
Setelah beberapa detik saling diam dan saling tatap, akhirnya aku memulai mengucapkan sesuatu.
"Hal-llo Cin..." ucap ku dengan penuh keragu-raguan.
Cindy tidak langsung menjawab pertanyaan ku itu. Butuh beberapa detik untuknya menjawab pertanyaan ku.
"Haii, kamu ngapain di sini Lang?" balas Cindy.
"Aku niatnya memang mau ketemu sama kamu. Tadi kamu belum pulang, jadi aku nunggu kamu di sini," jawab ku.
"Menunggu ku? Kenapa kamu melakukannya? Untuk apa?" ucap Cindy lagi.
"Entah kamu sengaja atau tidak, tapi aku merasa sikap mu begitu membuat ku bingung sejak terakhir kita berbicara pada waktu acara api unggun. Sejak hari itu, kamu seolah-olah menghindar dari ku dan juga tak mau walau hanya sekedar menyapa. Tanpa kau sadari, aku sangat menderita dengan sikap itu. Untuk saat ini, aku benar-benar tidak tahu apa salah ku yang membuat mu melakukan hal seperti itu pada ku. Namun saat ini, aku ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya jika ada perbuatan ku yang membuat mu tersinggung atau semacamnya. Aku harap, kamu mau menerima permintaan maaf ku dan kita bisa kembali seperti semula... Aku mohon..." ucap ku dengan lembut namun serius.
Cindy lagi-lagi hanya terdiam. Mulutnya seakan terkunci. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya saat ini. Terlepas dari itu, aku benar-benar berharap Cindy bisa memaafkan ku dan hubungan kami kembali normal seperti sebelum-sebelumnya.
"Ma... Maaf Lang... Bukan maksud ku untuk berbuat seperti itu pada mu. Aku sebenarnya juga tidak mau itu semua terjadi. Hanya saja, entah kenapa setiap kali aku melihat mu, perasaan ku menjadi tak karuan. Semenjak kau menjadi dekat dengan Celine, perasaan ku menjadi sangat kesal ketika melihat mu. Oleh karena itu, aku jadi terkesan menghindari mu atau semacamnya. Namun sejujurnya, aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu. Aku juga tidak tahu dan tidak mengerti tentang diri ku ini... Sekali lagi aku minta maaf ya Lang. Kamu tidak salah apa-apa kok, aku yang salah," ucap Cindy dengan amat panjang lebar.
Setelah mendengar jawaban Cindy tersebut, aku tidak tahu harus menanggapinya dengan kalimat apa. Aku juga tidak aku harus merasa bagaimana sekarang. Aku rasa, kita berdua sama-sama tidak mengerti tentang yang sebenarnya tengah terjadi di antara kita.
Kami berdua lalu kembali saling diam. Kami berdua seakan-akan kehabisan kata-kata untuk berbicara satu sama lain.
__ADS_1
***
Selasa, 27 September pukul 15.40. Setelah pulang sekolah, aku, Ruben, dan Ahsan memutuskan untuk mampir di warung bakso milik ayah Sofia. Rasanya sudah cukup lama kami bertiga tidak mampir dan makan di sana.
Setelah kejadian semalam, kini aku dan Cindy sudah kembali seperti semula. Walaupun masih sedikit canggung, akan tetapi itu lebih baik dari pada hanya saling diam seperti satu minggu belakangan ini. Tentu saja, kembalinya hubungan kami seperti sedia kala sangat membuat ku sangat senang. Sebagai seorang teman, kita memang sudah semestinya tidak boleh saling diam seperti 1 minggu belakangan ini.
"Ahsan lama sekali ngambil sepedanya, tinggal aja yuk hahaha," celetuk Ruben. Saat ini aku dan Ruben tengah menunggu Ahsan yang sedang mengambil sepedanya terlebih dahulu di parkiran sepeda. Namun, entah kenapa hari ini ia tidak secepat seperti biasanya dalam mengambil sepedanya itu.
