
"Wah yang bener San? Kau dapat kabar dari mana tentang siswa baru itu?" tanya Ruben dengan bersemangat.
"Rahasia dong hahaha," jawab Ahsan.
"Hemmm... Ngomong-ngomong siswa baru itu laki-laki apa perempuan?" tanya Ruben dengan masih penuh semangat itu.
"Kalau gak salah, aku dengarnya sih laki-laki," jawab Ahsan.
"Oh," jawab Ruben singkat dengan raut wajah yang sama sekali sudah tidak bersemangat itu.
"Hahaha ada apa dengan muka mu itu? Kenapa tiba-tiba jadi tidak bersemangat seperti itu?" tanya Ahsan.
"Buat apa bersemangat untuk siswa laki-laki," timpal Ruben.
"Hahahaha," Ahsan lalu tertawa.
***
Sekitar jam 17.15, kami memutuskan untuk pulang dari angkringan. Kami pun langsung bergegas menuju rumah kami masing-masing. Ahsan masih menuju ke selatan lalu ke barat, sementara aku dan Ruben menuju ke utara.
Selama aku di angkringan tadi, aku melihat angkringan tersebut selalu terlihat ramai. Tidak hanya oleh orang-orang yang makan di tempat, tetapi juga oleh orang-orang yang membeli untuk dibawa pergi.
Aku sekarang mungkin tau alasan kenapa angkringan tersebut selalu ramai, yaitu apalagi kalau bukan rasanya yang enak dan juga harganya yang murah. Namun, tetap saja nada bicara dari penjual angkringan tersebut, terasa begitu mengganjal untuk ku. Entah kenapa nada bicaranya itu kurang enak didengarkan.
Di perempatan di dekat sekolah, aku lalu berpisah dengan Ruben. Aku masih lurus ke utara, sementara Ruben berbelok ke arah timur.
"Duluan Lang," ucap Ruben.
"Ya," jawab ku singkat.
Sesampainya di rumah, aku lalu langsung mandi. Setelah itu, aku langsung bersantai di balkon lantai dua sambil menikmati langit yang perlahan berubah menjadi gelap tersebut. Tak ketinggalan aku menikmatinya dengan ditemani secangkir cokelat panas.
__ADS_1
***
Malam sekitar pukul setengah 8, setelah selesai makan malam, aku disuruh ibu ku untuk membeli beberapa hal di minimarket seperti sabun, sampo, pasta gigi, dan lain-lain. Sebelumnya, ibu sudah menuliskan list barang yang harus aku beli.
Saat ini aku sedang dalam perjalan menuju ke minimarket terdekat yang mana berjarak sekitar 1 km dari kediaman ku. Seperti biasa, aku menuju ke mini market dengan berjalan kaki.
Malam ini, bulan terlihat penuh. Artinya, malam ini adalah malam bulan purnama. Entah kenapa, setiap kali aku melihat bulan purnama begini, perasaan ku menjadi dipenuhi oleh emosi-emosi yang sepertinya sudah menumpuk sejak lama dan meluap hanya pada malam ini. Mungkin nanti malam, aku akan membuat sebuah sajak atau semacamnya.
Suasana kota pada malam hari ini, entah kenapa terasa begitu damai. Jalanan yang jasanya masih ramai, saat ini justru relatif sepi.
***
Sesampainya di mini market, aku langsung mengambil keranjang belanjaan. Setelah itu, aku lalu mengeluarkan kertas catatan yang sudah disiapkan oleh ibu ku sebelumnya. Kemudian, aku mulai mengambil barang-barang yang tertulis di catatan tersebut satu per satu.
***
Setelah selesai membeli semua barang yang ada di catatan, aku lalu kembali mengeceknya satu per satu takut ada yang kelewatan atau semacamnya. Setelah dicek lagi, ternyata benar, ada satu benda yang belum terambil yaitu sikat gigi. Aku pun lalu menuju ke rak yang memajang sikat gigi dan lalu mengambilnya.
