
"Bwahahahahahah hahahaha hahahaha," Ruben terlihat tertawa dengan sangat keras sampai teroingkal-pingkal yang mana membuat orang-orng di sekitar kita menjadi memperhatikan kita untuk beberapa saat.
"Kenapa kamu malah tertawa seperti itu? Ada yang aneh yah dengan ekspresi ku barusan?" tanya ku.
"Sekarang aku tarik ucapan ku. Lebih baik, kau berekspresi seperti biasanya saja. Sangat terlihat aneh sekali jika kau berekspresi seperti orang yang ramah. Memang sepertinya beberapa orang terlahir untuk memilik muka yang selalu serius. Sepertu kau ini," ucap Ruben sambil menahan tawa.
"Lalu langkah selanjutnya apa supaya aku bisa becanda dengan yang lainnya?" tanya ku lagi.
"Oh iya aku sampai kalau kita sedang membahas masalah itu. Yang kedua itu, rubah cara bicara mu. Jangan terlalu sopan dan kaku seperti itu. Cobalah tambahkan beberapa kata yang ringan dan membuat orang yang mendengarnya tidak merasa tegang," ucap Ruben.
"Cara berbicara yah? Kalau begitu, misalnya seperti ini? Apa-apaan tuch?" ucap ku sambil berusaha menirukan suara Ahsan yang sering kali berkata seperti itu.
"Bwahahahahaha apa-apaan itu. Aduh, aduh perut ku sampai sakit begini gara-gara terlalu banyak tertawa, hahahaha," ucap Ruben yang kali ini kembali tertawa terpingkal-pingkal.
Lagi-lagi aku membuat Ruben tertawa. Sebenarnya se-aneh itukah aku supaya terlihat lebih santai dan bisa bercanda dengan yang lainnya sehingga membuat ribet tertawa begitu hebatnya seperti itu? Entahlah.
"Terus bagaimana Ben?" tanya ku lagi yang masih berusaha untuk tidak terlihat terlalu kaku.
"Sebentar, sebentar hahaha... Hahaha," Ruben masih saja tertawa sambil memegangi perutnya.
"Perut ku benar-benar sampai sakit loh gara-gara ketawa tadi... Sudah, sudah. Sepertinya memang kau lebih cocok seperti itu saja. Jadilah seperti dirimu apa adanya saja... Lagi pula, jika orang lain tidak mau berteman dengan mu, masih ada aku dan Ahsan kok hahahaha," Ruben masih tertawa.
***
Kini, pertandingan babak kedua akan dimulai. Seperti dugaan ku sebelumnya, anak-anak kelas 10 yang saat di babak pertama belum bermain, kini terlihat sudah berada di dalam lapangan.
__ADS_1
Roby, Aji, dan Ahsan terlihat sudah berada di lapangan, sementara Rudolf dan Renaldi sudah terlihat berada di pinggir lapangan. Dari semua pemain, hanya kak Jo dan kak Taufik yang tidak mengalami pergantian.
Aku paham kenapa mereka sampai tidak diganti, itu karena mereka berdua adalah seperti otak dari timnya masing-masing. Walaupun pertandingan ini cuma latihan, akan tetapi dari raut wajah kak Jo dan kak Taufik, tak sedikitpun terpancar wajah yang sedang bermain-main. Sorot mata mereka, mengatakan semuanya bahwa mereka sedang sangat serius. Pritttt. Babak kedua akhirnya dimulai.
Kali ini, Ahsan, Aji, dan Roby entah kenapa terlihat sekali masih belum bisa mengikuti irama pemain yang lain. Mereka seperti sedang bermain sendiri dari pada bermain bersama kedelapan pemain yang lainnya. Alhasil, mereka pun sering kehilangan bola. Sepetinya, mereka masih belum terbiasa bermain dengan para senior pemain inti.
***
Prittt. Pertandingan babak kedua pun akhirnya berkahir. Skor akhir adalah 3-1 untuk kemenangan kak Taufik dan timnya. Sementara itu, kak Jo dan timnya harus mengakui kekalahan mereka hari ini. Setelah pertandingan berakhir, pemain dari kedua tim lalu saling melakukan salaman.
