Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 140 : Menuju Tujuan Berikutnya


__ADS_3

Setelah selesai makan siang, kami bertujuh beristirahat di sebuah taman min yang masih berada di dalam area kebun binatang. Sepertinya yang aku bilang sebelumnya, suasana di sini sangatlah sejuk. Pohon-pohon besar dan menjulang tinggi itu, menghalangi sinar matahari jatuh ke tanah. Bayangan yang tercipta pun semakin membuat hawa di sini semakin sejuk.


Semilir angin terlihat menggerak-gerakan dedaunan dan dahan-dahan yang kecil. Gerakan daun yang seirama dengan irama alam itu, untuk sesaat terlihat seperti sebuah tarian yang sedang dipertunjukkan oleh alam. Suara gesekan daun yang tertiup angin, semakin menambah suasana menjadi sangat menenangkan.


Suara kebisingan kota pun tidak terdengar dari sini. Suara yang terdengar di area sini semuanya adalah suara dari alam. Angin, daun, aliran sungai, dan suara-suara para hewan, hanya itulah. suara yang terdengar di area ini.


"Habis ini kita mau kemana lagi nih?" tanya Ruben.


"Kau masih mau main?" tanya Ahsan.


"Iyalah, rasanya baru sedetik kita melewati hari minggu ini. Masih terlalu singkat," jawab Ruben.


"Eh masih mau main lagi? Mau kemana lagi emang?" tanya Celine.


"Kemana yah enaknya di cuaca yang cerah seperti ini dan juga yang tidak terlalu jauh," timpal Ruben lagi.


"Bagaimana kalau ke pantai? Kayaknya asik deh, lagi pula juga jaraknya ga terlalu jauh," ucap Devi.


"Wah bagus itu... Hana juga pingin ke pantai," tiba-tiba Hana ikut masuk dalam percakapan.


"Hahaha Hana aktif sekali yah. Bahkan kalau dihitung, jumlah kata yang kita dengar dari Hana hari ini, mungkin lebih banyak dari jumlah kata yang pernah kita dengar dari Galang sejak pertama kali kita mengenalnya yah... Hahahaha," Ruben tertawa.


"Hihihihi benar juga," Celine ikut tertawa.


"Kakak orangnya emang pendiam. Kalau gak ditanya lebih dulu, mungkin kakak gak akan bicara apapun," timpal Hana.


"Hahaha benar sekali," ucap Ruben.

__ADS_1


"Oi oi oi, orang yang sedang kalian omongin masih di sini loh," ucap Ahsan.


"Hahahaha benar juga yah, maaf ya Lang, kami sengaja," ucap Ruben sambil tertawa.


""Tenang saja, kak Galang ga pernah marah kok. Hana saja belum pernah melihat kak Galang marah. Benar kan kak?" ucap Hana.


"Oiya yah, aku juga belum pernah melihatnya marah," timpal Ruben.


"Eh benarkah? Aku tidak sadar kalau aku tidak pernah marah," ucap ku yang merasa agak heran.


"Kenapa mukamu terlihat terkejut seperti itu? Hahaha kamu memang orang yang aneh ya Lang. Bahkan kita yang sudah cukup lama mengenal mu saja sepertinya masih belum tahu apa-apa mengenai diri mu itu," ucap Ruben.


***


Pada akhirnya, kami memutuskan untuk pergi ke pantai yang terletak di sebelah selatan kota. Jaraknya mungkin sekitar 30-35 km. Aku tidak tahu pastinya berapa.


Kondisi bus pada saat ini cukup sepi. Terlihat masih ada beberapa kursi yang kosong di sebelah sana dan di sebelah sini. Han saat ini sedang tertidur di samping ku. Kepalanya kini sedang menyandar di bahu sebelah kanan ku. Mungkin dia cukup lelah setelah berkeliling kebun binatang tadi yang memang cukup menguras tenaga.


