Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 216 : Masa Lalu Risal Dan Reza


__ADS_3

"Usia ku dan Risal terpaut 5 tahun. Saat masih kecil, ia adalah anak yang begitu aktif dan suka sekali berada di luar ruangan. Bahkan, ia baru akan pulang bermain ketika matahari sudah tenggelam," ucap mas Reza membuka cerita. "Seperti pada anak-anak umumnya, Risal juga mempunyai begitu banyak teman. Suatu ketika aku pernah disuruh oleh ibu untuk menjemput Risal. Saat aku sampai di sana, Risal terlihat begitu bersenang-senang. Senyumannya pada saat itu sangat lah tulus, dan begitu jujur. Bahkan kau bisa ikut merasa senang walau hanya melihat senyumannya waktu itu. Namun, itu lah terakhir kali aku melihat senyuman yang begitu indah itu," lanjut mas Risal.


"Yang terakhir kali? Maksudnya?" tanya ku penasaran.


"Iya, itu adalah yang terakhir kali aku melihat senyumannya yang begitu tulus dan jujur itu. Setelah aku menjemputnya sore itu, kami pun lalu langsung pulang ke rumah. Namun ketika kami sampai di rumah, ibu dan ayah kami terlibat pertengkaran yang hebat. Bahkan beberapa gelas dan vas bunga pun menjadi korban perdebatan mereka berdua yang mana berakhir dengan tangisan hebat ibu dan kepergian ayah. Pada saat itu, aku tidak tahu apa yang menyebabkan mereka berdua sampai berdebat dengan hebat seperti itu. Pada saat itu, Risal pun langsung menangis dengan sejadi-jadinya. Aku yang sedang berada di sampingnya itu langsung memeluknya dengan erat. Aku berpikir, aku saat itu tidak boleh sampai menangis. Aku pun dengan sekuat tenaga menahan agar air mata ku tidak sampai keluar. Aku ingin terlihat cukup tegar di hadapan adik yang sangat aku cintai itu," jawab mas Reza.


Aku dan Cindy kini hanya terlihat menyimak saja. Sepertinya, kami masih belum tau apa yang harus kami katakan untuk saat ini.


"Sejak saat itu pula, ayah tak pernah kembali lagi ke rumah. Ibu lalu jadi sering sakit-sakitan, dan Risal pun perlahan-lahan berubah menjadi anak yang pemurung dan lebih sering menyendiri. Tentu saja, sebagai kakak dan anak, aku benar-benar sedih melihat kondisi ibu dan adik ku pada saat itu. Pada akhirnya, aku pun tidak bisa melakukan apa-apa untuk mereka. Hingga suatu ketika ketika Risal baru menginjak kelas 6 SD, dan aku kelas XI SMA, ibu kami meninggal," ucap kak Reza yang suaranya kini terdengar kian meluruh dan sedikit bergetar.


"Bahkan, saat upacara pemakaman ibu dilaksanakan, ayah masih belum menampakkan dirinya lagi. Aku tidak tahu apakah orang itu masih pantas dipanggil ayah atau tidak. Namun yang jelas sejak saat ia pergi meninggalkan rumah, aku belum pernah lagi melihatnya. Setelah kematian ibu, aku dan Risal pun hidup bersama nenek kami. Nenek yang kami maksud adalah ibu dari ibu kami. Nene adalah seorang pensiunan guru, jadi aku dan Risal hidup dalam keadaan yang cukup pas-pasan. Meskipun begitu, aku sangat bersyukur karena masih ada nenek yang bisa merawat dan membiayai kami," lanjut mas Reza.


***


Setelah mas Reza selesai menceritakan tentang Risal dan dirinya, aku pun lalu langsung pulang. Setelah mendengar cerita dari mas Reza, aku jadi sedikit mengerti mengapa Risal jadi seorang yang penyendiri. Pikiran ku pun saat ini masih begitu terngiang-ngiang dengan cerita kelam masa lalu mas Reza dan Risal. Bahkan, aku sampai lupa kalau aku belum membeli satu pun buku novel. Aku tidak menyangka kalau ternyata Risal memiliki masa lalu yang tidak mengenakan.


