
Sekitar pukul 11, kami akhirnya mulai berjalan pergi dari bangunan candi Borobudur itu. Kami selanjutnya turun ke bawah untuk beristirahat sambil mencari tempat untuk makan siang.
"Oi tadi aku ngobrol sama orang asing loh," ucap Ruben dengan bangga.
"Beneran tuh? Emang kau bisa bahasa Inggris Ben? Hahahaha," timpal Aji.
"Wah wah wah... Gini-gini aku bisa bahasa Inggris loh," jawab Ruben lagi yang kini menunjukkan foto bersama turis asing tadi kepada Aji.
"Wah ternyata beneran kau habis bertemu dengan orang asing? Wah gak nyangka kau ternyata bisa bahasa Inggris," ucap Aji yang sedikit terkejut.
"Kau percaya Ruben bisa bahasa Inggris Ji?" ketus Ahsan tiba-tiba, "kau gak merasa curiga sama sekali?"
"Eh maksudnya?" jawab Aji yang masih belum tahu.
"Hahaha tentu saja tadi yang mengobrol dengan orang asing itu bukanlah Ruben," jelas Ahsan.
"Eh bukan Ruben?" tanya Aji.
"Iyalah bukan Ruben. Mana mungkin orang seperti dia bisa berbahasa Inggris hahaha," ucap Ahsan dengan diakhiri tertawa.
"Kenapa kau mengejek ku? Bukannya kau juga gak bisa bahasa Inggris?" gumam Ruben.
"Wah berarti yang berbicara dengan orang asing itu kamu ya Lang?" ucap Aji.
"Iya Ji," jawab ku singkat.
"Hahaha begitu yah. Sekarang semuanya jadi lebih masuk akal. Oiya, ngomong-ngomong orang asing itu orang mana?" tanya Aji lagi.
"Dia bilang di orang Inggris," jawab ku.
"Oh begitu yah. Jauh juga yah hahaha," timpal Aji.
"Oiya ngomong-ngomong, kalian tau gak kenapa bahasa internasional yang paling populer digunakan itu bahasa Inggris yah? Kenapa bukan bahasa yang lain saja?" gumam Ruben.
"Eh, oh iya yah. Aku juga baru kepikiran. Wah iya juga yah. Kenapa harus bahasa Inggris yang jadi bahasa internasional?" timpal Ayu.
"Mungkin karena takdirnya memang begitu kali hahaha," timpal Ahsan yang bicara dengan sesuka hatinya.
"Suka-suka kau lah San, mau jawab apa," jawab Ruben.
__ADS_1
"Hahahaha," Ahsan hanya tertawa.
"Oiya satu lagi nih," ucap Ruben lagi.
"Apaan tuch?" timpal Ahsan dengan logat khasnya.
"Dari sudut pandang orang asing, kita ini orang asing juga kan?" ucap Ruben.
"Gila, Ruben hari ini jenius banget. Aku juga baru kepikiran soal orang asing itu. Wah berarti kita ini juga alien yah kalau dilihat dari sudut pandang alien, hahaha," timpal Ayu.
"Hahaha kamu baru menyadarinya yu kalau aku jenius? Kasian, kemana aja kamu selama ini," ucap Ruben.
Di saat yang lainnya tengah asik mengobrol, aku hanya memperhatikan mereka dari belakang. Dari belakang sini, aku bisa dengan leluasa memperhatikan apa yang teman-teman ku tengah lakukan. Jarak dari bangunan candi Borobudur ke pintu keluar memanglah cukup jauh. Namun dengan pemandangan yang masih asri dan indah ini, jujur aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Apalagi, aku memang penyuka jalan kaki.
***
Di saat kami mendekati pintu keluar, di sepanjang jalan kanan-kiri dipenuhi berbagai macam pedagang. Mulai dari baju, aksesoris, makanan, dan lain-lain. Semua pedagang itu berjejer dengan rapih di samping kiri-kanan jalan.
"Mau makan di sini apa nanti di luar aja?" tanya Aji.
"Dimana nih?" ucap Ayu mengajak berdiskusi dengan yang lainnya.
"Di luar aja deh," timpal Ruben.
"Iya di luar aja," balas Ruben.
"Okedeh... Ya udah kita makan di area luar aja," jawab Aji.