Saat ini, aku pun bingung bagaimana caranya aku membayar barang-barang yang aku ambil ini. Untungnya, aku belum menyerahkan kotak belanjaan ku ini ke kasir. Jadi, aku masih bisa berpikir sejenak untuk mencari solusinya.
Solusi pertama yang muncul di benak ku sekarang ini adalah dengan mengembalikan setiap barang yang tadi aku ambil, lalu kembali ke rumah untuk mengambil uang. Namun, entah kenapa rasanya begitu memalukan jika aku melakukan hal tersebut. Namun, jika aku tidak melakukannya, aku juga tidak tahu harus membayar dengan apa belanjaan ku ini.
Di saat aku sedang kebingungan tersebut, tiba-tiba saja datang dari balik pintu itu sesosok yang aku kenal. Sosok yang aku maksud itu adalah Cindy.
"Eh Galang? Kenapa Lang? Kok kelihatan kayak lagi bingung gitu," tanya Cindy yang langsung bisa menyadari kalau aku sedang kebingungan.
"Iya ini Cin, aku lupa bawa uang ku. Kalau mau pulang lalu ambil uang dulu, kayaknya gimana gitu," jawab ku.
Cindy kini malah terlihat tersenyum dan tertawa setelah mendengar alasan ku merasa bingung.
"Eh? Kok malah ketawa Cin? Ada yang salah ya? Apanya? Baju ku sobek? Celana ku sobek?" tanya ku sambil memeriksa pakaian yang sedang aku pakai ini.
__ADS_1
"Bukan, bukan begitu kok hehehe," jawab Cindy yang masih terlihat tertawa kecil tersebut.
"Lalu?" tanya ku.
"Baru kali ini aku melihat kamu melakukan hal yang ceroboh. Ternyata, seorang Galang bisa juga melakukan hal-hal seperti ini yah, hihihihi," jawab Cindy.
"Ya mau bagaimana lagi. Aku juga tidak tahu uang ku itu jatuh atau lupa belum aku bawa," jawab ku lagi.
"Hihihi ya udah nih, aku pinjami uang dulu yah," ucap Cindy.
"Wah beneran Cin? Wah makasih banget yah... Besok pasti langsung aku balikin pas di sekolah," ucap ku dengan penuh semangat.
"Iya, iya. Santai saja kok," jawab Cindy.
Cindy lalu mengambil uang di dalam dompetnya itu kemudian memberikan pada ku dua lembar uang pecahan seratus ribu.
"Wah makasih ya Cin," ucap ku.
"Iya sama-sama Lang. Oiya itu ngomong-ngomong cukup gak?" tanya Cindy.
"Cukup, cukup kok. Ya udah aku ke kasir dulu ya Cin. Duluan..." ucap ku yang lalu langsung menuju ke kasir.
***
Sesampainya di rumah, aku lalu langsung mengecek ke kamar ku untuk mengetahui sebenarnya uang ku itu jatuh atau memang lupa terbawa. Saat aku tiba di kamar ku, ternyata uang yang di atas meja itu sudah tidak ada. Dengan demikian, bisa dipastikan bahwa uang ku bukannya lupa terbawa, akan tetapi memang jatuh di jalan.
Aku tidak tahu kenapa aku bisa kehilangan uang yang aku masukan ke dalam saku celana ku itu. Sepertinya ini adalah kali pertama ku kehilangan uang di jalan.
Perlu kalian ketahui, aku tidak pernah menyimpan uang ku di dalam dompet. Bahkan, dompet saja aku belum punya. Jadi setiap kali aku membawa uang, pasti langsung aku masukan ke dalam saku celana. Entah kenapa, aku merasa ada yang mengganjal saja jika membawa dompet kemana-mana yang mana rasanya kurang nyaman untuk ku.
***
__ADS_1
Bersambung