Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 129 : Kilat


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, kini aku dan teman-teman ku beristirahat di balkon lantai 2 samping kamar ku. Tempat dimana aku biasa menghabiskan waktu sepi malam ku sendirian. Namun kini, aku di sini bersama teman-teman ku. Rasanya sedikit aneh memang, tapi entah kenapa rasanya sedikit lebih hidup dari pada biasanya.


"Wah rasanya nyaman sekali. Setelah kenyang menyantap makan malam, kita malah langsung bermalas-malasan seperti ini," ucap Fahmi.


"Iya, suasana di sini juga nyaman banget. Banyak pepohonan jadi sejuk banget, gak kayak di rumah ku," timpal Calvin.


"Wah kita sepertinya pulangnya masih lama ya Lang. Gak papa kan? Hahahaha," ucap Aji.


"Iya gak papa. Santai Aja," jawab ku.


"Woi Tom, tidur kau?" ucap Ruben.


Tomi yang tadi memejamkan matanya, kini matanya kembali terbuka.


"Wah cari gara-gara kau Ben membangunkan Tomi seperti itu. Hajar saja Tom, hajar hahaha," ucap Calvin.


"Wah aku ketiduran yah. Tempat ini memang nyaman sekali, aku sampai-sampai ketiduran. Padahal baru beberapa menit kita duduk-duduk di sini," ucap Tomi yang ternyata tidak marah setelah dikagetkan oleh Ruben tadi.


"Sudah ku bilang kan kalau rumahnya Galang itu nyaman banget. Untung tadi aku menyarankan kita pergi ke sini hehehe. Sekarang, berterima kasihlah pada ku," ucap Ruben.


"Berterima kasih pada mu? Apa-apaan tuch?" ucap Ahsan dengan logat khasnya.


"Hahaha yang jelas kita harus berterima kasih pada Galang karena telah menjamu kita dengan sangat baik," ucap Aji.


"Kalau begitu, makasih ya Lang," ucap Ruben.


"Aku juga makasih Lang..." lanjut Calvin.


"Aku juga, makasih ya..." ucap Fahmi.


"Makasih Lang," ucap Ahsan.


"Banyak terimakasih dari ku Lang," ucap Aji.


"Makasih banyak," ucap Tomi.


"Aku juga, makasih," ucap Renaldi.


"Ehh gak usah sungkan-sungkan seperti itu," jawab ku.

__ADS_1


***


*Suara lagu


I walk a lonely road


The only one that I have ever known


Don't know where it goes


But it's only me, and I walk alone


I walk this empty street


On the boulevard of broken dreams


Where the city sleeps


And I'm the only one, and I walk alone


"Wah lagunya siapa tuh? Enak juga," tanya Fahmi.


"Iya beneran. Aku baru dengar nih," jawab Fahmi.


"Itu lagunya Green Day," jawab ku.


"Judulnya?" tanya Fahmi lagi.


"Boulevard of Broken Dreams," jawab ku lagi.


"Oh..." timpal Fahmi.


"Kau tau artinya gak Mi?" tanya Ruben.


"Tau lah, memangnya kenapa?" tanya Fahmi balik.


"Gak papa, aku kira kau gak tau. Kalau gak tau, berarti sama hahahaha," Ruben tertawa cukup lebar.


Waktu semakin berlalu. Kini, waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 malam. Teman-teman ku pun kini sudah berada di teras depan rumah untuk berpamitan.

__ADS_1


"Kami pulang dulu ya Lang, tante. Makasih makan malamnya hehehe," ucap Ruben mewakili yang lainnya.


"Bukan apa-apa kok. Sering-sering main ke sini gak papa. Tante malah seneng," jawab ibu sambil tersenyum ramah.


"Siap tante... Ya sudah kami pamit dulu ya... Permisi," ucap Ruben.


Setelah Ruben selesai menyelesaikan kalimatnya itu, mereka semua lalu mulai bergegas meninggalkan rumah ini. Dalam waktu singkat, halaman yang tadi masih terasa sangat ramai dan hangat, kini kembali menjadi sepi seperti malam-malam biasanya. Aku dan ibu lalu kembali masuk ke dalam rumah dan menutup rapat-rapat pintu depan.


