
Dengan bertambahnya satu lembar pecahan 20 ribu lagi, kini total uang yang ditawarkan anak baru itu pada Ruben adalah 60 ribu.
"Bagaimana sekarang? Apakah 60 ribu bisa membuat mu merelakan tempat duduk mu ini pada ku?" tanya anak baru itu dengan nada yang sombong.
"M-m-ma-mana mungkin aku berubah pikiran hanya dengan uang segitu. Ja-ja-jangan meremehkan ku seperti itu ya," timpal Ruben yang terlihat semakin ragu.
"Heeee, masih keras kepala juga ternyata," kali ini anak baru itu langsung menambahkan 2 lembar pecahan 20 ribuan lagi ke atas meja sehingga total uang yang ada di atas meja menjadi 100 ribu.
Kini, keragu-raguan semakin tampak dari wajah Ruben. Saat ini aku benar-benar tidak tahu apa yang akan ia perbuat. Sementara itu, terlihat seisi kelas masih menonton mereka berdua berebut kursi layaknya seperti sebuah pertunjukkan.
"He he he he he," Ruben tertawa dengan suara yang begitu aneh.
"Hahaha kenapa suara ketawa mu begitu aneh, pasti kau sudah mau goyah yah... Hmmm... Baiklah bagaimana kalau ini," anak baru itu lalu langsung mengambil 2 lembar uang pecahan 100 ribu sehingga sekarang total uang yang ada di atas meja menjadi 300 ribu.
Ruben terlihat begitu tergoda dengan uang yang kapan saja bisa diambilnya itu, akan tetapi dengan catatan ia harus merelakan tempat duduknya kepada si anak baru itu.
"Heee... Kau masih keras kepala juga yah... Ya sudah apa boleh buat... Aku akan kembali mengambil uang ini dan yah... Lebih baik aku duduk di tempat lain saja... Toh juga cuma beda satu langkah doang..." ucap anak baru itu sambil menggerakkan tangannya menuju uang yang sudah tertumpuk di atas meja. Aku tahu ini sebenarnya adalah sebuah pancingan agar Ruben terpancing dan pada akhirnya harus menukarkan tempat duduknya.
"Eitttttss tunggu, baiklah aku mengerti. Jangan buru-buru begitu bos muda hehehe... Uang ini biar aku saja yang ambil dan aku juga enggak keberatan juga sih duduk di sebelah situ. Lagi pula kan cuma beda 1 deretan aja tapi juga sama-sama kursi yang paling belakang..." ucap Ruben sambil dengan gesit mengambil uang sejumlah 300 ribu itu dan langsung menghentikan perdebatan. Ruben lalu langsung duduk di kursi kosong tepat di sebelah kursi yang tadi diperebutkannya itu dengan si anak baru itu.
"Hahahaha sudah ku duga pasti Ruben akan mengambil uang itu," timpal salah seorang penghuni kelas.
"Iyalah siapa juga yang gak tergiur uang sebanyak itu. Apa lagi yang sedang kita bicarakan itu si Ruben, sudah pasti ia akan menerimanya hahaha," timpal yang lainnya.
__ADS_1
Tet tet tet. Tak lama setelah itu suara bel masuk pun berbunyi. Saat ini kami pun langsung menuju ke lapangan upacara untuk melaksanakan upacara bendera.
***
Tet tet tet. Suara bel istirahat pertama akhirnya berbunyi.
Setelah perkenalan tadi, ternyata nama anak baru itu adalah Alex. Ya, namanya sama dengan nama kucing kecil milik ku yang waktu itu aku pungut dari pinggiran taman.
Alex memiliki tubuh yang sedang, tidak gemuk dan juga tidak kurus. Tinggi tubuhnya sekitaran tinggi tubuh ku, yaitu sekitar 170 cm.
Menurut rumor yang beredar tadi, ia adalah anak semata wayang dari pasangan yang sama-sama berkarir. Ayahnya adalah seorang pengusaha dan ibunya adalah seorang pengacara. Menurut rumor yang beredar juga ia sebelumnya dikeluarkan di sekolah yang sebelumnya karena terlalu sering membolos dan juga sering membuat onar. Padahal kita tahu sendiri kalau sekolah SMA ini baru berjalan setengah semester, akan tetapi ia malah sudah dikeluarkan seperti itu.
"Hahahaha kau itu kelihatan payah sekali tadi," ucap Ahsan mengejek Ruben.
"Ya mau bagaiman lagi coba. Bayangkan saja di depan mata mu ada uang 300 ribu yang kau bisa ambil kapan saja kau mau. Mana mungkin aku bisa melepaskan rejeki nomplok seperti itu," timpal Ruben.
"Lalu aku harus bagaimana? Di awal kan dia hanya menawar 20 ribu. Aku kira dia juga tidak akan menawar dengan uang yang sebanyak itu. Harus aku aku sih kalau dia benar-benar kaya," timpal Ruben.
"Harusnya kau bilang saja di awal kalau kau akan menjualnya asalkan harganya pas. Lalu kau bilang saja 1.000.000. Nah kalau dia gak sanggup, kau yang akan memenangkan citra positif. Bahkan dengan cara itu, kau bisa mendapatkan uang yang lebih banyak dari pada yang kau dapatkan sekarang kan? Hahaha dasar payah," ucap Ahsan.
"Ya mana aku tau, aku kan sedang panik tadi. Tapi ada juga loh yang membuat ku senang tadi," ucap Ruben lagi.
"Haa? Apaan emangnya?" tanya Ahsan.
__ADS_1
"Tadi kau gak lihat, Cindy terlihat membela ku di awal? Hmm sepertinya aku sekarang sudah punya kesempatan," ucap Ruben dengan raut wajah yang senang.
"Haha itu cuma kebetulan aja. Lagi pula dari hal itu masih belum bisa disimpulkan kalau Cindy itu ada perasaan kepada mu kan? Hahaha dasar ngimpi banget kau ini," timpal Ahsan.
"Oi Lang, diem-diem aja. Ngomong Napa ngomong," ucap Ruben yang tiba-tiba mengarah kepada ku.
"Eh ngomong? Ngomong apaan? Aku rasa tidak ada yang bisa aku omongkan, jadi aku pikir lebih baik aku diam saja kan?" jawab ku.
"Hahaha sudah ku duga kau akan menjawab begitu. Jawaban yang Galang banget hahaha," timpal Ruben.
"Oi orang cupu yang di sana, tolong belikan aku makanan sama minuman dong," tiba-tiba terdengar suara memerintah dari arah samping kami yang mana suara itu adalah suara anak baru itu.
"Haaaa? Apa maksud mu?" timpal Ahsan.
"Bukan, bukan kau. Yang aku maksud orang cupu yang sedang duduk itu (yang dimaksud Alex dengan orang cupu adalah Ruben)," ucap Alex yang kali ini menunjuk ke arah Ruben.
"Haaaa? Apa maksud mu dengan memanggil ku cupu??? Mau ngajak ribut kauuu?" timpal Ruben yang kelihatan emosi.
Alex lalu terlihat bangkit dari tempat duduknya lalu berdiri lalu langsung mengeluarkan 2 lembar uang pecahan 100 ribuan dan lalu berkata, " Sudah tutup mulut mu dan cepat Carikan aku makanan dan minuman yang paling enak di sekolah ini. Uang kembaliannya buat kau saja."
"Siapp, laksanakan," ucap Ruben yang seketika jadi patuh setelah melihat gelontoran uang 200 ribu tadi.
"Hahahaha payah sekali kau ini. Sikap mu bisa langsung berubah drastis begitu," timpal Ahsan.
__ADS_1
***
Bersambung