Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 21 : Kata


__ADS_3

Hari Minggu pukul 08.00. Setelah kemarin aku menghabiskan waktu bersama Ruben dan Ahsan, di hari Minggu ini sepertinya aku akan kembali menghabiskan waktuku sendiri. Di hari libur seperti ini, aku sudah mandi dan sudah sarapan. Rencananya, aku akan mulai membaca novel sambil duduk di balkon samping kamarku.


Seperti biasa, ibuku sudah berada di toko bunga. Begitu juga dengan Hana yang tadi pagi ikut ibu berangkat. Jadi, tidak ada hal lain lagi yang bisa kulakukan sendiri di rumah selain baca novel.


Sebenarnya aku bisa bermain game, tapi aku tidak terlalu suka main game. Walaupun begitu, Rasanya aku belum pernah menemukan ada yang bisa mengalahkan ku dalam bermain game, khususnya game sepak bola. Ruben, Ahsan, bahkan Tora semuanya telah aku kalahkan. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa sehebat ini bermain game, padahal aku jarang sekali memainkannya.


Di rumah ini juga ada piano, akan tetapi aku tidak bisa memainkannya. Dulu, ayah ku lah yang paling sering memainkannya. Bahkan sepertinya, ibuku juga tidak bisa memainkan piano.


Pagi ini cuacanya agak mendung, tapi sepertinya tidak sampai akan turun hujan. Sejujurnya, aku lebih suka langit yang berawan atau mendung dari pada langit yang cerah dan terik. Langit yang sedikit gelap itu seperti membuat suasana hatiku menjadi lebih tenang dan damai dibanding langit yang bewarna putih, biru yang menyilaukan mata.


Aku pun mulai membaca novel yang waktu itu aku beli di toko buku yang penjaganya adalah seorang nenek yang berkacamata. Jika kalian masih ingat, judul novelnya adalah 'Hujan di Bulan'.


Aku sudah membaca sekitar lima dari 25 bab. Tokoh utamanya bernama Luwis yang berpetualang untuk menemukan kembali Jessica. Ketika aku membaca Jessica, entah kenapa aku langsung teringat dengan Sofia.


Aku cukup menyesal bahwa kemarin aku tidak bisa mengatakan apa yang ingin aku katakan padanya. Bahkan sekarang, aku sangat berharap bahwa Sofia berada satu kelas denganku, tapi aku tahu itu tidak akan terjadi. Aku juga tidak tahu kapan pikiran bodoh itu muncul di kepalaku.


Biasanya aku bisa membaca hingga 12 bab dari sebuah novel setiap minggunya. Akan tetapi, karena minggu kemarin rasanya aku jarang menghabiskan waktuku sendirian, aku jadi hanya membaca sekitar lima bab saja. Tapi entah kenapa, rasanya masih lebih menyenangkan waktu yang aku habiskan dengan teman dari pada waktu yang aku habiskan hanya dengan membaca novel.


Akan tetapi, aku tetap tidak bisa menyangkal keistimewaan dari sebuah kata. Kata yang di tuliskan melalui hati dan jiwa akan terasa sampai ke hati dan jiwa juga oleh orang yang mendengar atau membacanya.

__ADS_1


Beberapa kata atau kalimat, bisa membuat efek positif bagi yang mendengarkan atau membacanya, akan tetapi beberapa kata atau kalimat, juga ada yang bisa membuat efek yang negatif.


Orang-orang yang sedang berada di fase 'bawah' dalam hidupnya, cenderung akan lebih bisa memahami bahwa dunia itu memang tempat orang bersandiwara dan penuh dengan kepalsuan. Sementara itu, orang yang sedang berada di fase 'atas' kehidupan cenderung menyebarkan kata yang menyemangatkan dan bijaksana. Mungkin sebuah kata atau kalimat yang sama, bisa memiliki arti yang berbeda, tergantung siapa yang membaca atau mendengarkannya. Oleh karena itu, kata adalah suatu hal yang unik dan sangat istimewa yang selalu bersifat relatif. Mungkin bisa jadi, kata juga termasuk salah satu jenis sihir yang menyerang psikis seseorang, bahkan bisa juga menyerang tuannya sendiri.


