
Setelah selesai mengucapkan terimaksih kepada Cindy itu, tiba-tiba saja Ayu bangkit dari tempat duduknya dan berkata, "Teman-teman, karena sekarang sudah jam 09.50 dan Ruben belum datang, mari kita datangi saja rumahnya. Kebetulan rumahnya dekat area sini. Gimana?"
"Setujuu," jawab anak-anak lain yang sudah terlihat bad mood itu.
Kami semua pun lalu berjalan menuju ke rumahnya. Karena yang tahu rumahnya cuma aku, jadi aku berjalan di barisan paling depan. Entah mengapa rasanya cukup menyenangkan berjalan bersama teman-teman seperti ini, rasanya kami sudah semakin akrab saja. Sayangnya, kami masih kurang tiga orang yaitu Ahsan, Ruben, dan Risal.
Kalau Risal mungkin aku sudah tahu alasannya ia tidak datang. Bisa jadi ia memang tidak diundang oleh Ruben karena Ruben sudah tahu kalau Risal mungkin sedang sibuk bekerja di toko. Atau bisa juga Ruben tetap mengundangnya, tapi Risal tidak bisa datang.
Justru yang paling menjadi pertanyaan besar sekarang adalah belum hadirnya Ruben. Si pengundang itu sendiri. Rasanya sangat aneh bahwa orang yang mengundang ke sebuah acara tapi ia sendiri terlambat atau bahkan tidak hadir ke acara tersebut. Kalau Ahsan aku juga kurang paham. Mungkin dia sedang bersama Ruben, mungkin dia memang berhalangan hadir, atau mungkin ia tidak diundang oleh Ruben. Entahlah, sebentar lagi mungkin kita akan segera mengetahuinya dengan menuju ke rumah Ruben.
***
Akhirnya, tak sampai 5 menit kami sudah sampai di depan rumah Ruben. Seperti biasa, rumah Ruben selalu terlihat sepi. Kita masih belum mengetahui, apakah Ruben sedang berada di rumah atau tidak.
Aji lalu mulai mengetok-ngetok pintu depan rumah Ruben dengan cukup keras. Tok tok tok, bunyi ketokan pintu itu. Tak ketinggalan, Aji juga memanggil-manggil nama Ruben.
Setelah cukup lama dan tak ada jawaban, kami pun mulai merasa bingung, apakah Ruben berada di rumahnya atau tidak. Jika ia memang sedang tidak berada di rumah, berarti kita semua lebih baik untuk segera pulang ke rumah masing-masing. Namun, jika seperti itu, rasanya agak kurang nyaman saja. Padahal, tak sedikit yang jarak rumahnya jauh dari sekolah. Jika langsung pulang tanpa melakukan apa-apa, rasanya sangat disayangkan.
"Wah gimana nih Ruben ga jawab. Apa dia lagi ga ada di rumah yah?" ucap Aji.
"Coba sini aku yang gedor aja," ucap Wita dengan wajah yang sangat serius.
"RUBENNNN... RUBENNN... RUBENNN..." teriak Wita dengan sangat keras.
Baru tiga kali Wita memanggil Ruben, tiba-tiba saja ada suara sautan dari dalam rumah. Sepertinya itu tadi suara Ruben.
Tak berselang lama, Ruben membuka pintu depan rumahnya. Ternyata memang benar, suara sautan tadi adalah suaranya.
"Tadi siapa yah yang teriak-teriak?" Ruben keluar dengan muka ngantuk dan rambutnya yang acak-acakan khas orang baru bangun dari tidurnya.
__ADS_1
"KAU HABIS TIDUR BEN?" ucap Wita dengan logat Bataknya. Suaranya benar-benar tegas.
Ruben hanya tersenyum kecut mendengar pertanyaan menyudutkan tersebut dari Wita. Mukanya kini berubah menjadi memelas.
"ENAK KALI KAU YAH, KAMI DARI TADI NUNGGUIN KAU. RUPANYA MALAH KAU LAGI ENAK-ENAKAN TIDUR RUPANYA," ucap Wita lagi yang masih meledak-ledak.
