Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 145 : Puisi Yang Tak Dikumpulkan


__ADS_3

"Takdir dan keberuntungan kata mu? Menurut mu takdir mu akan ditimpa keberuntungan sesuai keinginan mu begitu? Jika di dunia ini ada banyak keberuntungan, nasib buruk juga sama banyaknya," timpal Ruben.


"Jadi maksud mu kalau aku pasti akan mendapatkan nasib buruk di UTS nanti begitu?" tanya Ruben.


"Aku tidak bermaksud mengatakannya, hanya saja memang begitu kan? Coba kau ceritakan pada ku, kapan kau mendapatkan sebuah nilai yang paling tidak lulus KKM? Ada gak?" tanya Ahsan.


"Mmmm ada gak yah? Aku juga lupa hahaha," Ruben malah tertawa.


"Tentu saja tidak adaaa... Jangan pura-pura lupa begitu," timpal Ahsan.


Tak berselang lama, bel tanda berakhirnya istirahat pertama pun berbunyi. Siswa-siswa yang tadi saat istirahat sibuk belajar, kini sudah mulai mempersiapkan buku untuk mata pelajaran selanjutnya.


***


...Perasaan...


Awan pagi ini terlihat membumbung begitu tinggi


Menembus cakrawala tak terbatas


Garis yang memisahkan antara terang dan gelap,


Siang dan malam,


Khayalan dan kenyataan,


Semakin hari, semakin terlihat samar dan tak berbekas


Aku tidak tahu apakah ada yang mendengar ku atau tidak,


Di saat aku berteriak minta tolong,


Di saat aku berteriak tolong aku,


Di saat aku berteriak terima kasih,


Atau di saat aku berteriak aku mencintaimu,


Suara tangisan yang terdengar begitu memekikkan telinga,

__ADS_1


Suara jeritan itu, menyampaikan pesan yang entah bermakna atau tidak, tapi begitu jelas


Suara yang keras, namun terdengar begitu kesepian,


Suara yang begitu nyaring, namun terasa begitu sunyi,


Aku tidak tahu, itu kenyataan atau hanya sebuah khayalan


Yang aku tahu, suara tangisan itu tak lain dan tak bukan adalah suara tangisan ku sendiri


Suara yang aku pendam sekitar 1 windu itu,


Kini telah keluar dan tak bisa aku kendalikan lagi.


Itu lah puisi yang Risal buat yang sejatinya untuk mengikuti lomba puisi di festival sekolah 2 minggu yang lalu. Namun, entah karena sebab apa, Risal ternyata tidak menyerahkan naskahnya. Dan entah kenapa, ia sendiri yang memasang puisinya tersebut di papan Mading (majalah dinding) kelas.


"Oi Lang mau berapa kali kau baca puisi milik Risal itu?" tanya Ruben yang kini sudah berada di samping ku.


"Aku sangat suka puisi milik Risal ini. Setiap kali aku membacanya, rasanya terasa semakin dalam dan semakin dalam lagi. Sayang sekali Risal tidak menyerahkan naskah ini kepada panitia," ucap ku.


"Mau bagaimana lagi, tapi yang terpenting kan bukan penghargaan yang diterimanya atau pengakuan dari orang lain, yang terpenting adalah perasaan Risal bisa tersampaikan pada seluruh isi kelas," ucap Ruben.


"Iya sih, mungkin yang sebenarnya Risal ingin katakan adalah hal itu yah. Dia sebenarnya tidak butuh penghargaan, yang ia butuhkan hanyalah seorang teman yang bisa menemaninya di saat ia sedang merasa sepi," ucap ku.


***


Sepulang sekolah, aku berencana untuk mampir ke toko buku milik nenek Maria, neneknya Cindy. Selain aku memang sedang ingin membeli sebuah buku baru, aku juga ingin memperbaiki hubungan ku dengan Cindy yang sudah tidak pernah lagi saling bicara atau hanya sekedar bertegur sapa sejak hari itu.