10 menit telah berlalu dan Ahsan masih saja belum muncul. Kami yang penasaran dengan apa yang ia sedang lakukan sehingga hingga kini belum muncul juga.
"Wah si Ahsan lama banget nih, aku jadi penasaran. Bagaimana kalau kita samperin aja Lang? Dari pada kita nunggu di sini," ajak Ruben.
"Boleh, ayo," kami berdua lalu langsung menuju ke parkiran sepeda, tempat dimana seharusnya Ahsan berada.
"Wah lihat itu Lang, ada apa tuh rame-rame? Ayo cepat kita ke sana," Ruben lalu langsung berlari menuju ke arah kerumunan siswa tersebut. Aku lalu mengikuti Ruben dari belakang, akan tetapi aku mengikutinya hanya dengan berjalan saja.
Saat aku sampai, aku sangat terkejut, ternyata sedang ada keributan antara 2 orang siswa laki-laki. Di antara dua laki-laki itu, sudah ada seorang siswa lain yang terlihat seperti sedang memisahkan mereka. Selain itu, siswa yang lainnya juga terlihat sedang memegangi kedua siswa tersebut agar tidak terjadi perkelahian. Aku tidak tahu sebenarnya apa yang menyebabkan mereka berdua berselisih seperti itu.
Jika dilihat dari penampilan mereka, sepertinya mereka berdua adalah sama-sama kelas 11. Namun, aku juga tidak tahu secara pastinya, aku hanya menduga-duganya saja.
Tak bersalah lama, ada saah seorang guru yang datang kemari. Sepertinya tadi sudah ada siswa yang melapor pada guru tentnag kejadian ini.
__ADS_1
Guru yang datang itu ternyata adalah pak Nyoto, guru Biologi. Pak Nyoto memang terkenal dikalangan siswa sebagai pribadi yang cukup tegas dan juga sangat disiplin. Potongan rambut pak Nyoto pasti selalu potongan pendek.
Dengan hadirnya pak Nyoto kemari, keadaan kini terasa membaik. Dua siswa yang Adi masih ngotot ribut-ribut, kini langsung bisa ditenangkan dan kemudian mereka berdua langsung di bawa ke ruang BK. Tak lama berselang, kerumunan ini pun langsung membubarkan diri mereka masing-masing.
"Oiiii," teriak Ruben sambil melambaikan tangannya dari sebelah sana. Di sampingnya, kini sudah berdiri Ahsan. Aku pun lalu langsung datang menghampiri mereka.
"Aku kira kau kenapa sampai terlambat begitu tadi. Ternyata kau sedang menonton orang ribut yah?" ucap Ruben.
Ahsan dengan muka yang sangat datar dan sedikit kecut lalu bilang, "Siapa juga yang menonton orang berkelahi. Aku terlambat itu gara-gara mereka semua tadi tidak mau mingiirrr. Mereka semua menghalangi jalan kuuuu."
"Hahahahaha begitu yah. Konyol sekali rupanya. Aku kira kau sedang menontonnya tadi, bahkan aku sempat berpikir kalau mereka ribut gara-gara terprovokasi oleh mu hahahaha," ucap Ruben yang suara tawanya cukup keras.
"Cihhh siapa juga yang mau menonton keributan yang membosankan itu. Aku tidak tertarik," ucapnya.
"Widihhh tumben kau gak tertari dengan hal-hala seperti itu. Biasanya kau yang paling antusias kalau ada hal-hal berbau seperti itu,", ucap Ruben.
"Iya sebenarnya aku mau menonton, tapi tadi engga ada adu jotos, jadi malas," ucap Ahsan dengan datar.
"Oalah hahahaha. Aku kira kau sudah berubah dan menjadi pribadi yang lebih positif lagi, tapi malahan hahahaha... Sama sekali tidak berubah yah hahahaha," ucap Ruben sambil tertawa.
"Cih... Ya sudah ayo kita segera pergi. Aku sudah keburu lapar nih," ucap Ahsan. Setelah itu, kami bertiga langsung menuju warung bakso milik ayahnya Sofia.
__ADS_1
***
Bersambung