Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 18 : Tebak-Tebakan


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju taman.


"Oi Lang dulu kau dari SMP mana?" tanya Ruben membuka percakapan.


"Dari SMP Tunas Bangsa," jawabku.


"Ohh, ngomong-ngomong sudah ada wanita yang kau taksir belum di sekolah?" tanya Ruben lagi.


"Ke-kenapa tiba-tiba bahas soal itu?" jawabku dengan muka sedikit memerah.


"Oi mukamu merah tuh...wah pasti sudah ada ya? Hahahaha," lanjut Ruben sambil tertawa.


Aku tidak membalas perkataan Ruben lagi. Aku sebenarnya memang tidak bisa menjawabnya.


"Kau sendiri bagaimana? Siapa yang kau suka?" kini giliran Ahsan yang bertanya.


"Kalau aku kan memang tidak pernah mencintai seseorang dari dulu kan? Aku adalah tipe orang yang sangat mencintai diriku sendiri melebihi apapun Hahahaha," jawab Ruben.


"Mungkin kau sekarang lebih membutuhkan dokter jiwa dari pada apapun yah? Aku lihat kau sudah mulai gak waras nich," balas Ahsan.


"Haa? Kau ngomong apa sih? Aku tidak paham," balas Ruben lagi.


Lagi-lagi mereka sedang terlibat pertengkaran.


"Apakah kalian suka baca novel atau buku? Kalau kalian suka kalian bisa membelinya di toko buku kecil di seberang jalan sana," ucapku sambil menunjuk toko buku yang menjadi langgananku yang penjaganya adalah wanita tua berkacamata.


"Haa? Buku? Benda terkutuk yang membosankan itu? Aku bahkan tidak hanya tidak suka, tapi aku bahkan membencinya. Aku sudah pernah mendeklarasikan perang terhadap mereka ketika aku masih SD dulu. Terutama pada buku-buku pelajaran," ucap Ruben dengan menunjukkan wajah kesalnya.


"Oi Ben... Kalau nanti aku menjadi dokter, aku akan mencoba untuk menemukan obat kebodohan. Aku merasa aku harus melakukannya sebagai temanmu," ucap Ahsan dengan wajah datar.


"Obat kebodohan? Untuk apa itu?" balas Ruben.


"Tentu saja untuk kebodohanmu yang sudah tidak bisa disembunyikan lagi... Bukankah itu sudah jelas?" balas Ahsan.


"Terkadang perkataanmu juga bisa menyakiti hatiku yang sensitif ini lohh," jawab Ruben lagi.


"Seharusnya itu adalah kalimatku," balas Ahsan lagi.


"Hmm... Oi bagaimana kalau kita main tebak-tebak saja?" ucap Ruben. "Kota-kota apa yang bisa bikin enggak tenggelam?" lanjutnya.


"Sebentar aku pikir-pikir dulu," jawab Ahsan yang raut wajahnya berubah menjadi serius memikirkan jawaban.


Aku ikut memikirkan jawabannya sambil terus berjalan.

__ADS_1


"Ah aku rasa aku tahu jawabannya," ucapku.


"Apa jawabannya?" balas Ruben.


"Lampung kan? Pe-Lampung," jawabku dengan nada datar dan suara rendah.


"Wahhhh benar sekaliiii... Tak kusangka anggota yang paling junior bisa menebaknya. Skor 1-0-0 untuk Galang," ucap Ruben.


"Sialaannnn... Bolleh juga kau ya Lang. Oke, sekarang aku akan serius nich," balas Ahsan yang terlihat agak kesal. "Baiklah sekarang giliranku dulu, pulau, pulau apa yang tua?" lanjut Ahsan.


Aku dan Ruben berpikir sejenak.


"Sepertinya aku sudah sangat dekat untuk menemukan jawabannya tapi aku tidak bisa menggapainya," ucap Ruben.


"Itu artinya kau memang tidak pernah berpikir sama sekali," balas Ahsan.


"Aku tau," ucapku.


"Eh kau lagi?" ucap Ruben terkaget.


"Kenapa kau terlihat terkaget terheran-heran Ben?" ucap Ahsan.


"Jawabannya adalah Bangka. Tua Bangka, benar atau salah?" ucapku memberikan jawaban.


"Sialannnn, lagi-lagi aku tidak mendapatkan poin," ucap Ahsan dengan nada kesal.


"Oke selanjutnya kau Lang yang memberikan pertanyaan. Untuk sementara kau ku biarkan memimpin dulu, nanti kita lihat di akhirnya siapa yang akan menang. Skornya jadi 2-0-0 untuk Galang," ucap Ruben.


