Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 48 : Jalan Rahasia


__ADS_3

"Hahaha bercanda-bercanda. Aku memang sudah berencana untuk mengerjai mu hahaha," Ruben tertawa lebar.


Lalu aku dan Ruben pun masuk ke dalam rumahnya yang sepi seperti biasanya.


"Orang tua mu tidak pulang?" tanya ku pada Ruben.


"Tidak, mereka hanya akan pulang kalau pekerjaan mereka sedang libur. Selain itu, mereka juga harus menunggu adik ku libur juga. Jadi, mereka biasanya hanya akan pulang ketika adik ku tengah libur panjang," jawab nya.


"Begitu ya, apa kau tidak merasa kesepian?" tanya ku lagi.


"Tentu saja engga hehehe," Ruben tersenyum lebar.


Aku lalu duduk di sofa ruang tamu rumahnya.


"Tunggu dulu ya, aku mau ambil tas ku dulu," ucap Ruben menuju ke kamarnya.


"Ok," jawab ku.


Aku lalu melihat-lihat dinding-dinding rumahnya. Aku pun lalu menemukan sebuah foto yang cukup besar lengkap dengan bingkainya menempel erat di dinding sebelah barat ruang tamu. Aku lalu bangkit dan mendekat ke foto tersebut. Foto itu berisikan anggota keluar Ruben secara lengkap mulai dari Ruben, adiknya, ayahnya, dan ibunya. Di foto ini, Ruben terlihat mirip sekali dengan ibunya. Adik nya pun demikian, ia terlihat sangat mirip dengan ibunya. Bahkan sekilah ayahnya juga agak mirip dengan ibunya.


Di dalam foto itu, mungkin Ruben masih SD atau SMP kelas 1. Ia tampak masih kecil dan rambutnya ternyata selalu begitu dari dulu. Ruben berpose dengan wajah penuh percaya diri sambil meletakkan kedua tangannya di samping pinggangnya. Nampak seperti sebuah piala.


Berbeda dengan Ruben, adiknya nampak bingung dan itu terpancar jelas dari raut wajahnya yang berdiri tepat di samping Ruben. Sementara ayah dan ibunya kompak tersenyum lebar dengan menggunakan pakaian yang seragam.


Setelah cukup puas melihat foto tersebut, aku pun kembali duduk di kursi tadi. Tak lama setelah itu, Ruben pun kembali dari kamarnya dengan sudah membawa tas.


"Ayo berangkat Lang," ucap Ruben sambil menggendong tasnya.


"Eh sekarang?" tanya ku.


"Iya sekarang," jawab nya.


"Memang engga nunggu Ahsan dulu?" tanya ku lagi.

__ADS_1


"Kan aku gak bilang kalau dia ikut," jawab Ruben lagi.


"Ehh? Aku kira dia ikut. Jadi, kita cuma berdua ke kolam renangnya?" tanya ku lagi.


"Iya lah hahaha. Aku kan tadi ga bilang kalo Ahsan bakalan ikut," Ruben tertawa.


"Iya sih. Yaudah, ayo berangkat," aku lalu bangkit dari tempat duduk ku.


Lalu aku dan Ruben pun langsung bergegas menuju ke tempat renang "Tirta". Jarak kolam renang tersebut dari sini sekitar 5 km. Kami pun memutuskan untuk pergi ke sana menggunakan sepeda. Karena tadi kau ke sini dengan berjalan kaki, aku pun meminjam sepeda milik Ruben untuk pergi ke sana.


Kami lalu mulai mengayuh sepeda kami masing-masing. Ruben berada di depan, dan aku mengikuti di belakangnya. Jalanan kali ini cukup ramai karena hari Minggu. Kami pun bersepeda dengan pelan dan santai.


"Oi Lang mau tau jalan rahasia gak?" tanya Ruben sambil menoleh ke belakang.


"Jalan rahasia apa?" jawab ku dengan tanya.


"Pokoknya ikuti aku aja," ucap Ruben sambil menoleh ke belakang lagi.


"Terserah kau saja," aku agak berteriak dari belakang.


