Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 170 : Malam Bersama Celine


__ADS_3

Sudah sekitar 40 menit berlalu. Aku dan Celine kini lebih banyak terdiam sambil memandangi langit malam yang terlihat kesepian itu. Minuman yang tadi pesan, kini juga telah habis. Hanya menyisakan bungkusnya saja yang belum sempat kami buang ke tempat sampah itu.


Entah kenapa, semakin lama aku berada di sisinya, semakin aku merasa nyaman dan hangat. Wangi parfum yang terkadang tercium tertiup angin itu, juga terasa begitu damai dan lembut. Meskipun kami tidak jadi menonton, akan tetapi aku menikmati setiap detik yang aku habiskan bersamanya saat ini. Untuk sesaat, aku ingin sekali waktu berhenti untuk sekejap saja. Setidaknya, cukup buat ku untuk melihatnya tersenyum dengan tulus.


"Langit malam ini rasanya sedang kesepian yah?" tiba-tiba Celine kembali berkata setelah lumayan lama kami saling diam.


"Kamu juga berpikir begitu? Wah sama. Aku juga berpikir demikian. Langitnya memang terlihat sedikit kesepian. Mungkin karena bintang yang datang itu tidak terlalu banyak," jawab ku.


"Hihihihi aneh ya..." timpal Celine.


"Aneh? Apanya yang aneh?" tanya ku.


"Kita berdua," jawab Celine yang kini langsung memalingkan tatapannya ke arah ku.


"Kita berdua? Memangnya apa yang aneh?" tanya ku heran.


Celine tidak menjawabnya. Ia hanya tersenyum tipis sebelum memalingkan kembali pandangannya ke arah langit.


"Awalnya, aku kira kamu bakalan marah atau paling tidak kesal soalnya aku lupa membawa tiket pertunjukannya. Aku benar-benar takut kamu sampai marah atau kesal tadi. Makanya, aku udah panik banget kan tadi," ucap Celine saat ia sudah memandang ke arah langit.


"Tentu saja aku tidak akan marah atau pun kesal untuk hal seperti itu. Apa lagi kan itu memang tidak disengaja. Setiap orang bisa melakukan kesalahan dimana pun dan kapan pun. Tentu saja kita harus memakluminya dan mengambil hal tersebut menjadi pembelajaran untuk ke depannya," jawab ku.


"Hihihihi kamu benar-benar berpikiran dewasa yah. Mungkin pola pikir mu itu sudah melebihi pola pikir anak-anak seusia kita. Itulah kenapa aku kagum sama kamu. Bahkan mungkin sejak kita belum berkenalan," ucap Celine yang masih memandang ke arah langit


"Eh mengagumi ku? Bahkan sejak sebelum kita berkenalan? Maksudnya?" tanya ku yang penasaran. Saat ini, detak jantung ku sangatlah cepat. Mendengar pernyataan bahwa Celine mengagumi ku membuat jantung ku berdebar-debar dengan hebat.


"Iya, tepatnya saat aku pertama kali melihat mu sedang latihan sepak bola waktu ekstrakulikuler. Entah kenapa, sejak saat itu aku terus-menerus memikirkan mu. Jika kamu tanya kenapa, aku juga tidak tahu. Yang jelas, aku merasa senang bahwa kita bisa berkenalan dan menjadi teman baik seperti sekarang ini," ucap Celine yang kini terlihat agak tersenyum tipis.


Lagi-lagi perkataannya membuat ku tidak hanya menjadi semakin berdebar-debar, tetapi juga menjadi semakin bahagia.


"Ak... Ak-aku juga senang bisa berteman dengan mu," jawab ku dengan agak terbata-bata.


Celine terlihat hanya tertawa saat mendengar ucapan ku itu. Kali ini, kami berdua kembali saling terdiam.

__ADS_1


***


Tak terasa, jarum jam di tangan ku sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam. Meskipun begitu, saat ini aku merasa bahwa saat ini terasa seperti pagi hari, bukan malam. Tepatnya sebelum matahari terbit.


"Mau pulang jam berapa Lin?" tanya ku sambil mencoba untuk menatap ke arah wajahnya.


