
Malam setelah ekstrakulikuler, terjadi gempa kecil di kota kami. Pusat gempa diketahui berada di tengah laut di sebelah selatan kota ini. Beruntung, gempa tidak sampai merusak bangunan atau apapun. Akan tetapi, gempa tersebut membuat penduduk kota terkejut, karena mang sudah cukup lama tidak terjadi gempa di kota ini.
Saat gempa terjadi, orang-orang berbondong-bondong keluar dari rumah mereka. Termasuk aku, ibu, dan Hana. Kami langsung keluar rumah setelah merasakan sedikit goncangan. Setelah gempa berhenti yang memang berlangsung tidak terlalu lama itu, Hana langsung menangis di pelukan ibu.
Ibuku dengan tenang memeluk Hana erat-erat sambil mengelus punggungnya dengan lembut. Ibu berusaha untuk menenangkan Hana yang terlihat sangat ketakutan tersebut.
"Gak papa Hana, jangan takut," ucap ibu yang masih menggendong Hana.
"Aku takut bu," ucap Hana sambil menangis.
"Sudah-sudah, gak papa kok, sudah berhenti," ucap ibu lagi sambil mengelap air mata di wajah Hana.
Hana terlihat masih menangis. Kami bertiga pun langsung segera kembali masuk ke dalam Rumah. Hana masih saja terus menangis. Pada akhirnya, Hana menangis sampai tertidur di pelukan ibu.
Setelah Hana tertidur, aku pun langsung naik ke balkon samping kamarku. Aku melihat kota setelah gempa ditemani angin yang berhembus seakan menembus tubuhku. Aku melihat masih banyak orang yang berada di luar. Mereka kini terlihat saling berbincang dengan tetangga mereka yang mungkin sebelum ini mereka jarang berbincang santai seperti ini.
Aku lalu menatap ke langit. Seperti biasa, sebanyak apa pun aku memandanginya, aku selalu merasa kagum dengan kemegahan langit. Seolah-olah aku baru pertama kali melihatnya. Aku, tidak pernah bosan melihat langit. Bagiku, langit adalah hal yang sangat menggambarkan kehidupan manusia yang tak terbatas.
Aku jadi tak bisa membayangkan jika suatu hari nanti langit di atas kita ini runtuh dan hancur menjadi berkeping-keping. Jika hal itu terjadi, pasti itu akan jadi hari yang sangat menyeramkan.
Aku lalu berpikir, sebenarnya untuk apa manusia hidup di dunia ini. Apakah mereka hidup untuk dirinya sendiri? Atau mereka hidup untuk orang-orang di sekitar mereka? Aku jadi menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang sangat rapuh.
Terlepas dari itu, hari ini aku harus bersyukur bahwa tidak terjadi sesuatu yang fatal yang di akibatkan oleh gempa tadi. Dari pada dampak buruk, aku lebih banyak melihat dampak positif dari gempa tadi, salah satunya adalah orang-orang terlihat kembali beramah-tamah dengan orang-orang terdekat di sekitar mereka.
Kira-kira langit seperti apa yah yang akan aku lihat sepuluh tahun dari sekarang di tempat ini? Semoga saja, semuanya akan tetap baik-baik saja hingga waktunya tiba.
***
Pagi hari, setelah gempa semalam, hampir semua siswa kini tengah membahas tentang gempa tersebut. Ada yang mengaitkannya dengan hal mistis, ada yang menanggapi gempa itu dengan santai, ada yang menganggap hal itu adalah hal yang wajar, dan berbagai macam reaksi lainnya.
"Oi Lang, kenapa kau tampak serius seperti itu," ucap Ruben yang baru saja datang.
"Aku hanya sedang mengamati percakapan teman-teman kelas kita," jawabku.
"Haa? Kenapa kau melakukan hal membosankan seperti itu? Kenapa kau tak ikut ngobrol saja dengan mereka?" ucapnya lagi.
__ADS_1
"Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan jika aku ikut percakapan mereka. Mungkin orang sepertiku lebih cocok mendengarkan dari pada berbicara," jawabku dengan datar.
"Aku tidak mengerti apa yang barusan kau katakan. Oiya ngomong-ngomong kau sudah tahu belum kalau sekolah kita akan segera berulang tahun loh?" tanya Ruben.