Tepat saat aku sampai rumah, hujan langsung turun dan mengguyur kota. Hujan yang baru turun ini adalah sebuah hujan yang lebat. Suaranya sangat keras dan berat, selain itu juga disertai angin.


Setelah masuk rumah, aku lalu langsung menuju ke kamar Hana. Aku ingin mengecek bagaimana keadaannya sekarang. Apakah sudah lebih baikan atau belum.

__ADS_1


Sesampainya di kamar Hana, ternyata Hana sedang dalam kondisi tidur. Di lihat dari wajahnya, ia kelihatan sudah lebih baikan. Aku pun lalu langsung pergi ke atas menuju ke kamar ku.


***


Senin 22 Oktober, seperti biasa pagi ini aku berangkat ke sekolah. Aku bersyukur Hana juga sudah pulih dan siap untuk masuk sekolah. Beruntung ia sakit di hari libur, jadi ia tidak sampai harus izin dari sekolahnya.


Tak jauh berbeda dari hari kemaren, langit pagi ini juga sudah tampak mendung. Setelah kemaren hujan seharian, apakah hari ini juga akan turun hujan? Oleh sebab itu lah aku hari ini sudah mengantisipasi apa bila benar-benar turun hujan dengan membawa payung.


***


Sesampainya di kelas, aku lalu langsung duduk di tempat duduk ku. Yaitu di sebelah deretan kursi paling kiri dan urutan ke empat tepat di depan kursi milik Ahsan dan di sebelah kiri kursi milik Cindy. Untuk orang yang duduk di belakang Cindy adalah Alex yang mana sebelumnya adalah tempat duduk milik Ruben. Sementara Ruben sendiri, tempat duduknya tepat di sebelah kanan kursi milik Alex.


"Oi Lang, tumben kau berangkatnya mepet gini," ucap Ahsan sesaat setelah aku duduk di tempat duduk ku.


"Wah ternyata kau juga bisa seperti itu yah? Hahaha aku kira engga. Kau mending masih payung yang engga ketemu, nah aku pasti kalau mau make gunting kuku, pasti ga ada. Aku juga gak tau kenapa. Padahal kalo lagi gak kepake itu malah berseliweran dimana-mana," timpal Ahsan.


"Hahah terkadang aku juga kaya gitu," jawab ku.


***

__ADS_1


Saat ini aku, Ruben, Ahsan, Aji, Fahmi sedang berada di kantin untuk menghabiskan waktu istirahat ke-2 kami.


"Eh liat tuh si Calvin lagi jalan sama siapa?" ucap Ruben agak heboh sambil menunjuk ke arah timur sana.


"Mana, mana, mana, mana."


"Eh iya. Wah kira-kira gadis itu siapa yah? Masa iya itu pacarnya? Perasaan Calvin engga lagi ngedeketin siapa-siapa deh," ucap Fahmi.


"Wah dasar penghianat. Berani-beraninya dia jalan sama pacarnya di hadapan kita begini. Wah ini sih harga diri ku merasa terinjak-injak," timpal Ruben.


"Haa emangnya kau punya harga diri yah?" timpal Ahsan yang terlihat lebih mempermasalahkan kalimat Ruben dari pada Calvin yang sedang berjalan dengan seorang perempuan.


"Apa kata muuu?" timpal Ruben dengan nada agak tinggi.


"Suuuuushhh. Diam, lihat tuh Calvin sama perempuan itu sekarang malah duduk dan sepertinya akan makan siang bersama. Wah apa dia itu sengaja yah milih tempat duduk di depan situ buat manas-manasin kita? Kurang ajar sekali kau Vin. Aku kira kita itu teman baik," ucap Fahmi.


"Oi oi oi, sabar dulu. Belum tentu perempuan itu pacarnya. Bisa jadi malah kekasihnya," timpal Ahsan.


"APA BEDANYAAAA BAMBANGGG," timpal Ruben dengan sedikit menampol punggung Ahsan.

__ADS_1


***


Bersambug


__ADS_2