
"Wah nikmat banget habis renang langsung makan yang anget-anget kini hahaha," ucap Ruben yang terlihat sudah menghabiskan baksonya.
"Eh kalian habis renang?" tanya Sofia yang masih menyantap bakso miliknya.
"Iya, tadi kami habis renang," ucap Ruben yang kini tengah sibuk meminum es teh miliknya.
"Yah, tahu gitu aku ikut," ucap Sofia agak kecewa.
"Hahahaha maaf-maaf kami gak tau kalau kamu mau ikut renang," ucap Ruben.
"Jadi, kalian mau renang lagi kapan?" tanya Sofia.
"Entahlah, kami juga belum merencanakannya lagi," jawab Ruben.
"Gitu ya... Besok kalau kalian mau berenang lagi, undang aku yah," ucap Sofia.
"Oke Sof," jawab Ruben.
Akhirnya, aku berhasil menghabiskan semangkuk bakso yang rasanya tidak karuan. Aku merasa sedikit kesal karena aku sangat ceroboh tadi menuangkan terlalu banyak kecap. Sekarang, perut ku terasa agak tidak enak.
Aku lalu meminum es teh milik ku dengan cepat. Setelah habis, aku lalu memesan es teh satu gelas lagi.
"Wah haus sekali kau Lang haha," ucap Ruben.
"Hihihi pasti karena rasa kuah baksonya aneh ya Lang?" ucap Sofia.
"Ya begitulah, rasanya memang agak aneh. Perut ku juga sekarang terasa agak aneh," ucap ku.
"Itu semua gara-gara kamu Sof," ucap Ruben.
"Hehh? Kok gara-gara aku?" ucap Sofia agak bingung.
"Iya gara-gara kamu ada di depannya, Galang jadi grogi terus tanpa sadar menuangkan kecapnya terlalu banyak hahahah," ucap Ruben dengan tawa lebar.
"Eh beneran Lang?" tanya Sofia.
Aku hanya diam saja mendengar pertanyaan seperti itu dari Sofia.
"Hahaha kenapa kau diam saja Lang?" ucap Ruben.
Tak berselang lama, es teh pesanan ku pun datang. Aku langsung mengalihkan perhatian dengan cepat-cepat meminum es teh yang baru datang ini.
__ADS_1
"Hahaha pelan-pelan Lang. Kau kenapa jadi salah tingkah begitu?" ucap Ruben.
Sofia kini hanya memperhatikan ku tanpa berkata apapun. Bakso di mangkoknya pun kini terlihat telah habis di santapnya.
"Mangkok yang sudah habis biar aku bawa sekalian ke belakang yah," ucap Sofia sambil membawa mangkok-mangkok yang sudah kosong itu ke belakang.
"Jadi kau benar suka Sofia ya Lang?" ucap Ruben bisik-bisik saat Sofia sedang memindahkan mangkok kosong ke belakang.
"Kenapa kau berkata seperti itu?" tanya ku.
"Sudah jelas kelihatan dari sikap gugup mu itu di depan Sofia," ucap Ruben lagi.
"Haa? Cuma gara-gara itu? Ku rasa kau salah sangka saja," ucap ku.
"Heee sudah lah mengaku saja. Tidak usah malu-malu begitu," ucap Ruben.
Aku hanya diam saja menanggapi Ruben saat ini sambil terus meminum es teh. Langit di luar sana kini sudah semakin menggelap. Lampu-lampu pun kini sudah mulai dinyalakan. Tanda gelap akan segera datang.
Setelah beristirahat sebentar setelah makan, kami pun memutuskan untuk pulang. Tentu saja, aku harus mampir dulu ke rumah Ruben untuk mengembalikan sepeda miliknya yang sedang aku pinjam ini.
Jarak dari warung bakso ke rumah Ruben tidaklah terlalu jauh. Kami pun tidak membutuhkan waktu sampai lima menit untuk sampai di sana.
"Gak ada Ben, kenapa?" jawab ku.
"Kalau begitu, sekalian saja kau makan malam di rumah ku yah hahaha?" tanya Ruben.