"Eh benarkah? Kapan emangnya?" tanyaku penasaran.
"Bulan depan," jawabnya tanpa keragu-raguan.
"Hebat sekali kau bisa tahu hal-hal semacam itu," ucapku lagi.
"Hahaha jangan terlalu memuji seperti itu," ucap Ruben sambil tertawa.
"Terus apa yang akan kita lakukan pada saat itu?" tanyaku lagi
"Tentu saja hal yang paling aku sukai yaitu kita tidak akan ada jam pelajaran selama satu minggu penuh hahaha," jawabnya dengan raut muka senang.
"Eh benarkah? Berarti kita libur selama satu minggu begitu?" tanyaku lagi.
"Mana mungkin seperti itu. Selama satu minggu itu, kita akan melaksanakan festival hidup dan mati," ucap Ruben dengan percaya diri.
"Iya kita akan memperebutkan piala kejuaraan. Setiap kelas di sekolah ini berkesempatan untuk menjadi yang terbaik di antara yang lainnya, makannya aku sebut itu adalah festival hidup dan mati karena kita harus berjuang sekuat tenaga untuk menjadi yang terbaik di sekolah ini meskipun kita baru kelas 10," jelas Ruben.
"Begitu ya, kau terlihat begitu semangat yah," ucapku.
"Tentu saja aku bersemangat. Aku bersumpah akan mempersembahkan piala terbaik untuk kelas ini hahahaha," ucap Ruben dengan percaya diri.
"Jangan sampai kau menangis yah kalau gagal," tiba-tiba Ahsan berbicara yang dari tadi sedang tiduran di mejanya.
"Haa? Kenapa kau ikut-ikutan bicara? Aku tidak sedang berbicara dengan bodoh. Lanjutkan saja tidurmu itu," ucap Ruben dengan nada kesal.
"Mana mungkin aku bisa tidur dengan nyenyak jika kau masih saja berbicara omong kosong seperti itu," balas Ahsan sinis.
"Kau mau ngajak ribut pagi-pagi begini?" ucap Ruben agak kesal.
"Siapa yang ngajak ribut? Bukannya kau yang sedang ribut sendiri?" ucap Ahsan dengan nada rendah tapi sinis.
__ADS_1
Tiba-tiba suara bel masuk berbunyi. Suara bel tersebut sekaligus melerai perdebatan mereka berdua di pagi ini.
***
Aku diam-diam memperhatikan Cindy yang duduk tepat di samping kanan kursiku. Sejak saat terkahir kita bertemu di toko buku itu, keadaannya terlihat semakin membaik. Dia kini tidak lagi terlihat murung dan menyendiri. Hanya saja, sesekali aku masih melihat rasa kesepian dari sorot matanya, atau senyumannya yang entah kenapa aku bisa merasakannya. Hingga saat ini pun aku masih belum tahu permasalahan sebenarnya yang menimpanya.
"Oi Lang ngapain kau melamun begitu," ucap Ruben yang datang menghampiriku.
"Tidak, aku tidak sedang melamun," jawabku.
"Jelas-jelas tadi kau sedang melamun," ucap Ruben lagi.
"Sudah kubilang aku tidak melamun," jawabku lagi.
"Oi Ben tolong belikan aku minum sana," tiba-tiba Ahsan menyuruh Ruben untuk membelikannya minum.
"Haaaa? Kenapa kau menyuruhku seolah-olah aku ini pembantumu?" ucap Ruben dengan nada suara agak kesal.
"Hahahaha ku kira kau akan mau," Ahsan tertawa santai.
"Apa-apaan itu," jawab Ruben.
"Oiya nanti sepulang sekolah kita main band yuk?" ajak Ahsan.
"Eh kenapa kau tiba-tiba ingin main band?" balas Ruben.
"Untuk refreshing lah haha," jawab Ahsan sambil tertawa.
"Cuma bertiga?" tanya Ruben.
"Kalau ada lagi yang mau ikut mungkin lebih baik, soalnya semakin banyak yang ikut semakin sedikit biaya iurannya haha," ucap Ahsan.
***
Bersambung
__ADS_1