
Bola lemparan Ruben itu terlihat terbang dengan sangat kencang menuju ke daerah pertahanan 10-9. Umpan yang ditujukan untuk Tomi itu pun dengan sempurna bisa diraih dan dikontrol oleh Tomi. Karena bola itu datangnya agak tinggi, Tomi mengontrolnya terlebih dahulu dengan dadanya sebelum bola kembali jatuh ke lantai.
Setelah Tomi berhasil menerima umpan dari Ruben, ia langsung berbelok sedikit ke arah kanan dan baaaammmm. Dia menendang bola dengan sangat kencang ke arah gawang milik 10-9. Bola hasil tendangannya itu dengan kencang mengarah ke pojok kiri bawah gawang. Kiper 10-9 terlihat hanya memandangi bola yang masuk ke gawangnya dengan sangat kencang tersebut.
"Yeeeeaaaah Golllll" teriak penonton menyambut gol dari Tomi itu.
Aku, Ruben, Ahsan, dan bahkan Renaldi langsung berlari menuju Tomi untuk merayakan gol yang baru dicetaknya itu bersama-sama. Raut wajah bahagia terpancar jelas dari kami, para pemain yang sedang duduk di pinggir lapangan, dan tentu saja para penonton. Bahkan Renaldi kini pun terlihat memasang wajah bahagia dengan senyum sumringah dari wajahnya.
Kami berlima lalu saling berpelukan dan melakukan tos.
"Nice Ton, nice woooahh," ucap Ahsan.
"Keren banget Tom tembakan mu. Untuk umpan ku juga terukur yah hahahaha," ucap Ruben sambil membanggakan umpannya tadi.
Skor kini pun menjadi 1-0 untuk keunggulan tim 10-7. Raut wajah para pemain 10-9 kini berbanding 180° dengan apa yang sedang diperlihatkan para pemain 10-7 yang penuh dengan kegembiraan. Para pemain 10-9 tampak lesu, murung, kecewa, sedih, dengan gol yang baru saja tercipta itu.
Bahkan, Robi pun sampai-sampai mengambil bola lalu langsung membantingnya dengan keras ke lantai sebelum ia pergi meninggalkan permainan. Sepertinya ia sangat emosi dan terlihat sudah tidak mau lagi melanjutkan permainan. Ia terlihat seperti sedang menyalahkan rekan-rekannya yang lain sebelum menghilang pergi dari area lapangan futsal ini.
Teman-temannya tentu tak hanya tinggal diam, mereka berusaha untuk membujuk Robi supaya tetap tenang dan bersedia kembali meneruskan pertandingan. Namun, Robi terlihat sudah sangat emosi dan mengabaikan teman-temannya tersebut. Aku tidak menyangka bahwa akan terjadi hal seperti ini sekarang.
Setelah sempat terhenti karena insiden tadi, pertandingan pun kembali dilanjutkan. Kini waktu hanya tersisa sekitar 1 menit saja. Rasanya, kami sudah hampir pasti menang karena sulit rasanya untuk 10-9 berhasil mencetak di waktu yang hanya kurang dari satu menit ini. Apa lagi, Robi, pemain andalan mereka telah pergi meninggalkan lapangan pertandingan.
Di waktu yang singkat ini, tak ada lagi pergerakan berarti dari kedua tim. Permainan pun akhirnya berakhir dengan skor 1-0 untuk kemenangan 10-7. Dengan hasil ini, 10-7 pun berhasil melaju ke babak selanjutnya yaitu semifinal. Tinggal satu langkah lagi hingga kami berada di grand final.
Setelah wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya babak kedua, para pemain yang masih berada maupun sedang di pinggir lapangan lalu melakukan aksi sportifitas yaitu saling bersalaman. Di saat sedang bersalaman dengan para pemain 10-9 ini, aku tidak melihat Robi. Sepertinya ia masih belum kembali dan mungkin masih sangat marah.
Perasaan senang dengan jelas terpancar dari setiap anak 10-7 yang sedang menonton tadi. Mereka masih saja menyanyikan yel yel kelas meskipun pertandingan sudah berakhir.
