Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 167 : Obrolan Serius


__ADS_3

**********************************************Seburuk apa pun nasib yang menimpa mu hari ini,


Percayalah bahwa harapan akan selalu datang seiring dengan berjalan waktu,


Hidup itu selalu berputar


**********************************************


Sudah sekitar 15 menit kami berada di kedai minuman ini. Kami pun hanya mengobrol masalah yang ringan-ringan.


"Oi Ben sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu pada Galang," ucap Ahsan.


"Eh kau yakin? Sekarang?" tanya Ruben balik.


"Maksudnya dengan 'hal itu'? Mungkinkah 'hal itu' yang kalian maksud itu adalah 'hal itu' yang waktu itu kalian mau tanyakan juga pada ku?" tanya ku penasaran.


"Mmm yah mungkin seperti itu," jawab Ruben yang raut wajahnya berubah menjadi agak serius. Begitupun dengan Ahsan yang entah kenapa berubah menjadi agak serius.


"Jadi, apa yang ingin kalian tanyakan?" tanya ku lagi.


"Mungkin ini agak serius sih. Aku harap kau bisa mengatakannya dengan jujur. Jangan khawatirkan kami," ucap Ruben.


"Ya, terus?" tanya ku lagi.


"Mungkin kau sudah tau kan kalau aku dulu pernah bilang kalau Ahsan itu suka Sofia, dan Ahsan juga pernah bilang kalau aku suka sama Cindy? Kau masih ingat?" ucap Ruben.


"Karena kau bilang begitu, aku jadi mengingatnya lagi. Aku tidak tahu aku harus menganggap kalimat itu tadi beneran atau cuma bercandaan, jadi aku tidak terlalu memasukkannya dalam hati," jawab ku.


"Kalimat itu adalah benar adanya. Kau tau? Aku memang menyukai Cindy dan Ahsan menyukai Sofia. Kami menceritakan hal ini pada mu karena kami sudah menganggap kau itu sahabat kami. Jadi, kami pikir kau harus tau soal masalah ini, " ucap Ruben yang mana langsung membuat ku sangat terkejut.


"O-oh iya bagus kalau begitu. Aku juga senang kalau kalian menganggap ku sebagai sahabat," ucap ku dengan agak salah tingkah. Aku sebenarnya tidak tahu apa yang harus aku katakan setelah mendengar kebenaran itu dari Ruben.

__ADS_1


"Lalu, tentang hal yang ingin kami tanyakan pada mu. Tolong jawab dengan jujur yah... Apakah kau itu menyukai Cindy atau Sofia?" tanya Ruben yang mana langsung membuat jantung ku serasa berhenti. Setelah Ruben bertanya hal itu pada ku, sungguh aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku bahkan tidak tahu apa yang aku rasakan pada kedua perempuan itu.


"Te... T-tentu saja aku hanya menganggap mereka berdua sebagai teman," jawab ku dengan keragu-raguan.


"Eh beneran? Aku kira kau suka salah satu diantara mereka hahahaha. Leganya hati ku saat mendengar hal itu dari kau hahaha," Raut wajah Ruben seketika langsung berubah menjadi seperti biasanya lagi. Begitu pun dengan Ahsan.


"Hahaha maaf, maaf. Sebenarnya aku yang kepikiran kalau kau itu menyukai Cindy atau Sofia. Ruben sebenarnya tidak sedikit pun terpikirkan akan hal itu. Hanya saja, untuk membuat semuanya jelas, jadi lebih baik kita bicarakan masalah ini bersama-sama," ucap Ahsan.


"Hahaha iya benar sekali. Kami saat ini merasa sangat lega. Jikalau aku dan Ahsan bersaing dengan mu soal wanita, sudah pasti kami yang akan kalah hahahah. Kau memang beruntung terlahir dengan rupa yang seperti itu Lang. Kau harus banyak-banyak bersyukur tentang itu. Sejujurnya, aku sangat iri sekali dengan mu. Kau itu terlihat seperti bisa mendapatkan siapa pun asalkan kau mau. Sial, sial. Kenapa bukan aku saja yang diberkahi rupa seperti itu? Hahahaha," Ruben lalu tertawa dengan cukup keras.