"Terserah kamu. Aku ngikut aja," jawab Celine.


"Kalau begitu bagaimana kalau sekarang aja? Lagi pula sekarang juga udah jam setengah 9, udah malam juga," ucap ku.


"Oke. Kalau memang mau pulang sekarang," jawab Celine.


Kami berdua lalu bangkit dari duduk dan mulai berjalan perlahan menuju ke tempat dimana sepeda ku tadi diparkirkan. Tentu saja, sebelum itu kami akan membuang botol/bungkus sisa minuman kami tadi ke tempat sampah.


***


"Kamu kerasa dingin gak Lin?" tanya ku sambil mengayuh sepeda.


"Engga Lang, kenapa emangnya?" tanyanya balik.


"Engga kok," jawab Celine lagi.


Saat ini, kami berdua sedang dalam perjalan pulang. Mungkin sekitar 1,5 km lagi kami akan sampai di rumah Celine.


Saat aku sedang fokus mengayuh sepeda ku, tiba-tiba saja pedal ku terasa berat dan ban belakang terasa seperti tidak beres. Aku lalu menghentikan laju sepeda dan lalu langsung memeriksa ban belakang.


Saat aku memeriksanya, ternyata ban sepeda ku bocor. Sungguh nasib yang kurang beruntung.


"Wah ban belakangnya bocor nih Lin," ucap ku.


"Wah iya Lang. Terus gimana sekarang?" tanya Celine.


"Gimana yah? Kalau cari bengkel sepeda pasti udah pada tutup semua nih. Bagaimana kalau kita tuntun aja sampai ke rumah mu? Kayaknya tinggal 1kiloan lebih, gimana?" tanya ku.

__ADS_1


"Kalau memang sudah tidak ada bengkel yang buka, ya mau gimana lagi yah hehehe. Ya sudah ayo kita jalan aja," ucap Celine.


Aku sedikit terkejut Celine tidak terlihat cemas atau panik. Entah kenapa, ia justru terlihat menikmati perjalanan kami ini, bahkan dengan berjalan kaki sekali pun.


***


Akhirnya setelah sekitar 20 menitan lebih kami berjalan, kami sampai juga di rumah Celine. Meskipun ini berarti kedatangan ku yang kedua ke rumahnya, akan tetapi aku masih saja terpukau dengan kemegahan rumahnya Celine ini.


"Makasih ya Lang... Maaf gara-gara keteledoran ku, kita jadi ga bisa nonton dramanya. Padahal, alasan utama kita pergi adalah untuk menonton drama. Sekali lagi aku minta maaf yah..." ucap Celine.


"Sama-sama Lin. Gak papa kok. Aku gak merasa kamu salah atau semacamnya. Aku juga mengucapkan terima kasih karena sudah mengajak ku untuk nonton drama bersama," jawab ku.


"Oiya ngomong-ngomong kamu gak papa menuntun sepeda mu seperti itu sampai ke rumah mu? Kan jarak rumah mu dari sini lumayan jauh looo," ucap Celine.


"Gak papa kok. Aku juga udah biasa jalan kaki. Lagi pula, sebenarnya aku lebih suka jalan kaki dari pada bersepeda," jawab ku.


"Ehh? Begitu yah? Hehehe," ucap Celine yang agak terkejut.


"Kalau begitu aku pamit dulu yah... Sampai jumpa..." ucap ku yang lalu mulai berjalan perlahan meninggalkan rumah Celine.


"Iya.. Hati-hati..." ucap Celine sambil melambai-lambaikan tangannya.


***


Sesampainya di rumah, aku langsung memasukan sepeda ku ke dalam garasi. Sepertinya besok aku harus segera memperbaikinya ke bengkel supaya sudah siap sedia jika sewaktu-waktu aku membutuhkan sepeda.


"Aku pulang," ucap ku ketika memasuki ruang tamu.


"Oh akhirnya kamu pulang. Habis dari mana Lang?" tanya ibu yang kebetulan sedang duduk di ruang tamu sambil membaca buku. Jarang sekali aku melihat ibu sedang membaca buku seperti sekarang ini.


"Habis dari Taman Panggung bu," jawab ku yang lalu duduk di sebelah ibu.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2