Kami bersepeda di bawah pepohonan bambu di samping sungai. Terdengar suara serangga yang suaranya cukup keras. Aku tidak tahu pasti apa nama serangga tersebut.


"Oi Ben, kau yakin kita berada di jalan yang benar?" teriak ku dari belakang.


"Tenang saja Lang, ini adalah jalan rahasia," jawab Ruben tanpa menoleh.


"Apa maksudnya jalan rahasia?" tanya ku lagi.


"Nanti kau pasti akan tahu dengan sendirinya," lagi-lagi ia menjawab tanpa menoleh.


Angin yang melewati ku, kini terasa lebih sejuk. Cahaya matahari yang terik pun kini terhalang oleh pohon bambu yang tumbuh tinggi dan saling berdekatan. Untuk sesaat, aku seperti merasa tidak sedang berada di kota ini. Aku merasa seperti aku sedang berada di tempat yang benar-benar lain. Suara serangga yang bergema pun kini terdengar makin keras dan jelas. Apakah ini yang dimaksud jalan rahasia oleh Ruben? Entahlah.


Di tengah angin yang berhembus tenang melewati kami, Ruben kini terlihat melepas kedua tangannya sambil tetap mengayuh pedal sepedanya. Ia terlihat sangat menikmati suasana di tempat ini sekarang. Suara gemercik air dari sungai juga kian menambah kesan damai di sepanjang jalan ini. Aku baru tahu kalau ada tempat yang indah dan tenang seperti ini di kota ini.

__ADS_1


***


Setelah cukup lama berada di jalan tadi, kami lalu kembali berbelok dan mengambil jalan yang menanjak. Kini kami telah berada di jalan raya kembali.


Sesampainya di kolam renang "Tirta", kami pun langsung buru-buru memarkirkan sepeda kami dan langsung segera pergi ke loket untuk membeli tiket.


"Beli dua mba," ucap Ruben pada wanita yang sedang menjaga loket.


Lalu wanita itu pun memberi Ruben dua tiket. Kami pun lalu langsung masuk ke dalam.


"Gimana Lang tadi jalan rahasianya?" tanya Ruben saat mulai memasuki area kolam renang.


"Aku baru pertama kali lewat situ. Aku baru tahu kalau ada tempat setenang itu di kota ini," jawab ku.


"Hahaha benar kan. Jadi, sekarang kau paham kan kenapa aku menamai jalan tadi jalan Rahasia?" tanya Ruben sambil tersenyum.


"Mungkin aku sedikit mengerti," jawab ku.


"Kenapa cuma sedikit, kau harusnya mengerti banyak Lang," ucap nya lagi.


"Ya, ya, ya, terserah kau saja lah haha," aku tersenyum kali ini.


Kami pun lalu segera menuju ke kamar ganti untuk mengganti pakaian kami terlebih dahulu sebelum mulai berenang. Setelah kami ganti baju, kami lalu langsung menyimpan barang bawaan kami di loker. Lalu kami pun langsung masuk ke dalam kolam renang.


Byur. Aku dan Ruben sama-sama melompat dari tepian kolam. Rasanya sudah cukup lama aku tidak berenang. Entah kenapa suasana di kolam renang ini tidak lah terlalu ramai, padahal hari ini adalah hari Minggu.


Karena tidak terlalu ramai, kami pun cukup bebas dalam berenang karena kolamnya tidak terlalu penuh dengan orang-orang. Aku sungguh menikmati kolam renang yang tidak terlalu ramai seperti ini.


Aku lalu berenang dari tepi ke tepi yang lain menggunakan gaya bebas. Sementara itu, Ruben hanya terlihat asik bermain perosotan.


Aku jadi teringat dulu sewaktu aku dan ayah pergi berenang berdua. Waktu itu, aku takut sekali ketika pertama kali ayah membawa ku ke kolam renang yang cukup dalam. Aku pun berpegang erat pada ayah. Ayah hanya tertawa melihat ku yang ketakutan dan hampir menangis itu.


Ayah lalu mencoba menenangkan ku perlahan-lahan sambil mencoba melepas genggaman ku. Aku lalu di suruh ayah untuk menggerakkan kedua kaki ku supaya tidak tenggelam.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2