Dari pertandingan babak kedua, sangat kelihatan sekali Roby, Ahsan, dan Aji masih belum enjoy bermain dengan para senior. Mereka seperti bermain dengan beban dan tidak lepas. Alhasil, hal itu sangat berpengaruh pada permainan mereka tadi.
Berbeda dengan Ahsan, Aji, dan Roby, dipertandingan sebelumnya Renaldi dan Rudolf tampil dengan lebih matang. Mereka terlihat seperti sudah terbiasa bermain dengan para senior. Secara kasat mata, mereka berdua seperti sudah sangat lama bergabung dan bermain dengan para senior tersebut.
"Oi San, kenapa muka mu kau tekuk seperti itu? Tikus saja kalau melihat mu seperti itu pasti akan tertawa hahaha," ucap Ruben saat Ahsan tengah menuju kemari.
"Berisik," balas Ahsan yang entah kenapa terasa berbeda dari biasanya.
"Wahh apa-apaan tuch? Kenapa kau jadi tampak tambah kesal seperti itu?" ucap Ruben lagi.
Ahsan lalu langsung duduk dan tidak menanggapi pertanyaan dari Ruben barusan. Dari raut wajahnya, ia memang terlihat sangat kecewa. Mungkin ia merasa sangat bersalah dengan 2 gol yang bersarang di jala timnya itu.
"Jangan-jangan kau kecewa dengan hasil pertandingan pertamamu ini yah? Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Kau itu harusnya bersyukur koh sudah bisa terpilih seperti itu. Jika hari ini masih belum baik, kau harus mencobanya lagi keesokan harinya dengan lebih kuat," ucap Ruben
"Oi oi oi kenapa ucapan mu mendadak seperti itu? Kau saat ini terdengar seperti karakter lain saja hahahaha," ucap Ahsan yang kini sudah mulai kembali menjadi biasa lagi.
__ADS_1
"Hahaha untuk beberapa detik tadi, muka mu terlihat lebih jelek dari pada biasanya loh," ejek Ruben.
"Wah tapi tadi aku merasa sangat tidak puas. Penampilan ku rasanya begitu buruk. Entah kenapa sulit sekali berkonsentrasi dengan lingkungan dan tim yang baru. Apa lagi aku satu tim dengan kak Jo, aku sungguh sangat menyesal pada diri ku ini," ucap Aji.
"Sama nich, aku juga. Tak ku sangka ternyata atmosfirnya seperti itu. Aku juga tidak bisa berkonsentrasi selama pertandingan. Aku jadi ragu kalau aku bisa dipanggil nantinya," timpal Ahsan.
"Oi oi oi, kenapa kalian malah pesimis begitu. Seharunya kalian menghargai perasaan kami yang gak kepilih loh... Dengan cara terus terus berjuang dan gak mau menyerah," ucap Ruben.
"Hahaha entah kenapa ucapan mu itu terdengar seperti bukan ucapan mu saja. Semuanya, terasa seperti ucapan milik orang lain saja," timpal Aji.
"Iya aku juga heran. jangan-jangan kau itu bukan Ruben yah? Tapi kau itu cuma arwah yang sedang merasuki tubuh Ruben?" ucap Ahsan.
"Hushhh sembarangan, mana mungkin ada arwah yang berani merasuki tubuh ku ini," timpal Ruben.
"Oiya yah benar juga. Jika ada arwah yang merasuki mu, mungkin arwah itu akan kebingungan mencari dimana letak otak mu yang sebenarnya tidak ada itu hahaha," ejek Ahsan.
"Haaa? Apa kata mu?" balas Ruben.
"Hahaha sudah, sudah. Oiya bukannya kalian berdua sudah akan bertanding? Tuh lihat, kalian sudah dipanggil-panggil sekarang," ucap Aji.
"Oh iya kau benar. Aku sampai lupa. Ya sudah kami ke sana dulu yah, dahhhh," ucap Ruben yang mana langsung pergi meninggalkan Ahsan, Aji, dan Renaldi. Aku pun lalu mulai mengikuti Ruben dari belakang. Saat ini, yang ada di kepala ku adalah bagaimana caranya agar aku dapat terpilih menjadi tim sepak bola.
***
Bersambung
__ADS_1