
"Syukurlah kalau begitu," ucap nenek yang kini tengah meletakkan kue kering di atas meja. "Ayo dimakanin," tambahnya.
Aku lalu mengambil satu buah kie kering yang kelihatannya enak itu. Saat aku makan, ternyata teksturnya agak lebih kering dari apa yang aku bayangkan. Meskipun begitu, rasanya masih tetap enak.
"Dulu itu, kakek-nenek pikir kalau ibu mu itu tidak akan pernah menikah loh," ucap kakek yang tiba-tiba membahas soal ibu.
"Eh kenapa bisa begitu kek?" tanya ku yang merasa terkejut dengan pernyataan kakek barusan.
"Soalnya waktu masih muda dulu, tepatnya saat masih remaja ibu mu itu terlihat begitu tomboi. Mainnya saja kebanyakan sama anak laki-laki. Lalu, kalau ada laki-laki yang mencoba mendekati ibu mu, pasti sama ibu mu malah di marah-marahin. Hahaha kalau diingat-ingat lagi ternyata lucu juga," jawab kakek sambil tertawa.
"Eh beneran kek, ibu seperti itu waktu masih muda?" tanya ku yang masih setengah percaya setengah tidak.
"Iya betul. Dulu nenek aja sampai kewalahan menasehati ibu mu untuk bersikap lebih feminim, tapi pada akhirnya ibu mu seperti tidak mengindahkan nasehat nenek," timpal nenek.
"Semua itu berubah semenjak ibu mu kenal dengan bapak mu dulu waktu mulai masuk kuliah. Kalau tidak salah itu mulai semester tiga atau empat itu, kakek agak lupa," tambah kakek.
"Iya semenjak semester itu, ibu mu perlahan-lahan mulai berubah. Iya jadi mulai terlihat lebih feminim. Mulai dari memakai rok, memakai riasan tipis, memakai parfum, merawat diri, dan lain-lain. Awalnya kakek nenek enggak tau apa yang menyebabkan ibu mu bisa berubah seperti itu, tapi pada akhirnya kakek nenek pun tau kalau ibu mu itu ternyata hanya sedang jatuh cinta. Sepertinya itu adalah kali pertamanya dan juga mungkin yang terakhir kalinya ibu mu jatuh cinta," ucap nenek.
"Lalu setelah itu, ibu mu memperkenalkan bapak mu pada kakek nenek. Lalu bapak mu bilang pada saat pertama kali datang ke sini itu bahwa dia sangat bersungguh-sungguh mencintai ibu mu dan akan terus menjaganya. Kami pun langsung memberikan restu pada bapak mu itu sejak pertama kali bertemu itu. Entah bagaimana caranya bapak mu dulu merayu ibu mu. Namun, kakek-nenek benar-benar senang karena ibu pada akhirnya mulai berubah. Satu hal yang pasti, bapak mu itu pasti orang yang sangat pandai merayu atau berkata-kata karena mampu membuat ibu mu yang super tomboi itu menjadi lebih feminim," ujar kakek.
"Wah jadi begitu ya... Aku malah baru tau," timpal ku.
***
Sekitar pukul 12 lebih sedikit, kakek dan nenek lalu mengajak ku untuk makan siang bersama. Banyak sekali hal yang kami bicarakan tadi hingga membuat waktu berjalan begitu cepat. Aku pun sampai tidak sadar kalau ternyata sudah memasuki jam makan siang.
__ADS_1
Kami bertiga lalu langsung menuju ke meja makan. Di atas meja makan telah siap menu masakan yang mana mungkin sudah selesai dimasak oleh nenek sejak tadi pagi. Sudah menjadi hal yang biasa di rumah nenek kalau masak menu makanan yang cukup banyak sehingga bisa bertahan dari pagi sampai malam.