"Hahahaha oiya aku ada pertanyaan lagi nih Lang. Kalau kau tidak menyukai Cindy atau pun Sofia, lalu apakah ada wanita yang sedang kau sukai?" tanya Ahsan.


"Wanita yang sedang aku sukai?" tanya ku.


"Iya, wanita yang saat ini sedang kau sukai, ada gak?" tanya Ahsan lagi.


Kalau ditanya soal seperti itu, aku sebenarnya juga tidak bisa menjawabnya. Definisi aku menyukai seorang wanita itu saja aku masih belum paham. Aku benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.


"Mmm sepertinya tidak ada. Sejauh ini aku menganggap semuanya sebagai teman," jawab ku.


"Bagaiman dengan Celine? Apakah kau tidak menyukainya?" tanya Ahsan.


"Celine? Entahlah, aku sudah menganggapnya sebagai teman juga sih," jawab ku yang mana sebenarnya tidak tahu apa yang aku rasakan sebenarnya.


***


Setelah pulang dari kedai, aku berencana untuk menyempatkan diri mampir ke toko buku milik nenek Maria (neneknya Cindy). Kebetulan, UTS sudah selesai dan juga aku sudah mulai kehabisan stok novel.


Sesampainya di toko buku, aku cukup terkejut. Pasalnya suasana toko buku pada siang hari ini cukup ramai. Bahkan mungkin yang teramai selama aku mengunjungi toko buku ini.


Aku lalu mulai mencari dan memilih buku novel yang hendak aku pilih. Kali ini, aku sedang ingin membaca novel fiksi fantasi battle. Entah kenapa semenjak aku membaca novel "Kesatria Bulan", aku menjadi lebih suka membaca novel fiksi fantasi battle seperti itu.

__ADS_1


***


Sepulang dari toko buku, aku lalu langsung bergegas menuju ke rumah. Aku sudah tidak sabar untuk segera meneruskan membaca novel fiksi "Kesatria Bulan" yang mana baru aku baca tiga per empatnya. Saat ini, novel tersebut sedang dalam puncaki masalahnya. Selain itu, aku juga ingin membaca novel yang baru saja aku beli ini. Novel ini berjudul "The Royal Battle".


Novel yang baru saja aku beli ini merupakan novel terjemahan dari luar negeri. Sepertinya novel ini berasal dari Inggris sana.


***


Saat aku baru saja sampai rumah, waktu sudah menunjukkan pukul 03.12 sore. Aku pun lalu langsung mandi. Jarang-jarang aku bisa mandi di waktu seperti sekarang ini.


Setelah selesai mandi, aku lalu langsung kembali ke kamar ku untuk langsung meneruskan membaca novel "Kesatria Bulan". Namun di saat aku akan mulai membaca novel, tiba-tiba saja aku melihat bahwa ada pesan yang baru saja masuk ke ponsel ku.


Aku pun mengecek terlebih dahulu dari siapa pesan tersebut. Setelah aku cek, ternyata pesan tersebut dari Celine. Entah kenapa, aku langsung merasa senang.


"Lagi ngapain Lang?" tulis pesan dari Celine itu.


"Ini lagi mau baca novel, ada apa?" balas ku.


"Ohhh, engga cuma mau nanya, gimana UTSnya lancar?" tanya Celine lagi.


"Aku rasa cukup lancar, tapi mungkin ada satu atau dua mata pelajaran yang aku masih belum yakin lulus atau tidak. Kamu sendiri bagaimana?" tanya ku balik.


"Ya gitu deh hehehe. Oiya ngomong-ngomong nanti malam kamu ada acara gak?" tanya Celine lagi.


"Jam berapa?" tanya ku.


"Sekitaran jam 7 sampai jam 9?" balas Celine.


"Sepertinya aku tidak ada acara di jam-jam itu. Memangnya ada apa?" tanya ku lagi.


"Wah bagus kalau gitu. Ini kebetulan aku punya dua tiket nonton drama di Taman Panggung buat nanti jam 7 sampai jam 9. Kamu mau gak nemenin aku buat nonton nanti?" tanya Celine.

__ADS_1


****


Bersambung


__ADS_2