"Kau ini bodoh atau apa? Tentu saja kau sudah tidak mungkin menang kan? Sekarang saja skornya sudah 2-0-0. Mana mungkin kau bisa menang sementara hanya tinggal satu poin yang tersisa untuk diperebutkan," balas Ahsan.


"Haaa? Jangan membodohi ku seperti itu, dalam pertandingan semua bisa terjadi hingga akhir. Aku percaya akan hal itu, selama kita tidak menyerah kita pasti bisa," ucap Ruben dengan penuh semangat.


"Dan sekarang, aku benar-benar menjadi percaya bahwa kebodohanmu itu sudah tidak bisa diselamatkan lagi," ucap Ahsan.


"Jadi, aku harus bagaimana sekarang? Apakah aku tetap harus membuat pertanyaan? Ataukah permainan ini sudah berakhir?" tanyaku pada mereka.


"Sudah ku bilang, aku akan berjuang hingga akhir, cepat bacakan pertanyaanku," jawab Ruben.


"Apa-apaan tuch, yasudah terserah kau saja Ben," ucap Ahsan.


"Baiklah kalau begitu, makanan apa yang berteriak?" ucapku memberikan pertanyaan.


Ruben dan Ahsan terlihat berpikir dengan keras. Jika salah satu dari mereka bisa menjawab, maka salah satu yang lainnya lah yang akan kalah. Bagi mereka, mungkin ini adalah pertarungan untuk memperebutkan gengsi mereka.

__ADS_1


"Karena ini pertanyaan terkahir, biarkan kami berpikir dulu okey?" ucap Ruben.


"Apa-apaan raut mukamu itu? Kau terlihat sangat pucat Ben, kau takut kalah ya?" ucap Ahsan.


"Haa? Kurasa itu adalah kalimatku untukmu San," balas Ruben.


Mereka terus menerus berpikir dan berpikir, tapi sepertinya mereka belum bisa mendapatkan jawabannya.


"Sialaaaannn, susah banget... Kurang ajar sekali kau Lang. Kau bertingkah sangat sombong pada seniormu ini," ucap Ruben yang tampaknya sudah menyerah.


"Apa-apaan nich. Aku nyerah. Sialan," Ahsan juga sepertinya sudah menyerah.


"Kalian sudah menyerah?" tanyaku pada mereka.


"Cih, jangan sombong yah," ucap Ruben.


"Kali ini aku ampuni kau Lang," ucap Ahsan.


"Jawabannya adalah ice cream," ucapku.


"Haaaa? Kenapa ice cream?" ucap Ruben penasaran.


"Lagi-lagi kau terkejut dan terheran-heran yach Ben?" balas Ahsan.


"Haaa? Bukannya kau juga sama?" balas Ruben.


"Ice cream pengucapannya hampir sama seperti i scream. Artinya saya berteriak," jelasku.


"Cih, apa-apaan itu? Mana mungkin aku bisa menjawabnya jika penjelasannya saja aku tidak paham. Kau ini bukan dari bumi ya?" ucap Ruben yang nampak masih kebingungan.


"Sudahlah Ben kalau memang kau tidak paham tidak usah memaksakan otakmu yang masih 2 tak itu, apalagi menyalah-nyalahkan orang lain seperti itu. Kasihanilah dirimu dan orang-orang di sekitarmu," ledek Ahsan.


Tanpa sadar kita telah sampai di taman. Taman ini cukup luas. Ada perosotan, ayunan, jungkat-jungkit, dan mainan untuk anak kecil lainnya. Di sini juga tersedia banyak sekali kursi, pohon-pohon yang rimbun daunnya, bahkan di sini juga terdapat kolam ikan. Biasanya warga sekitar sini memanfaatkan taman ini untuk mengasuh anak mereka, bersantai, istirahat dari hiruk pikuk aktivitas sehari-hari, atau sekedar rekreasi di akhir pekan.


Apabila sore hari tiba, banyak anak-anak kecil yang bermain bola, petak umpet, atau memainkan permainan yang sudah tersedia di sini seperti ayunan, perosotan, atau yang lainnya.


Kali ini, suasana di taman cukup ramai, mungkin karena sudah masuk weekend. Lalu, kami pun mencari kursi yang masih kosong untuk duduk. Beruntung masih ada beberapa kursi yang masih kosong. Kami memilih kursi yang berada di bawah pohon, karena sekarang matahari masih agak tinggi. Ini pertama kalinya aku datang ke taman bersama orang lain.


"Oi lihat bukankah itu Cindy?" tiba-tiba Ruben bersuara sambil menunjuk pada seorang gadis yang sedang membaca dibawah sebuah pohon yang cukup besar. Dia tidak duduk di kursi, melainkan langsung duduk di atas rumput. Dia tampak sendirian.


***


Bersambug

__ADS_1


__ADS_2