Menu makanan yang sudah tersedia saat ini adalah sayur tahu dan gorengan tempe. Benar-benar combo makanan khas di rumah kakek nenek. Lebih lengkapnya lagi bila ditambah dengan satu gelas teh hangat. Tak ketinggalan juga sambal yang mana rasanya tidak pedas, melainkan lebih ke manis dan asam.
***
Setelah selesai makan siang, aku tiba-tiba saja merasa mengantuk. Aku pun lalu bilang pada kakek nenek untuk meminjam salah satu kamar tidur untuk ku tidur sebentar.
***
Saat aku terbangun, aku melihat keluar jendela kamar dan ternyata matahari sudah mulai turun. Dilihat dari hawa-hawanya, aku rasa ini sudah lebih dari jam 3 sore. Aku pun lalu langsung pergi ke kamar mandi untuk cuci muka.
***
"Sudah sore nih kek, nek, aku pulang dulu yah," ucap ku sambil menjulurkan tangan ku mengajak mereka bersalaman sambil berpamitan sebelum pulang.
"Engga nek, kan besok hari Senin jadi ada sekolah," jawab ku.
"Oh iya, nenek lupa hehehe. Ya sudah hati-hati yah," ucap nenek.
"Iya nek, beres" jawab ku.
Setelah itu, aku pun langsung berjalan keluar dari rumah kakek-nenek dan mulai berjalan menuju ke halte bus yang mana jaraknya sekitar 2 km dari sini.
"Mau kakek antar pake sepeda motor gak?" tanya kakek.
__ADS_1
"Engga usah kek, sekalian sambil jalan-jalan," jawab ku.
***
Sore hari ini langit tampak sudah tak mendung lagi. Sinar matahari yang sudah terasa tidak terlalu panas itu, langsung menerjang menyinari area persawahan yang mana sedang aku lewati di sebelah kanan dan kiri ku ini.
Suara-suara kodok dan serangga khas persawahan pun sudah mulai terdengar. Suara yang entah kenapa terdengar menjadi sebuah orkestra alami dari alam.
Terlihat dari kejauhan ada seorang pria paruh baya yang menggunakan tudung sedang menggiring kawanan bebek yang jumlahnya banyak itu melewati satu sawah ke sawah lainnya. Sepertinya si pria bertudung itu sedang berusaha untuk menggiring bebek-bebeknya untuk kembali pulang.
Pantulan sinar matahari yang terpantul dari air yang menggenangi area persawahan terlihat seperti sebuah lukisan yang mana merefleksikan gambar lingkungan sekitar yang ikut terpantulkan. Aku penasaran jika Ahsan dan Ruben berada di sini, kira-kira apa yang akan mereka katakan tentang itu yah? Entahlah.
Sambil berjalan perlahan, aku lalu melihat ke arah langit yang berada tepat di atas ku. Jika sedang mendongak ke atas begini, rasanya seperti tidak ada penghalang antara aku dan langit. Jarak kami berdua pun terasa begitu dekat.
Karena terlalu asik mendongak ke atas memandangi langit, aku sampai tak sadar kalau aku menginjak genangan air yang berada di depan ku. Sepatu dan celana ku pun seketika menjadi sedikit basah.
"Wah sial," ucap ku dalam hati. Setelah itu, aku pun langsung mengalihkan pandangan ku dari yang semula memandangi langit, menjadi kembali memperhatikan jalan di depan ku.
***
Saat ini sudah pukul 16.25, dan aku sudah berada di halte untuk sekitar beberapa menit. Saat ini hanya aku seorang yang tengah berada di halte menunggu kedatangan bus.
Akhirnya bus yang sudah aku nanti-nantikan datang juga. Aku pun lalu langsung masuk ke dalam bus tersebut. Suasana bus saat pertama kali aku naiki ini terasa lumayan sepi. Terlihat masih lumayan banyak kursi-kursi yang masih kosong. Aku pun bisa leluasa memilih kursi yang ingin aku duduki.
***
__ADS_1
Bersambung.