Kami semua pun lalu kembali bergegas menuju ke pintu keluar. Entah kenapa, semakin mendekati pintu keluar, suasananya menjadi makin ramai.
Setelah melalui pintu keluar, kami pun lalu kembali lagi ke area depan pintu masuk sekitaran area parkir. Saat ini, kami belum memutuskan menu apa untuk makan siang ini.
Sesampainya di area depan, kami ada lahirnya memutuskan untuk memilih kupat tahu sebagai menu makan siang kami. Tak ketinggalan, kami juga mengajak supir bus yang kami sewa itu untuk ikut makan siang bersama kami.
Saat ini, kami sedang duduk menunggu menu makanan kami datang. Tentu saja, sambil menunggu sambil berbincang-bincang.
"Nih aku ada tebak-tebakkan. Negara, negara mana yang bisa bikin monyet bingung? Hayo, ada yang tau gak," tanya Ruben.
"Negara yang bisa buat monyet bingung? Mana ada," timpal Wita.
__ADS_1
"Ada, ada. Coba pikirkan dulu baru jawab," timpal Ruben.
"Sepertinya aku mencium bau-bau tidak beres nich," ucap Aji menirukan logat Ahsan.
"Haa apa-apaan tuch Ji? Kau mau meng-copy diri ku yah? Hahaha," timpal Ahsan.
"Ayo jangan mengalihkan topik. Jawab dulu pertanyaan ku tadi," ucap Ruben lagi.
"Mmm bentar-bentar... Apa ya...? Hmmm," Aji terlihat sedang berpikir dengan cukup keras.
"Ayo Lang, kau juga bisa bisa menebaknya loh. Kau itu kebiasaan deh, kalau yang lain lagi berbincang, kau pasti cuma diam seperti itu," ucap Ruben.
"Oh, oke," jawab ku.
"Aku tahu, aku tahu," teriak Wita dengan semangat.
"Oh kamu sudah tau Wit? Apa hayo jawabannya," tanya Ruben.
"Rusia," jawab Wita dengan cepat.
"Loh kok Rusia?" tanya Ruben.
"Tuh kan monyetnya bingung, hahahaha," jawab Wita yang mana langsung membuat yang lainnya juga tertawa.
"Hahaha ******... Senjata makan tuan tuch... Hahaha," ledek Ahsan.
"Sial, sial... Kenapa aku bisa kejebak juga yah? Hadeuhhh," ucap Ruben sambil mengusap-usap kepalanya sendiri.
Sebenarnya, aku juga sudah tahu pertanyaan jebakan seperti ini. Namun, entah kenapa aku merasa aku lebih baik diam saja dari pada aku yang menjawabnya.
Tak lama berselang makanan kami pun mulai datang satu per satu. Piring-piring yang berisi kupat tahu itu, kini terlihat bergerak secara estafet dari satu ujung ke ujung yang lain. Setelah semuanya mendapatkan kupat tahunya, kami pun lalu mulai menyantap kupat tahu itu secara bersamaan.
***
Setelah selesai menyantap makanannya, kami pun kini beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan kami kembali. Tujuan selanjutnya setelah ini adalah candi Pawon, yang mana terletak tidak terlalu jauh dari candi Borobudur ini. Setelah dari candi Pawon, kami akan menuju ke tempat wisata yang terakhir yaitu candi Mendut.
Saat ini, kami hanya sedang berduduk-duduk santai saja sambil menikmati suasana yang masih asri sambil menunggu makanan yang kami makan barusan itu turun. Sambil beristirahat, aku sambil berpikir betapa hebatnya orang jaman dahulu bisa membangun tempat sebesar dan semegah ini. Apalagi, candi Borobudur juga dibangun di daerah perbukitan.
Selain itu, aku juga bertanya-tanya bagaimana orang pada waktu itu membentuk, memindahkan, dan menyusun batu-batu yang ukurannya tentu tidak lah kecil menjadi bentuk yang sangat indah dipandang itu. Aku penasaran, apakah pada jaman itu mereka sudah menemukan alat sehingga mempermudah pekerjaan mereka? Ataukah mereka melakukan semua pekerjaan yang luar biasa itu hanya dengan menggunakan tangan kosong? Entahlah.
__ADS_1
***
Bersambung.