Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 144 : Prinsip Belajar


__ADS_3

Senin 26 September, seperti rutinitas ku biasanya, aku berangkat menuju ke sekolah sekitar pukul 06.45. Saat ini, kebanyakan anak-anak di sekolah ku tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi Ujian Tengah Semester yang akan diadakan minggu depan. Begitupun dengan aku, kini aku sudah mulai lebih sering membaca buku pelajaran dari pada sebelum-sebelumnya.


Sekitar pukul 7 pagi, aku telah sampai di kelas. Aku lalu langsung duduk di tempat duduk ku. Tidak banyak hal yang berubah terlalu banyak setelah kita mendapatkan beberapa gelar juara di festival sekolah waktu itu. Mungkin sekarang bedanya adalah hadirnya piala-piala hasil jerih payah kita semua itu yang dipajang di kabinet kelas. Entah kenapa, walaupun hanya festival internal sekolah, melihat kabinet kelas dipenuhi oleh piala-piala membuat ku merasa lebih bangga.


Pagi ini, selain suasana kelas yang tidak banyak berubah, sifat Cindy juga masih belum berubah sejak dari malam penutupan festival di acara api unggun. Dia masih saja belum mau berbicara atau hanya sekedar menyapa.


Aku sebenarnya sudah mencobanya tadi. Ketika aku baru sampai, aku langsung melihat ke arah Cindy untuk mencoba menyapanya, akan tetapi Cindy tidak menatap ke arah ku dan seolah-olah tidak peduli dengan kedatangan ku.


Tepat sebelum bel sekolah masuk berbunyi, Ruben hadir di dalam kelas. Lagi-lagi, catatan waktunya hampir melampaui batas, yaitu pukul 07.30. Beruntung, hari ini ia bergerak lebih cepat dari pada bel sekolah. Selanjutnya, seperti rutinitas sekolah pada umumnya di hari Senin, kami semua melaksanakan upacara bendera terlebih dahulu sebelum memulai jam pelajaran.


***


Setelah selesai upacara, kami pun langsung bersiap-siap untuk mengikuti mata pelajaran pertama, yaitu olah raga.


"Ngomong-ngomong kalau buah yang rasanya kecut itu kebanyakan mengandung Vitamin C yah?" tanya Ahsan tiba-tiba saat kami para anak laki-laki sedang berganti pakaian olahraga.


"Iya sepertinya begitu. Contohnya saja jeruk, mangga, markisa," jawab Aji.


"Wah berarti Ruben juga banyak mengandung Vitamin C dong? Senyumannya, raut wajahnya, bau keringatnya, semuanya kecut hahahahaha," Ahsan tertawa dengan cukup keras yang selanjutnya di ikuti oleh yang lainnya, termasuk aku.


"Hahaha bisa saja kau ini," timpal Aji lagi.


"Haaaa apa maksud mu? Memangnya kau sendiri tidak kecut?" ucap Ruben tidak terima.


"Kalau Ahsan bukan kecut, tapi pahit. Kayak hidupnya hahahaha," kini giliran Ahsan yang kena ledekan dari Fahmi.


"Wah wah wah, kenapa sekarang kau jadi seperti itu Mi?" ucap Ahsan.


"Hahahaha rasaiinnnn," ucap Ruben puas.


"Cihhhh," gumam Ahsan.


***

__ADS_1


Setelah selesai olahraga, seperti biasa, para anak laki-laki memilih untuk beristirahat terlebih dahulu di kantin sambil menunggu jam olah raga benar-benar berakhir. Mungkin sekitar 15 menitan lagi. Guru olahraga kami memang selalu tidak menghabiskan seluruh waktu yang tersedia untuk olahraga, beliau pasti memberikan 15 menit waktu terakhirnya untuk beristirahat sekaligus untuk bersiap-siap seperti ganti baju untuk mata pelajaran selanjutnya.


"Oi Ben, gimana nih sebentar lagi kan mau UTS. Bagi tips dan triknya dong?" tanya Aji.


"Oi oi oi oi, yang benar saja tuch," timpal Ahsan dengan logat khasnya.


"Hahaha kenapa San?" Aji Calvin.


"Ruben aja nilai ulangannya ga pernah sampe dua digit, masa kau malah minta tips dan trik padanya? Bukankah itu sama saja menghina Ruben tepat di depan mukanya?" ucap Ahsan.


"Hahahahaha," anak-anak yang lain tertawa mendengar ucapan Ahsan itu.