__ADS_1
"Good jooob, nice nice," sambut Aji saat mulai menyalami aku dan yang lainnya.
"Lagi-lagi kau menunjukkan peforma yang luar biasa Tom, hebat," puji Calvin.
"Sudah-sudah aku jadi malu," ucap Ruben.
"Siapa juga yang sedang memuji mu? Lagi pula, tidak akan ada yang memuji mu," timpal Ahsan.
"Hahaha sudah mau ribut lagi kah?" ucap Fahmi sambil tertawa kecil.
Kami para pemain lalu langsung bergabung dengan anak-anak kelas 10-7 yang jadi supporter tadi. Wajah sumringah dengan jelas terpancar dari wajah mereka. Entah kenapa, aku menjadi merasa lebih bahagia lagi ketika menyadari bahwa mereka juga merasa bahagia.
Aku lalu langsung duduk di bagian belakang sembari menghabiskan air minum yang tinggal seperempat di dalam botol minum ku ini. Aku dengan cepat langsung menenggaknya hanya dalam beberapa detik. Sungguh pertandingan yang sangat menguras tenaga.
Aku lalu iseng-iseng melihat ke arah Cindy. Seperti yang lain, Cindy juga terlihat sangat senang. Wajahnya sekarang ini terlihat begitu bersinar dengan senyum manis yang terpancar dari wajahnya itu. Lesung pipinya terlihat dengan jelas saat ia mulai tersenyum.
"Selamat ya Lang," ucapnya sambil mengulurkan tangan kanannya.
Aku lalu menyambut uluran tangannya itu dengan sebuah salaman dan sambil sedikit tersenyum, "Iya Sof, makasih hehe."
Setelah, Ruben dan Ahsan pun datang menghampiri kami.
"Wah Sofia. Makasih loh udah nonton," ucap Ruben.
"Kan aku kemaren udah janji, selamat yah Ben, San. Semoga nanti bisa menang," ucap Sofia lagi.
"Kami pasti menang. Soalnya ada kiper terbaik yang menjaga gawang kami hahaha," ucap Ruben dengan percaya diri.
__ADS_1
"Terbaik dari Hongkong?" timpal Ahsan.
"Hihihihi kalian masih saja suka berantem yah," Sofia terlihat tertawa kecil.
"Bukan aku yang memulainya. Yang memulainya pasti Ahsan duluan," jawab Ruben.
"Haaa? Apa-apaan tuch?" ucap Ahsan dengan logat khasnya.
"Hihihihi sudah lama juga aku ga denger logat Ahsan," Sofia masih terlihat tertawa. "Ya sudah ya, aku pamit dulu, semangat..." ucap Sofia lagi lalu pergi meninggalkan kami.
***
"Wah tadi kau lihat mukanya si Robi gak?" tanya Ruben sambil melahap tempe yang terlebih dahulu telah dicocol dengan sambal.
"Haha iya, iya. Aku lihat. Mukanya kelihatan marah banget. Kayaknya dia merasa capek banget gitu, tapi pada akhirnya malah kebobolan di menit-menit akhir," jawab Ahsan sambil menyeruput es miliknya.
"Tapi aku tidak menyangka kalau Robi bisa se-emosi itu. Bahkan ia sampe gak mau nerusin pertandingan lagi loh," ucap Aji yang masih tidak percaya.
"Iya, yang lebih parahnya lagi ia juga pergi entah kenapa. Dia juga tidak terlihat lagi waktu di akhir pertandingan," timpal Ruben lagi.
"Oi Ben tangan mu kau lap kan kemana? Enak aja main lap-lap si baju orang," ucap Ahsan yang tak terima bajunya menjadi lap tangan Ruben yang penuh dengan minyak bekas tempe yang ia makan tadi.
"Maap, gak sengaja," jawab Ruben dengan ekspresi tanpa dosanya itu.
"Gak sengaja, gak sengaja. Itu tadi aku yakin se-yakin-yakinnya kalau kau itu sengaja meletakkan jari jemari kau yang penuh dengan minyak itu ke baju ku," timpal Ahsan yang tidak percaya dengan alasan Ruben.
***
__ADS_1
Bersambung