Aku tidak langsung menuju ke toko buku, melainkan aku menunggu terlebih dahulu hingga semua anak sudah pulang. Sebenarnya tidak usah sampai menunggu semuanya pulang, melainkan hanya menunggu Cindy pulang terlebih dahulu. Dengan begitu, Cindy seharusnya sudah akan berada di toko buku ketika aku datang nanti.


"Oi Lang, pulang yuk," ucap Ruben sambil menepuk pundak ku.


"Kau duluan saja, aku ada urusan sebentar," ucap ku.


"Ha urusan? Kenapa kau terdengar seperti bapak, ibu guru yang sedang mempunyai urusan, memangnya apa urusan mu itu?" tanya Ruben.


"Tentu saja urusan milik Galang bukanlah urusan mu," timpal Ahsan.


"Haaa lagi-lagi kau yah," gumam Ruben.

__ADS_1


"Sudahlah, kan Galang sudah bilang ada urusan, ayo kita duluan saja," ucap Ahsan.


"Hmmm yaudah deh, kita duluan ya Lang," ucap Ruben yang lalu langsung pergi meninggalkan kelas.


***


Setelah Cindy terlihat telah meninggalkan kelas, aku pun masih akan menunggu beberapa menit lagi hingga kira-kira Cindy telah sampai di toko buku milik neneknya itu.


Setelah beberapa menit, dan telah yakin bahwa Cindy sudah sampai di toko buku, aku pun kini langsung bergegas menuju ke toko buku. Kali ini, aku berjalan dengan hati yang berdegup kencang.


Sebenarnya aku masih belum mengetahui apa salah ku sehingga Cindy memperlakukan ku seperti itu. Namun, setidaknya aku sudah tahu apa yang harus aku katakan ketika nanti bertemu dengannya. Aku pikir, aku hanya perlu untuk meminta maaf saja.


Sesampainya di toko buku, aku sedikit terkejut. Ternyata setelah beberapa waktu tidak berkunjung, saat ini sudah ada seorang karyawan yang bekerja di toko buku tersebut. Seorang laki-laki yang masih cukup muda dan entah kenapa wajahnya begitu familiar. Rasanya seperti aku sudah pernah bertemu dengannya, tapi aku lupa dimana.


"Selamat datang," ucap karyawan laki-laki itu dengan ramah.


Aku lalu hanya tersenyum menanggapi sambutan karyawan baru itu dan langsung mulai berkeliling toko buku. Kembali ke tujuan awal, yaitu untuk bertemu dengan Cindy dan juga meminta maaf jika aku mempunyai salah. Namun, sayang sekali, setelah aku berkeliling toko, aku tidak menemukannya. Apa Cindy sudah tidak tinggal di sini yah? Atau mungkin, dia sudah tahu kalau aku mau datang ke sini dan memilih untuk tidak menampakkan dirinya? Entahlah.


Pada akhirnya, aku memutuskan untuk bertanya pada karyawan itu terlebih dahulu seputar Cindy. Jika karyawan itu tidak tahu, baru aku akan bertanya pada neneknya.


"Misi mas, mau tanya. Mas pernah lihat cucunya nenek Maria gak yang seumuran dengan ku?" tanya ku.


"Iya tau dek, memangnya ada apa?" tanya karyawan itu.


"Ada sesuatu hal yang ingin aku sampaikan ke cucunya nenek Maria. Tadi dia sudah pulang atau belum yah mas?" tanya ku lagi.


"Sepertinya belum deh, saya belum lihat soalnya," jawab nya.


"Oh begitu ya," jawab ku yang agak kecewa.


"Kayaknya saya pernah ketemu sama kamu deh dek, tapi dimana yah?" ucap karyawan itu.


"Eh mas juga ngerasa gitu yah? Aku juga begitu. Tadi pas pertama ngeliat, aku langsung ngerasa sangat familiar dan juga rasanya seperti sudah pernah bertemu, tapi entah dimana," jawab ku.


"Bentar-bentar... Kalau mendengar gaya bicara yang sangat kaku seperti itu, saya jadi ingat..." si karyawan lalu langsung memberikan jarinya hingga terdengar cukup keras, "nahh... Saya ingat sekarang... Adek ini yang waktu itu datang ke kolam renang kan sama adeknya?" tanya karyawan itu.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2