
"Selamat yah Cin," ucap ku pada Cindy.
"Eh. Oh iya Lang. Makasih ya," ucap Cindy yang setengah kaget karena ia sedang asik membaca sebuah novel seperti biasanya. Entah kenapa, akhir-akhir ini aku sudah jarang membaca buku lagi.
"Oiya, kalau boleh tau, cerpen mu bercerita tentang apa?" tanya ku lagi.
Cindy tidak langsung menjawabnya. Ia kemudian mengambil lembaran-lembaran kertas putih yang di atasnya sudah tertulis naskah cerpennya. Cindy lalu langsung memberikan lembaran-lembaran itu kepada ku.
"Ini Lang, kalau kau mau baca," ucap Cindy sambil memberikan naskah cerpennya. Entah kenapa, aku merasa ada yang berbeda dari Cindy yang biasanya. Entah kenapa aku merasa, saat ini mood Cindy tidak begitu baik, padahal ia baru saja menjadi juara 3 lomba cerpen dan juga menjadi bagian dari juara 1 lomba masak.
"Kamu kenapa Cin? Gak kayak biasanya?" tanya ku.
"Gak papa Lang. Gak ada apa-apa kok," jawab Cindy yang entah kenapa raut wajahnya kini menunjukkan hal yang sebaliknya dari apa yang ia ucapkan barusan. Aku menjadi semakin bingung.
"Oh gitu ya. Aku kira ada apa-apa. Soalnya kamu kelihatan kayak lagi bad mood gitu," ucap ku.
Cindy tidak menjawab ku. Ia kembali meneruskan membaca buku yang ada di atas mejanya itu.
***
Sekarang, waktu sudah menunjukkan pukul 18.41. Anak-anak di kelas ku kini sudah bersiap-siap berangkat ke tempat dimana acara api unggun dilaksanakan.
"Oi Ben, cepatlah sedikit," ucap Ahsan.
"Iya bentar-bentar tanggung," ucap Ruben yang masih sibuk menyisir rambutnya di depan cermin.
Sementara itu, Cindy juga terlihat sudah pergi dari tempat duduknya. Kali ini, ia tidak menyapa ku sama sekali. Tidak seperti biasanya.
***
Acara api unggun dilaksanakan di samping lapangan sepak bola. Selain tempatnya yang luas, di sini juga merupakan tempat yang paling baik untuk melaksanakan pesta api unggun. Ditambah lagi, di sini juga tergolong aman, karena tidak ada hal yang mudah terbakar di sekitar sini.
Saat aku, Ruben, dan Ahsan datang, api unggun sudah dalam keadaan menyala. Para siswa dan guru lalu terlihat duduk atau berdiri mengelilingi api Unggung tersebut.
Di samping api unggun, terlihat sudah disediakan alat musik akustik. Siapa saja dipersilahkan untuk menampilkan penampilan mereka jika berkenan.
__ADS_1
Saat ini yang sedang tampil adalah para beberapa guru yang sedang memainkan lagu-lagu nostalgia. Mungkin lagu-lagu itu adalah lagu-lagu top pada saat mereka masih SMA atau semacamnya.
Ketika aku melihat alat musik seperti ini, aku jadi teringat pada teman lama ku, Tora. Rasanya, sudah lama aku tidak mengobrol dengannya. Aku juga penasaran, kira-kira dia akan tampil atau tidak yah?
Beruntung sekali malam ini tidak turun hujan. Langitnya pun cerah dan dipenuhi oleh bintang-bintang yang bertebaran. Tak ketinggalan, sinar bulan yang pada malam hari ini terlihat sedikit lebih redup dari kemaren, tapi tidak mengapa, justru itu yang menjadi daya tariknya sendiri.
***
Karena tiba-tiba aku Inging buang air kecil, aku pun memutuskan untuk pergi ke kamar mandi terlebih dahulu. Acara api unggun saat ini sudah semakin ramai dan meriah. Sudah banyak siswa yang menampilkan pertunjukkan. Ada yang menampilkan stand up comedy, musik akustik, menyanyi, dan lain-lain. Aku pun harus rela meninggalkan suasana yang sedang asik-asiknya ini untuk sementara waktu.