"Hehehe sudah-sudah Wita. Kita dengerin dulu penjelasan dari Ruben. Jadi, kamu masih inget kan Ben tentang pertemuan pukul 09.30 di depan kelas?" tanya Ayu menengahi.
"Iya tentu aku ingat hehe, tapi... Soriiiiii... Aku ketiduran tadii... Soriii teman-teman," Ruben memejamkan matanya dan membungkukkan badannya hampir 90 derajat ke arah depan.
Kami yang melihat Ruben melakukan hal seperti itu pun merasa cukup terkejut. Kami tidak menyangka Ruben akan melakukan hal seperti itu untuk minta maaf pada kami.
"Aku benar-benar minta maaf teman-teman... Aku bener-bener ketiduran..." ucapnya lagi yang masih membungkuk itu.
"Iya, iya sudah Ben, gausah membungkuk seperti itu. Jadi, bisa kau jelaskan kenapa kau mengundang kami semua seperti ini?" ucap Aji sambil berjalan menghampirinya.
Rumah Ruben memang cukup luas, jadi sepertinya kami semua bisa masuk secara bersamaan ke dalam rumahnya. Aku pun lalu mengarahkan mereka ke ruang tengah yang cukup luas. Di ruang itu, terdapat kursi, dan karpet untuk lesehan. Aku pun lalu membebaskan mereka untuk duduk di kursi atau langsung lesehan di karpet. Setelah itu, aku langsung menuju Ruben yang sedang berada di dapur membuatkan kita semua minum.
***
"Masih ada yang bisa aku bantu Ben?" tanya ku.
"Wahhh beneran nih Lang kau mau bantu?" tanyanya.
"Iya, tentu saja," jawab ku.
"Wah makasih banget Langgg... Kau memang anak yang baik. Kalau begitu, kamu bisa siapkan gelas untuk kita semua? Gelasnya da di dalam lemari sebelah situ," ucap Ruben yang terlihat sedang membuat takaran sirup ke dalam teko.
"Okee," jawab ku yang langsung menuju lemari dan mulai mengambil gelas.
__ADS_1
Tak lama berselang, Aji datang menghampiri kami dan lalu berkata, " Ada gang bisa aku bantu?"
"Wah makasih banget Jiii... Kau memang anak yang baik," ucap Ruben sama seperti yang ia katakan pada ku tadi.
"Jadi, apa yang bisa aku bantu?" tanyanya lagi .
"Ini, tolong bantu aku membawakan teko-teko ini kedepan," ucap Ruben.
"Oke," jawab Aji.
Aji dan Ruben lalu langsung menuju ke depan dengan membawa 4 teko sekaligus. Mereka membawanya menggunakan nampan. Masing-masing dari mereka membawa 2 buah teko.
Sementara itu, aku masih menghitung-hitung lagi jumlah gelas yang tadi aku ambil. Kalau tidak salah jumlahnya tadi sudah pas 21. Untuk memastikannya aku pun lalu menghitungnya kembali.
"Kamu bisa membawa semuanya itu Lang?" tiba-tiba Ruben datang langsung bertanya.
Setelah aku selesai menghitungnya, aku pun baru menjawab, "Mungkin sulit untuk membawa semua gelas ini sekaligus. Lebih mudah jika kita bagi dua saja," jawab ku.
"Okeee," jawabnya.
***
Setelah semua gelas tadi telah sampai di ruang tengah, Ruben, Aji, aku, dan Ayu mulai menuangkan sirup yang tadi berada di teko ke dalam gelas yang masih kosong tadi. Supaya lebih cepat maka kami berempat melakukannya secara bersamaan, kebetulan jumlah tekonya tadi juga ada 4.
Setelah semua gelas terisi sirup, kami pun lalu mulai duduk rapih sambil menunggu penjelasan dari Ruben soal kenapa ia mengundang kita semua untuk berkumpul di sekolah. Ruben lalu bangkit dari tempat duduknya dan berdiri. Ia terlihat bersiap-siap untuk menyampaikan penjelasannya itu.
***
Bersambung
__ADS_1