
*********************************************
JIKA KEBOSANAN BISA DIJUAL, AKU PASTI BISA MENDAPATKAN UANG
-Sakamaki Izayoi-
*********************************************
"Wahhh kakak kok tau sihhhh," ucap Hana sedikit cemberut. Sepertinya Hana berekspektasi bahwa aku tidak akan bisa menjawab tebak-tebakkannya barusan itu.
"Hehehe tentu saja kakak tahu. Tebak-tebakkan semacam itu, kakak juga sudah sangat sering mendengarnya ketika kakak masih kecil dulu hehehe," jawab ku.
"Uuuuu sebel..." ucap Hana.
"Sekarang giliran kakak yah... Negara mana yang jumlah penduduknya cuma dua?" tanya ku.
"Haaaa? Emang ada negara yang penghuninya cuma dua?" tanya Hana.
"Ada dongg hehehe... Coba tebak dulu," ucap ku.
"Apayah? Mmmm..." Hana terlihat berpikir dengan sangat keras.
"Hana nyerah dehhh... Otak Hana belum nyampe," gumam Hana.
"Wah beneran nih udah nyerah? Padahal gampang loh..." ucap ku.
"Iya kak yakinnn... Hana udah nyerah... Jadi, jawabannya apa?" tanya Hana.
"Negara yang penghuninya cuma dua itu adalah Italia," jawab ku.
"Haa Italia? Masa Italia penduduknya cuma dua?" jawab Hana.
"Iya kan namanya aja Italia, Ita sama Lia hehehe," jelas ku.
"Ihhhhh curang..." timpal Hana.
***
Tak lama berselang, makanan kami pun datang. Saat pertama kali datang ini, masakan lelenya masih terlihat sedikit mengeluarkan asap tanda bahwa lelenya baru saja matang. Ditambah lagi, nasinya yang juga masih terlihat mengeluarkan asap itu.
__ADS_1
"Kamu bisa makan pake tangan Hana?" tanya ku.
"Mmm enggak kak," jawabnya sambil menggelengkan kepala.
"Maaf mba, bisa minta sendoknya?" pinta ku pada pelayan yang mengantarkan makanan pesanan kami.
"Oh iya bisa. Berapa?" tanya mba-mba pelayan itu.
"2 mbak, buat saya sama adik saya," jawab ku.
"Baik, mohon tunggu sebentar yah," pelayan itu lalu pergi dan segera kembali lagi mengantarkan sendok.
***
Kini, aku dan Hana telah selesai menyantap makan siang kami. Kami saat ini sedang beristirahat sejenak agar makanan kami turun terlebih dahulu.
"Wah rasanya tadi enak banget ya kak? Lelenya empuk sama dagingnya juga banyak. Biasanya kalau Hana beli lele kan masih kecil-kecil, kalau ini tadi udah besar. Jadi puas makannya," ucap Hana.
"Iya yah. Kakak juga merasa begitu hehehe," jawab ku.
"Habis ini kakak mau ke toko apa langsung pulang kak?" tanya Hana.
"Oh begitu... Oke dehhh," jawab Hana.
***
Sore hari di balkon lantai dua rumah ku, aku sedang duduk sambil minum secangkir cokelat panas setelah beberapa jam tadi belajar. Rasanya, nikmat sekali setelah lelah belajar, lalu langsung bersantai sambil menikmati suasana sore hari ini yang begitu damai.
Langitnya cerah, tidak mendung. Jalanan entah kenapa saat ini sedang tidak begitu ramai. Hal itu semakin menambah rasa nyaman di istirahat sore kali ini. Sambil mendengarkan lagu-lagu dari Green Day yang mana semakin membuat ku menikmati suasana sore hari ini.
***
Akhirnya, hari UTS pun tiba. Hari ini, Senin 1 Oktober kami akan melaksanakan UTS yang pertama. Ini akan menjadi pengalaman ku yang pertama menghadapi ujian di tingkat SMA.
Jadwal hari pertama UTS ini adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Sejarah. Aku saat ini sudah cukup yakin dalam menghadapi ketiga mata pelajaran tersebut. Aku sudah menghabiskan cukup banyak waktu untuk membaca materi-materi yang telah diberikan sebelumnya. Oleh karena itu, aku pun cukup percaya diri bahwa setidaknya nilai ku nanti tidak akan berada di bawah KKM. Aku cukup yakin dengan hal itu.