"Aku mau ke kamar mandi dulu yah," ucap ku pada Ahsan dan Ruben.
"Mau aku temenin gak?" tanya Ruben.
"Gak usah," jawab ku.
"Yakin kau berani Lang?" tanya Ruben.
Aku tidak menjawabnya, aku langsung pergi menuju kamar mandi.
***
"Cindy?" ucap ku saat pertama kali melihatnya keluar dari kamar mandi.
"Eh Galang," jawabnya.
"Kamu sendirian aja?" tanya ku.
"Iya aku sendirian. Takut sama apa?" tanyanya balik.
"Oh engga. Aku kira kan kalau perempuan banyak yang takut gelap gitu," jawab ku.
"Engga. Aku biasa aja," ucapnya datar. Sepertinya Cindy masih belum baikan.
"Oh begitu yah hehehe. Mau kembali ke api unggun sekarang?" tanya ku.
__ADS_1
Cindy tidak menjawab ku. Dia langsung berjalan perlahan ke arah depan. Sepertinya ia memang sedang memendam sesuatu. Aku lalu berjalan dibelakangnya sambil terus berpikir kira-kira apa yang membuat Cindy menjadi dingin seperti itu.
Baru beberapa langkah berjalan, Cindy tiba-tiba berhenti.
"Ada apa Cin?" tanya ku yang heran kenapa Cindy tiba-tiba berhenti.
"Kamu saja duluan Lang. Jangan bareng-bareng kayak gini," ucapnya.
"Eh kenapa emangnya?" tanya ku yang menjadi bertambah bingung dengan apa yang Cindy ucapkan.
"Pokoknya kamu jalan duluan aja. Biar aku nanti," ucapnya lagi.
"Kenapa begitu?" tanya ku.
Jika saat ini aku dan Cindy dilihat dari kejauhan, orang yang melihat kami pasti berpikir bahwa kami adalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Aku juga tidak tahu kenapa Cindy bisa berubah begitu, padahal tadi pagi masih biasa-biasa saja. Aku benar-benar tidak bisa mengerti apa yang seorang perempuan pikirkan.
"Nanti ada yang marah kalau kita jalan berdua," ucapnya lagi.
"Ha? Marah? Siapa? Dan marah pada siapa?" jawab ku yang semakin tidak mengerti.
"Celine, bukankah dia kekasih mu?" ucapnya.
"Ha? Celine? Kekasih ku? Mana ada. Aku baru mengenal Celine juga belum ada satu Minggu," jawab ku yang masih merasa kebingungan.
"Kan Celine cantik, pasti kamu sudah jantuh cinta padanya saat pandangan pertama kan, seperti anak laki-laki yang lain? Tadi aku juga melihat mu sedang berduaan saat kamu sudah memulai lomba masak," ucapnya lagi.
"Oh itu, kami berduaan itu gak sengaja. Kebetulan saja aku bertemu dengannya. Dia juga sedang sendirian. Terus tiba-tiba saja ia duduk di sebelah ku dan kami membicarakan banyak hal. Tapi aku dan Celine sama sekali bukan sepasang kekasih. Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?" tanya ku.
Cindy terdiam tiba-tiba saja terdiam. Ia tidak menjawab pertanyaan ku kali ini. Ia lalu kembali membalikan badannya ke depan dan mulai berjalan perlahan. Ia mulai berjalan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Aku menjadi semakin bingung. Dan juga, kenapa Cindy bisa berpikiran kalau aku dan Celine berpacaran? Entahlah.
Aku kali ini tidak berjalan menyusulnya. Aku takut kalau aku berjalan dibelakangnya lagi, ia akan protes pada ku. Aku pun hanya diam di sini sambil terus memperhatikan Cindy yang perlahan mulai menjauh itu.
***
Di tengah acara api unggun yang begitu ramai dan penuh dengan perasaan bahagia dan penuh suka cita ini, entah kenapa aku menjadi merasa sangat sepi. Setelah Cindy pergi meninggalkan ku tanpa sepatah kata pun tadi, rasa sepi ini, kini menjadi mengambil perasaan ku.
__ADS_1
***
Bersambung