"Memangnya ada yang salah dengan nilai tidak sampai 2 digit itu? Siapa juga yang peduli tentang hal kecil seperti itu," ucap Ruben membela diri.


"Tapi ngomong-ngomong aku dengar kalian bertiga habis jalan-jalan sama Celine dan teman-temannya yah? Wah dasar penghianat, kenapa kalian tidak mengajak aku juga?" ucap Fahmi.


"Hehehe jangan iri yah..." ucap Ruben dengan nada sombong.


"Kalian tenang saja, pada perjalanan kemaren, Ruben cuma menghabiskan waktunya bermain dengan Hana, adiknya Galang. Jadi, tidak sedetik pun Ruben dekat-dekat dengan Celine hahahaha," ucap Ahsan.


"Haaa siapa juga yang pedofil? Aku cuma senang saja bisa bermain dengan anak-anak," jawab Ruben.


"Wah hati-hati Lang, kau mau besok punya adik ipar seperti Ruben? Hahaha," ucap Fahmi.


***


Selepas dari kantin, kami pun langsung menuju ke kamar mandi untuk berganti pakaian sebelum kembali ke dalam kelas. Karena kami terlalu asik mengobrol, kami hampir saja terlambat. Beruntung, Ayu yang kebetulan pergi ke kantin mengingatkan kami.


Saat aku baru saja kembali setelah ganti pakaian, aku menemukan sebuah surat yang tertutup dengan rapat tergeletak di atas meja ku. Aku belum tahu apa isi surat itu.


Saat aku baru saja mengambilnya, bel tanda pergantian jam pelajaran pun berbunyi. Aku lalu memasukan surat yang belum aku ketahui isinya itu ke dalam tas.


***

__ADS_1


"Oi Lang kenapa yah sekarang anak-anak jadi sering belajar? Bahkan di jam istirahat seperti mereka terlihat masih belajar, aneh sekali," ucap Ruben yang datang menghampiri ku.


"Tentu saja itu bukan merupakan hal yang aneh. Sebentar lagi kan akan ada UTS. Wajar saja jika mereka belajar untuk mempersiapkan diri," jawab ku.


"Sekarang kau tau kan kenapa nilai Ruben selalu tidak pernah mencapai 2 digit Lang?" timpal Ahsan.


"Haaa apa maksud mu?" tanya Ruben.


"Bukan apa-apa, tadi hanya cuma lagi ada cicak terbang yang kebetulan lewat," ketus Ahsan.


"Cicak terbang? Hahaha dasar bodoh. Mana ada cicak bisa terbang, kau mau membodohi ku yah?" ucap Ruben.


"Sebenarnya yang membodohi dirimu adalah dirimu sendiri," ucap Ahsan.


"Terserah kau sajalah," timpal Ruben.


"Oiya ngomong-ngomong kalian tidak belajar seperti yang lainnya?" tanya ku.


"Kalau aku sih no, ga tau kalau mas Anang," ucap Ruben menirukan suara salah satu juri di ajang pencarian bakat.


"Apa-apaan tuch? Aku baru akan belajar kalau nilai ku lebih rendah dari pada Ruben. Itulah prinsip ku dalam belajar. Seberapa jelek pun nilai ku, kalau belum lebih rendah dari Ruben, aku akan menganggapnya masih mendapatkan nilai yang baik hahahaha," ucap Ahsan sambil tertawa cukup keras.


"Kalau begitu, akan aku buktikan kalau aku lebih baik dari mu. Di UTS besok, nilai ku pasti akan lebih baik dari mu di semua mata pelajaran," ucap Ruben dengan percaya diri.


"Heee... Percaya diri sekali kau rupanya, lalu kenapa kau tidak mulai belajar saja sekarang?" tanya Ahsan menanggapi ucapan Ruben barusan.


"Siapa juga yang butuh hal membosankan seperti itu? Persiapan atau belajar itu hanyalah untuk orang lemah. Kalau laki-laki sejati seperti ku ini, tidak akan pernah mengandalkan sesuatu yang amat rapuh seperti belajar atau semacamnya," ucap Ruben dengan percaya diri.


"Lalu apa yang akan kau andalkan? Mau mencontek?" ucap Ahsan.


"Apalagi hal bodoh seperti itu. Yang akan aku andalkan sebagai seorang laki-laki adalah Takdir dan keberuntungan Hahahaha," Ruben tertawa dengan keras.


***

__ADS_1


Beesambung


__ADS_2