***


Kondisi lalu lintas saat ini tak kusangka cukup lancar. Kami pun sepertinya akan bisa sampai lebih cepat dari pada yang kami kira sebelumnya. Aku lalu membuka aplikasi map di ponsel ku. Di map tersebut tertulis jarak dari sini ke pantai tinggal 10 km lagi. Jika kondisi lalu lintas lancar seperti ini terus, kami mungkin akan bisa sampai tak sampai 25 menit lagi.


Hana yang tadi tertidur, kini sudah bangun. Saat ini, ia sedang memandangi pemandangan dari jendela. Ia mengamati setiap objek yang ia lihat itu dengan begitu seksama. Ia mungkin jarang menemui objek-objek yang ia lihat sekarang di perkotaan. Meskipun raut mukanya masih terlihat mengantuk, akan tetapi sorot matanya itu mengungkapkan penuh semangat dan rasa antusiasme yang tinggi.


Sementara itu, di samping kiri ku kini sudah duduk seorang nenek yang mungkin usianya sekitar 60 tahun. Ia terlihat masih sangat sehat. Nenek ini baru saja naik bus tepat di halte sebelumnya. Ia naik bersama seorang anak kecil yang mungkin masih berusia sekitar 4 tahun. Kemungkinan anak kecil itu adalah cucunya.


"Mau pergi kemana nak?" tanya nenek itu.

__ADS_1


"Mau ke pantai nek," jawab ku sambil berusaha memasang wajah yang ramah.


"Oh ke pantai yah, itu yang di samping kamu adik mu?" tanya nenek itu lagi.


"Iya nek. Ngomong-ngomong nenek mau ke pantai juga?" tanya ku.


"Oh engga, nenek mau pulang," jawab nenek itu.


"Ohh begitu yah," jawab ku.


"Kalian cuma berdua pergi ke pantainya?" tanya nenek itu lagi.


"Engga kok nek. Kami pergi dengan teman-teman saya. Itu 2 orang laki-laki yang duduk di depan sana dan 3 orang perempuan yang duduk di depannya lagi, itu semua teman-teman saya," jawab ku.


"Wah kedengarannya asik yah. Jadi ingat kala masih mudah dulu hehehehe," nenek itu kini tertawa. Suara tertawanya itu sangat khas sekali.


"Dulu nenek juga sering ke pantai?" tanya ku yang mulai penasaran.


"Ya nenek dulu sering banget ke pantai. Kebetulan juga rumah nenek waktu kecil lumayan dekat dengan pantai, mungkin sekitar 4 kiloan. Setiap pulang sekolah, nenek dan teman-teman nenek pasti langsung pergi ke pantai untuk bermain di sana. Karena kami tinggal di desa dan daerah pesisir, tempat hiburan kami ya cuma di pantai itu. Setiap hari kami bermain dengan alam," ucap nenek itu yang diakhiri dengan senyuman. Senyuman yang seolah mengisyaratkan rasa rindu pada hal yang baru saja ia ucapkan itu.


Aku hanya tersenyum tipis menanggapi kalimat nenek itu barusan. Aku tidak tahu harus menanggapinya dengan kalimat yang bagaimana. Aku takut jika aku berkata sesuatu, mungkin aku akan menyakitinya atau menyinggungnya. Oleh karena itu, aku memilih untuk tersenyum tipis saja.


"Dulu waktu kecil, nenek juga pernah merasa iri dengan anak kota. Nenek iri karena anak-anak di kota difasilitasi apa pun yang mereka butuhkan. Tempat bermain, teknologi, kendaraan, bioskop, pusat perbelanjaan, dan semuanya. Nenek pikir, itu sedikit tidak adil untuk kami anak yang tinggal di desa. Namun, sekarang nenek sadar, seharusnya kita tidak boleh iri seperti itu. Hal yang harusnya kita lakukan adalah bersyukur atas apa yang telah dititipkan tuhan kepada kita. Hanya dengan hal itu, kita bisa menikmati hidup apa pub keadaan kita," tambah nenek itu yang kini lumayan panjang.


"Bersyukur ya nek? Memang benar sih, itu merupakan hal paling mudah yang bisa dilakukan agar perasaan kita menjadi bahagia dan terlepas dari penyakit hati yang disebut iri," timpal ku.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2