Saat ini, aku sudah berada di lingkungan sekolah. Saat ini aku sedang berjalan menuju ruang kelas tempat dimana aku akan mengerjakan ujian yaitu ruang kelas 12 IPS 3.
Di saat aku baru sampai di sekitaran ruang kelas 12 IPS 3, aku melihat Ruben tengah bersantai duduk sambil mengamati teman-teman yang lain membaca buku. Aku penasaran apakah Ruben benar-benar tidak belajar sama sekali seperti apa yang telah ia katakan? Entahlah. Aku sebenarnya juga cukup terkejut karena Ruben sudah berangkat. Biasanya dia akan berangkat paling akhir di antara kami semua.
__ADS_1
Saat aku berjalan mendekat, aku mendengar ternyata Ruben sedang bernyanyi.
"Aku bertanya pada manusia tak ada jawabnyaaaa, aku bertanya pada langit cumaa langit tak mendengarrrr," senandungnya dengan suara sumbang dimana-mana yang membuat orang-orang di sekitarnya tertawa.
Ruben tampak tak mempedulikan akan hal itu, ia masih saja terus bernyanyi lagi dan lagi. Bahkan selanjutnya, ia berani menyanyikan lagu yang lebih tinggi lagi dari pada ini. Tentu saja hasilnya sudah bisa dibayangkan. Suaranya, tak ada satupun yang tepat, yang mana lagi-lagi membuat orang-orang disekitarnya termasuk aku tertawa.
Tak Lama berselang, kini Ahsan baru terlihat berangkat. Lumayan jarang Ahsan berangkat di jam-jam seperti ini, biasanya ia akan berangkat lebih awal.
"Oi lihatlah sang peringkat terakhir baru saja berangkat hahahaha," ejekan Ruben menyambut kedatangan Ahsan yang mukanya masih mengantuk. Ahsan pun terlihat tak terlalu menanggapi ejekan Ruben saat ini.
"Ya ampun lihat muka kau San, masih ngantuk begitu... Jangan bilang kau habis begadang nonton bola?" tanya Ruben.
"Haa? Memangnya kenapa kalau aku semalam memang begadang buat nonton bola? Masalah buat Lo?" ucap Ahsan sinis.
"Pfttttt... Hahahahaha... Hahhaaaaha," Ruben tertawa semakin keras kali ini mendengar jawaban dari Ahsan barusan.
"Haa? Kau kenapa tertawa mengerikan seperti itu? Kau sudah gila yah?" ucap Ahsan dengan wajah yang benar-benar masih mengantuk. Bahkan sejujurnya saat ini aku bisa saja tertawa terbahak-bahak walau hanya melihat wajah Ahsan sekarang. Namun , aku masih bisa menahannya untuk tidak tertawa.
"Yang gila itu kau, begadang di hari UTS. Aku tau kau sudah mengetahui hasilnya bahwa nilai mu pasti rendah, tapi tidak seperti itu juga dong hahahaha," ucap Ruben lagi.
"Berisik kauuu," timpal Ahsan
"Memangnya kau begadang sampai jam berapa?" tanya Ruben lagi.
"Aku begadang sampai jam 3," jawab Ahsan.
"Jam 3???? Pantas saja muka mu tampak masih begitu menyedihkan begitu. Memangnya kau tidak ditegur oleh orang tua mu?" tanya Ruben lagi.
"Ayah ku kan dulu juga sempat SMA kan? Jadi dia sudah tahu bagaimana situasi ujian di SMA. Ayah ku bilang pada ku bahwa tidak masalah nilai mu sangat jelek, asalkan nilai mu masih lebih baik dari orang paling bodoh di kelas mu. Begitu kata ayah ku. Ya udah aku pun sekarang demikian, gak papa nilai ku jelek asalkan nilai ku masih lebih baik dari pada kau," jawab Ahsan.
"Asalkan masih lebih baik dari pada ku? Itu berarti... KAU MENGANGGAP KU SEBAGAI SISWA TERBODOH ITU YAH?" ucap Ruben kesal.
"Haaa? Kenapa kau merasa begitu?" timpal Ahsan balik.
"Sudah jelas-jelas dari kalimat mu tadi," jawab Ruben kesal.
***
Bersambung
__ADS_1