Bahkan konon katanya, luka yang disebabkan oleh 'tebasan' kata lebih membekas dari pada luka yang disebabkan oleh pedang sekalipun.


Luka yang disebabkan oleh pedang lambat laun akan mengering dan sembuh, berbeda dengan luka yang disebabkan perkataan, bisa saja lukanya akan terus melebar, atau mungkin luka itu hanya tertutup sementara dan tidak pernah akan bisa mengering.


***


Tak terasa waktu sudah memasuki pukul 12.15. Berarti sudah lebih dari empat jam aku membaca novel "Hujan di Bulan" ini. Kali ini aku berhasil membaca sekitar sepuluh bab. Jadi total, aku telah membaca sebanyak 15 bab.


Aku pun siang ini harus mencari makan siang ku sendiri. "Haruskah aku makan siang di warung bakso milik papanya Sofia?" begitu pikirku dalam hati. Iya sepertinya aku juga ingin bertemu Sofia, meskipun aku tidak berniat untuk berbicara dengannya. Setidaknya, aku bisa melihat wajahnya.


Aku pun bersiap-siap untuk pergi ke sana. Karena sedang malas berjalan kaki, aku pun berencana untuk menggunakan sepeda. Sepertinya sudah cukup lama aku tidak menggunakan sepedaku, jadi sepertinya aku harus memompa rodanya terlebih dahulu.


Benar saja, saat aku periksa, kedua roda sepedaku dalam keadaan kempes. Aku pun harus mencari pompa angin dulu yang aku tidak tahu dimana ibu menyimpannya.


Aku pun mengirim pesan pada ibuku untuk bertanya dimanakah pompa angin itu. Sambil menunggu balasan, sepertinya aku mau buat sirup jeruk dingin dulu. Aku merasa sedikit haus dan gerah.

__ADS_1


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya aku menerima balasan. Ibuku bilang pompanya disimpan di dekat lemari di gudang dekat garasi. Aku pun langsung bergegas menuju kesitu. Benar saja, aku langsung menemukan pompa yang aku cari.


Setelah selesai memompa kedua roda sepedaku, aku pun langsung bergegas menuju warung bakso. Aku cukup cepat mengayuh pedal sepedaku kali ini. Aku sungguh berharap aku bisa melihat rupa Sofia hari ini.


***


Akhirnya aku sampai di depan warung bakso. Nafasku cukup terengah-engah saat baru turun dari sepeda. Aku benar-benar mengayuh sepedaku tadi cukup cepat. Bahkan, aku sempat hampir menabrak tembok di pinggir jalan. Beruntung, aku mengerem tepat waktu sehingga aku berhenti tepat sebelum roda depanku menyentuh pagar.


Setelah nafasku kembali normal, aku langsung segera memesan bakso dan es teh seperti biasanya. Sebenarnya warung ini juga menyediakan mie ayam, tapi aku lebih suka menyebutnya warung bakso.


Hari ini warung baksonya cukup ramai, beruntung masih ada sisa satu meja kosong untukku. Aku pun langsung duduk di tempat itu. Aku menengok ke kanan, ke kiri, ke belakang untuk mencari tahu apakah Sofia berada di sini atau tidak. Aku cukup yakin bahwa Sofia berada di sini, karena aku melihat sepeda miliknya juga terparkir di depan warung bakso ini.


Tak lama berselang, pesananku pun datang. Alangkah terkejutnya aku ketika mengetahui bahwa yang mengantarkan pesananku adalah Sofia sendiri. Ini baru pertama kalinya aku melihatnya mengantarkan pesanan.


"Silahkan Lang, kamu gak bareng Ruben dan Ahsan kali ini?" ucap Sofia sambil meletakkan bakso dan es teh pesananku.


Aku terdiam sesaat dan tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Rasanya, mulutku seperti sedang dikunci atau semacamnya.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2