Setelah itu, aku langsung kembali ke lantai atas dan duduk kembali di balkon. Kali ini, aku duduk di sini sendirian, seperti pada malam-malam biasanya.


Langit malam ini dipenuhi dengan bintang-bintang yang menghampar luas di gelapnya langit malam. Walaupun malam ini cuacanya agak dingin, akan tetapi aku masih bisa merasakan sedikit sisa-sisa kehangatan yang tadi aku rasakan sewaktu bersama teman-teman ku.


Aku sangat senang, hari ini kami bisa mendapatkan juara 3. Yang lebih penting lagi, kami saling berbagi rasa satu sama lain. Sedih, kecewa, bahagia, ambisi, semangat, lelah, dan masih banyak lagi. Semuanya itu seakan melebur jadi satu dan menjadi perasaan hangat ketika berkumpul dengan mereka.


Aku tidak tahu yang aku rasakan ini baik atau buruk. Aku sebenarnya penasaran, kira-kira apakah mereka juga merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan? Entahlah.


Hanya saja, masih ada yang masih mengganjal, yaitu perihal Risal. Dia bahkan tidak terlihat waktu kami semua merayakan pencapaian kami tadi. Dia seakan menjadi bagian yang terpisah dari kelas kami. Entah kenapa, rasanya sungguh menyakitkan melihat salah satu dari kita tidak ikut merasakan kebahagian seperti apa yang kita rasakan tadi.


Suara gemuruh tiba-tiba saja terdengar dari langit yang dari tadi diam saja. Aku penasaran, apakah langit baru saja mendengar keluh kesah ku? Entahlah. Aku juga penasaran mungkinkan suara gemuruh itu sebenarnya adalah jawaban dari keluh kesah ku ini? Entahlah.


Di ujung langit sana, baru saja terlihat sebuah kilat yang menyala terang membelah gelapnya langit. Tak lama berselang, suara kilat tersebut terdengar cukup nyaring yang mana sempat membuat kaca jendela rumah bergetar.


Hana yang tadi sudah tertidur, sekarang sepertinya terbangun. Hana sangat takut sekali dengan petir. Dari kecil, ia selalu menangis jika mendengar suara kilat yang keras dan mengerikan itu. Benar saja, sekarang aku juga mendengar suara tangisan Hana dari bawah.


Jika sudah begini, ibu pasti akan langsung menghampirinya dan memeluk Hana dengan erat hingga Hana tertidur lagi. Aku pun lalu langsung turun ke bawah untuk melihat Hana.


Benar saja, sesampainya di depan kamarnya, aku sudah melihat Hana sedang dipeluk erat oleh ibu. Aku pun lalu kembali ke lantai atas. Kali ini, aku tidak kembali ke balkon, melainkan langsung menuju ke kamar ku.


Aku lalu mematikan lampu kamar ku dan mulai merebahkan diri ku di kasur. Rasanya, hari ini terasa begitu panjang. Aku juga mendapat kenalan baru, yaitu Celine. Aku rasa apa yang dikatakan teman-teman ku memang benar. Celine terlihat begitu cantik. Dia juga terlihat begitu ramah.


Suara air hujan kini mulai terdengar membasahi atap rumah. Suara yang begitu lembut namun turun dengan begitu cepat. Aku pun kini mulai menarik selimut ku karena sudah terasa mulai dingin.


Saat aku mulai memejamkan mata ku untuk bersiap-siap tidur, aku tiba-tiba saja terngiang kembali tentang rupa wajah Celine. Ia tampak sedang tersenyum di dalam gelap pandangan ku. Entah kenapa, rasanya begitu menenangkan.


***


Hari ini, Sabtu 17 September, adalah puncak acara dari rangkaian acara festival ini. Puncaknya akan diselenggarakan pada malam hari nanti, selepas makan malam yang kabarnya juga akan mengadakan api unggun. Aku rasa, hari ini akan terasa sangat menyenangkan.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2