Meskipun Ruben mengatakan pertanyaan itu dengan senyuman, akan tetapi seperti ada perasaan yang sedang ia tutupi. Meskipun samar-samar, aku melihat sedikit rasa kesepian dari sorot matanya.
"Beneran nih? Aku si gak masalah. Terus siapa yang akan masak?" jawab ku.
"Tentu saja aku. Begini-begini aku pandai masak loh. Coba saja nanti rasakan rasa masakan ku," ucap Ruben dengan tersenyum.
Lalu, kami pun masuk ke dalam rumahnya. Rumahnya pun masih dalam kondisi gelap karena ketika tadi kita pergi, Ruben belum menyalakan lampu rumahnya karena masih siang.
"Kau duduk di sini dulu Lang, biar aku menyalakan lampu dulu," ucap Ruben sambil menunjuk kursi yang berada di ruang tamu.
Aku pun lalu duduk dan meletakkan tas ku tepat di atas meja di ruang tamu. Rasanya rumah Ruben sungguh sepi jika sudah gelap seperti ini. Apa lagi jika pulang ke rumah ketika hari sudah gelap, suasana rumah yang gelap seakan menambah suasana kesepiannya.
Akhirnya, Ruben telah menyalakan lampu-lampu di rumahnya. Kini suasananya terasa lebih cerah.
"Kau mau makan apa Lang?" tanya Ruben setelah selesai menyalakan lampu.
__ADS_1
"Terserah kau saja Ben," jawab ku.
"Kalau begitu, apakah ada bahan makanan yang kau benci atau alergi?" tanyanya lagi.
"Tidak ada sih, aku hampir menyukai semua jenis bahan makanan. Hanya saja mungkin jangan memasak masakan yang terlalu pedas ya? Aku tidak terlalu tahan pedas soalnya," ucap ku.
"Heee... Jadi, kau tidak suka pedas yah," ucap Ruben mengangguk-angguk.
"Ya begitulah, Oi kenapa kau senyum-senyum begitu? Jangan bilang kau mau mengerjai ku makan masakan pedas?" ucap ku yang merasa dengan senyum licik milik Ruben.
"Yah ketahuan hahahah," ucap sambil tertawa.
Setelah itu, Ruben pun pergi ke dapur dan mulai menyiapkan bahan-bahan untuk makan malam. Aku bekum tahu masakan apa yang akan ia buat.
Suara pisau yang bertemu talenan kayu terdengar cukup keras dan teratur. Suara ketukan potongannya terdengar seperti orang yang sudah bertahun-tahun berada di dapur.
Setelah itu, aku mendengar suara tumisan bumbu. Tak hanya suaranya, kali ini aku juga bisa mencium aroma tumisan bumbu itu tadi.
***
Setelah cukup lama, kini sepertinya Ruben telah selesai memasak karena sudah tidak terdengar lagi suara penggorengannya. Sepertinya Ruben sedang menyajikan masakannya tadi. Hingga saat ini pun aku masih belum tau apa yang ia masak.
Tak lama berselang, Ruben pun datang dengan membawa dua buah mangkok putih yang ukurannya cukup besar. Asap putih tipis samar-samar keluar dari masakannya tersebut. Ruben lalu meletakkan kedua mangkok tersebut di meja makan dan kemudian memanggil ku untuk segera ke sana. Kira-kira apa yah yang ia masak?
"Oi Lang cepat ke sini, sudah matang ini," ucap Ruben agak berteriak.
"Oke, aku ke situ," jawab ku.
Setelah aku sampai di meja makan, aku pun mendapati bahwa yang tadi dimasak Ruben adalah seblak. Dari tampilannya kelihatannya lezat. Aromanya pun enak. Meskipun aku baru saja makan bakso tadi, tapi kini aku seperti merasa lapar kembali.
"Wah kau hebat juga bisa membuat makanan seperti ini," ucap ku sambil duduk di kursi.
"Hahaha mulai sekarang panggil aku Chef yah? Chef Rubennn," ucapnya dengan senyum lebar di wajahnya.
"Hahaha aku pasti akan memanggil mu Chef kalau makanan mu ini enak," ucap ku sambil tertawa.
"Berarti kamu akan memanggil ku Chef hahah," ucap Ruben percaya diri.
***
Bersambung
__ADS_1