menuju nenek tua penjaga toko yang sedang sibuk membaca buku.


"Permisi nek, apakah tadi ada perempuan seumuranku memakai baju merah datang ke sini?" tanya Ruben dengan pelan.


Nenek tua yang sedang membaca buku itu, lalu mengalihkan tatapan matanya ke arah Ruben untuk beberapa saat. Belum ada tanda-tanda kalau nenek tua itu akan menjawab pertanyaan dari Ruben. Ia lalu menutup buku yang sedang ia baca dan segera berjalan pelan masuk ke dalam ruangan di belakangnya.


Ruben pun tampak kebingungan dengan reaksi dari nenek itu. Ia lalu menoleh ke arah kami sambil mengangkat kedua bahunya menandakan kalau dia tidak tahu apa yang tengah dilakukan nenek itu.


Alangkah terkejutnya kami saat nenek itu kembali dari ruangan itu. Ia kembali bersama orang yang sedang kami cari, yaitu Cindy.


Tak hanya kami bertiga saja yang terkejut, tetapi juga Cindy. Cindy nampak sangat terkejut dengan kedatangan kami bertiga.

__ADS_1


"Cindy?" ucap Ruben saat masih dalam keadaan terkejut.


"Eh Ru-ruben, Ah-san, Ga-lang. Ka-kalian sedang mencari-ku?" tanya Cindy dengan sedikit terbata-bata.


"Eh kenapa kamu bisa tahu kalau kami bertiga sedang mencarimu?" tanya Ahsan.


"Soalnya nenekku yang bilang kalau ada yang sedang mencariku," jawab Cindy lirih.


"Eh nenek? Jangan-jangan nenek-nenek penjaga toko ini adalah nenekmu ya Cin?" tanya Ahsan lagi yang kali ini tambah terkejut.


"Iya ini nenekku," ucap Cindy yang membuat Ahsan, Ruben, dan aku terkejut.


"O-oh begitu ya hehe. Aku baru tahu," jawab Ruben sambil memasang senyuman untuk terlepas dari suasana yang cukup canggung ini.


"Lebih baik kalian ngobrolnya di dalam saja ya. Biar lebih enak. Nanti biar nenek buatkan teh sekalian," ucap nenek Cindy sambil menyuruh kami masuk ke dalam.


"Eh terima kasih nek. Engga usah repot-repot," ucap Ahsan sambil sedikit tersenyum.


"Sudah yang penting kalian masuk dulu saja," ucap nenek Cindy lagi.


"Biar aku saja nek yang buat teh nya. Nenek bisa kembali ke depan lagi," ucap Cindy.


Neneknya pun langsung kembali ke meja kasir, sementara Cindy berjalan ke arah berlawanan. Mungkin dia akan membuatkan kami teh terlebih dahulu seperti apa yang dia bilang tadi.


"Aku baru tahu kalau toko buku ini milik neneknya Cindy," ucap Ahsan.


"Iya sama aku juga. Padahal aku sudah berlangganan membeli buku di toko ini selama bertahun-tahun dari sejak aku kecil," ucapku.


"Oi Ben kenapa mukamu masih saja murung begitu. Kau tidak malu pada Cindy memasang muka jelek begitu?" ucap Ahsan memberikan sedikit semangat pada Ruben.


Kali ini Ruben tidak membalas ejekkan dari Ahsan. Ia terlihat diam dan seperti tengah memikirkan sesuatu yang serius.


"Kenapa malah diam begitu. Nanti kalau kau terlalu banyak berpikir, kau bisa pingsan tahu hahaha," Ahsan melanjutkan candaannya pada Ruben.

__ADS_1


Tak lama berselang, Cindy datang sambil membawa baki. Di atas baki itu, terdapat satu teko dan empat buah cangki kosong. Setibanya di sini, ia langsung meletakkan baki di atas meja dan mulai menuangkan teh yang ada di teko tersebut ke dalam cangkir yang masih kosong tadi. Lalu ia mulai membagikan cangkir yang kini telah berisi teh hangat ke kami. Entah kenapa suasana kali ini cukup canggung.


"Apa kabarmu Cin? Kamu kenapa sudah dua hari engga masuk sekolah tanpa alasan?" tanya Ahsan memecah kecanggungan.


"Gak papa San. Aku baik-baik saja. Aku lagi sibuk dua hari ini, jadi aku putuskan untuk tidak berangkat sekolah dulu hehe," jawab Cindy sambil memasang senyum tipis.


"Kamu beneran gak papa Cin?" tanya Ruben.


"Iya Ben, gak papa kok hehe," Cindy masih menjawab dengan senyum tipis di wajahnya.


Aku tidak tahu aku harus berkata apa pada Cindy saat ini. Aku seperti kehabisan kata-kata. Aku pun memutuskan untuk mendengarkan mereka mengobrol terlebih dahulu saja.


"Oiya tadi kelas kita ada ulangan Sejarah Cin. Terus yang belum ikut ulangan boleh meminta ulangan susulan kalau sudah berangkat," ucap Ahsan lagi.


"Oh iya, aku benar-benar lupa tentang ulangan Sejarah itu. Makasih ya San atas infonya," ucap Cindy, " silahkan diminum tehnya, nanti keburu dingin."


Kami pun berempat mulai meminum teh perlahan-lahan. Rasa tehnya enak, tidak terlalu manis. Dan juga meskipun teh ini hangat, tapi entah kenapa terasa menyejukkan ketika diminum, walaupun hawa sore ini cukup membuat gerah kami.


"Terima kasih ya. Kalian sudah repot-repot mencariku. Oiya kalian tadi sudah datang ke rumahku atau belum?" tanya Cindy.


"Belum Cin hehe. Soalnya waktu kami mau melewati toko ini, Ruben tiba-tiba melihatmu sedang masuk ke toko ini. Jadi, kami mampir deh di toko ini. Oiya Ruben sangat mengkhawatirkanku loh hehehe," ucap Ahsan sedikit menggoda Cindy dan Ruben.


"Eh benarkah, makasih Ben sudah mengkhawatirkanku. Tapi tadi untung saja ya kalian belum sampai ke rumahku hehe," Cindy kembali memasang senyum tipisnya yang terasa sedikit mengganjal itu.


"Jadi, besok kamu sudah mulai berangkat sekolah lagi atau belum Cin?" tanya Ruben penasaran.


"Belum tahu Ben hehe. Kalau aku sudah tidak sibuk mungkin aku sudah mulai berangkat sekolah lagi besok," jawab Cindy.


"Begitu ya. Ngomong-ngomong kamu sedang sibuk apa Cin? Sampai-sampai kamu tidak berangkat sekolah seperti itu," tanya Ruben lagi.


Cindy tidak langsung menjawab pertanyaan Ruben kali ini. Ia kini diam dan tampak sedang berpikir untuk menjawab pertanyaan dari Ruben tersebut.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2