
Sabtu 3 September, aku berencana untuk pergi menemui Cindy di toko milik neneknya untuk mengembalikan buku yang tempo hari aku pinjam. Aku pun sudah mengirimi Cindy pesan sebelumnya untuk menanyakan apakah ia berada di toko pada hari Sabtu atau tidak. Ia lalu menjawab bahwa ia akan berada di toko seharian membantu neneknya.
Pagi ini, sekitar pukul 9, aku pergi meninggalkan rumah ku untuk segera menuju ke toko buku untuk bertemu Cindy. Cuaca hari ini sedikit mendung, tapi aku tidak tahu apakah akan turun hujan atau tidak. Ramalan cuaca mengatakan bahwa kemungkinan hari ini akan turun hujan adalah sekitar 20% saja.
Aku mengenakan hoodie hitam yang biasa aku gunakan untuk bepergian dan dipadukan dengan celana jeans hitam panjang. Tak ketinggalan sneakers yang juga bewarna hitam dengan tali bewarna putih. Entah kenapa aku sangat suka sekali warna hitam.
Meskipun agak mendung, akan tetapi suasana jalanan pagi ini cukup ramai. Banyak sekali orang yang sedang lalu lalang saat ini.
Akhirnya, aku sampai di toko buku. Aku lalu langsung masuk ke dalam toko untuk segera menemui Cindy. Tak butuh waktu lama, segera setalah aku membuka pintu dan masuk ke dalam toko, aku langsung bisa melihat Cindy yang terlihat sedang merapikan kembali buku-buku yang tadi sudah berubah posisi karena telah diambil oleh pelanggan tapi tidak jadi dibeli.
Aku lalu langsung menghampirinya dan memberikan buku yang tempo hari aku pinjam, "Makasih ya Cin."
"Eh Galang, sudah selesai bacanya?" Cindy berbalik ke arah ku.
"Iya sudah, bukunya keren. Aku seperti berkelana di masa lalu ketika membaca buku itu," jawab ku.
"Aku juga merasa seperti itu, mau minum teh dulu?" tanya Cindy.
"Engga, engga usah repot-repot Cin. Lagu pula aku juga hanya sebentar saja kok," jawab ku.
Di saat aku dan Cindy mengobrol, ada satu pelanggan lagi yang masuk ke dalam toko. Ketika aku berbalik untuk melihat pelanggan yang baru masuk tersebut, aku sempat terkejut, ternyata pelanggan yang baru datang tersebut adalah Risal.
Untuk sesaat aku kembali jadi kepikiran tentang lomba puisi besok. Risal masih belum menjawab ku dengan jelas apakah dia mau ikut atau tidak. Sejujurnya, aku selalu terpikirkan akan hal itu, tapi Ruben selalu menyuruh ku untuk tidak terlalu memikirkannya karena menurutnya Risal pasti akan mau untuk mengikuti lomba puisi tersebut.
Risal yang baru datang itu, kini terlihat langsung berjalan menuju rak yang berisi komik-komik Jepang. Ia pun terlihat mulai melihat-lihat komik yang akan dibelinya.
Aku dan Cindy lalu datang menghampiri Risal yang terlihat begitu fokus memeriksa komik yang akan dibelinya.
"Eh Risal," ucap Cindy.
__ADS_1
Risal lalu menengok ke arah belakang, "Eh kalian, halo," jawab nya dengan datar.
"Kau sudah sering berkunjung ke sini Sal?" kali ini giliran aku yang bersuara.
"Engga, kebetulan saja aku lagi lewat sekitar sini. Karena ingat ada komik yang ingin aku beli, aku jadi mampir ke toko ini," jawab nya.
"Oh gitu, oiya ngomong-ngomong kau jadinya mau ikut lomba puisi atau engga?" tanya ku.
"Yang waktu itu kau bilang pada ku ya?" jawabnya.
"Iya, yang waktu itu," ucap ku.
"Aku sudah bilang pada Ayu kalau aku mau ikut lomba puisi itu kemaren kok. Memangnya Ayu engga bilang?" jawab Risal yang ternyata sudah menyetujui dan bersedia mengikuti lomba puisi itu.
"Eh sudah konfirmasi? Maaf, aku kira kau masih belum memutuskannya. Wah makasih banyak Sal sudah mau ikut lomba puisi itu," ucap ku yang merasa terkejut karena Risal ternyata sudah konfirmasi ke Ayu.
"Terima kasih? Untuk apa? Aku kan belum melakukan apa-apa," ucap nya.
"Terserah kau saja lah," Risal kembali melihat ke arah komik-komik yang sedang ia pilih itu.
"Oiya, ngomong-ngomong kau sudah tau kalau pemilik dari toko buku ini itu adalah neneknya Cindy?" tanya ku.
"Eh benarkah? Aku baru tau kalau itu. Wah asik sekali ya kalau jadi kamu Cin. Bisa membaca berbagai macam hal dengan mudah," ucap Risal.
"Engga juga si, kan buku-buku ini dijual jadi aku tidak bisa dengan sesuka hati membuka segel bukunya dan membacanya begitu saja. Lagi pula aku juga baru pindah kok ke sini beberapa waktu yang lalu," ujar Cindy.
"Benar juga ya," ucap Risal yang terlihat masih sibuk memilih-milih komik.
"Oiya Sal, kamu kok kemaren enggakk ikut rapat kelas. Kalau boleh tau, kenapa kamu gak ikut?" tanya Cindy penasaran.
__ADS_1
"Gak papa, aku hanya sibuk, jadi tidak bisa ikut rapat itu. Maaf yah kalau itu mengganggu kalian," ucap Risal.
"Engga, engga kok. Kalau memang sedang sibuk memang lebih baik tidak ikut rapat," jawab Cindy.
Kini Risal terlihat sudah memutuskan untuk membeli komik yang mana. Ia terlihat telah mengambil dua buah komik dengan judul yang berbeda lalu langsung berjalan menuju ke arah kasir. Setelah ia selesai membayar, ia langsung pergi meninggalkan toko buku ini tanpa mengatakan sepatah kata pun pada ku dan Cindy.
"Risal orangnya pendiam yah... Dia juga misterius," ucap Cindy sesaat setelah Risal pergi.
"Ya begitulah, tapi aku rasa ia mempunya alasan tertentu kenapa ia cenderung pendiam dan tertutup seperti itu," ucap ku.
"Alasan tertentu? Contohnya?" tanya Cindy.
"Entahlah, aku juga masih belum tahu," jawab ku, "Ya sudah ya Cin. Aku juga mau pamit dulu."
"Eh sudah mau pulang?" tanya Cindy.
"Iya, hehe," aku sedikit tersenyum kali ini.
"Hmmm ya sudah deh. Sampai jumpa lagi Lang," ucap Cindy.
"Ya," aku lalu langsung pergi menuju pintu keluar.
Setelah keluar dari dalam toko, aku tidak langsung kembali ke rumah. Entah kenapa aku jadi ingin berjalan keliling sebentar. Selain itu aku merasa lega karena pada akhirnya Risal mau ikut lomba puisi itu. Aku tak menyangka ternyata apa yang dikatakan Ruben benar bahwa Risal pasti akan ikut lomba puisi tersebut.
Dari toko buku ini, aku lalu langsung berjalan ke arah timur. Aku berjalan seperti sedang mengikuti arah laju angin. Terkadang aku akan berbelok dengan segera jika ada angin yang menerpa ku. Aku tau hal ini sedikit kekanak-kanakan, tetapi aku sangat menikmati melakukan hal tersebut.
Aku lalu melihat ke arah langit. Langit yang tadi pagi sudah agak mendung, kini sudah semakin mendung lagi. Jika terus seperti ini, aku rasa akan turun hujan. Entahlah.
Aku terus berjalan dan berjalan mengikuti arah terpaan angin. Terkadang berbelok ke kiri, terkadang belok ke kanan, terkadang aku mengambil jalan lurus. Aku menikmati setiap langkah yang aku lakukan saat ini.
__ADS_1
***
Bersambung