
"Gak papa bu, sama Ruben ga perlu ada sopan santun," timpal Ahsan.
Seperti yang sudah aku duga, wanita yang sudah agak beruban itu adalah ibu dari Ahsan.
"Maaf ya nak Ruben, oiya yang satu lagi namanya siapa yah? Baru pertama kali ke sini yah?" tanya ibunda Ahsan.
"Oh maaf lupa memperkenalkan diri. Nama saya Galang tante," ucap ku sambil sedikit tersenyum.
"Ohh nak Galang to... Berarti nak Galang ini teman baru di SMA ya?" tanya ibunda Ahsan lagi.
"I-iya tante," jawab ku.
"Wah nak Galang ini kelihatannya sopan sekali yah orangnya. Beda sama Ahsan. Sedikit-sedikit sekalian ajari Ahsan supaya jadi anak yang sedikit sopan yah nak Galang," ucap ibunda Ahsan yang langsung disambut gelak tawa Ruben.
"Hahaha dengerin tuh San, kau di suruh untuk meniru sifat sopan santun milik Galang," timpal Ruben.
"Memangnya siapa kau? Kau sendiri juga tidak memiliki sopan santun sama sekali. Lebih baik kau juga meniru sikap sopan santun milik Galang itu," ucap Ahsan.
"Sudah sudah, kenapa malah kalian jadi berantem... Ya sudah, tante tinggal dulu ya... Silahkan diminum tehnya," ucap ibunda Ahsan yang lalu langsung menuju ke arah belakang.
"Jadi, ada apa nich kalian datang kemari?" tanya Ahsan lagi.
"Gak ada apa-apa. Cuma pingin ke sini aja. Hahaha," Ruben tertawa dengan cukup keras.
"Hmmm kau ini. Kalau tidak ada urusan penting, lebih baik kau gak usah ke sini. Mengganggu waktu tidur ku saja," timpal Ahsan.
"Hahaha justru itu yang aku incar," ucap Ruben.
"Sialan. Oiya, tunggu sebentar ya. Aku jadi ingat, untung kalian datang," ucap Ahsan yang kini sudah bangkit dari posisi duduknya.
"Oi kau mau kemana? Ada tamu loh ini kau malah mau pergi," ucap Ruben.
"Siapa juga yang mau pergi. Lagi pula seonggok manusia seperti mu bahkan tidak pantas untuk dikatakan tamu. Kamu itu lebih tepat dipanggil pengganggu hahaha," ucap Ahsan.
"Oi oi oi, mana sopan santun yang tadi diharapkan sama ibu mu? Kau buang kemana harapan itu?" tanya Ruben.
"Kalau sama kau, gak diperlukan yang namanya sopan santun. Ya sudah tunggu sebentar ya," timpal Ahsan yang kini kembali melanjutkan langkahnya.
"Oi kau mau kemana?" ucap Ruben yang membuat langkah Ahsan kembali terhenti.
"Sudah ku bilang kan aku tidak akan ke mana-mana. Aku cuman mau memberi pakan buat ikan peliharaan ku," timpal Ahsan.
"Wah kau ternyata punya hewan peliharaan juga yah? Aku ikut dong. Ngomong-ngomong ikan apa yang kau pelihara?" tanya Ruben yang kini bangkit dan menghampiri Ahsan.
"Nanti kau juga akan lihat sendiri. Kau mau ikut sekalian gak Lang?" tanya Ahsan.
__ADS_1
"Oh iya boleh," jawab ku yang lalu ikut bangkit dan langsung berjalan di belakang Ahsan dan Ruben yang sudah terlebih dahulu berjalan.
Ahsan berjalan dengan perlahan. Pertama ia mengambil pakan ikannya yang berupa pelet itu di sebuah rak, lalu ia langsung menuju ke halaman belakang rumah.
Pyurr, pyurr, pyur. Ahsan mulai menabur pelet ikan itu ke permukaan kolam. Dalam sekejap ikan-ikan yang tadinya tidak terlihat, kini langsung muncul ke permukaan untuk melahap pakan yang diberikan oleh Ahsan tersebut.
"Ohhh ternyata ikan lele yah," ucap Ruben sambil memegangi tepian kolam ikan yang mungkin berukuran sekitar 3 x 3 meter itu.
"Iya lach, masa ikan ******," timpal Ahsan sinis.
"Ngomong-ngomong kau pelihara berapa ikan nih San?" tanya Ruben.
"Dulu aku beli sekitar 1000 bibit," jawab Ahsan.
"Wah banyak banget tuh, sekarang kira-kira tinggal berapa?" tanya Ruben lagi.
"Mungkin gak sampe 100. Hahahaha," Ahsan tertawa.
"Haaa? Kok tinggal dikit?" tanya Ruben.
"Iya soalnya waktu masih kecil-kecil itu banyak yang mati," timpal Ahsan.
"Wah sayang banget yah," timpal Ruben.
"Gak papa, buat pembelajaran," timpal Ahsan.
"Oiya ngomong-ngomong baju kalian agak basah, tadi emangnya habis hujan?" tanya Ahsan.
"Haaa kau tak tahu? Iyalah tadi hujan. Ya walaupun cuma gerimis kecil sih," jawab Ruben.
"Ya mana aku tahu, aku kan baru bangun tidur hahaha," timpal Ahsan.
"Hmmm... Sekarang enaknya ngapain nich?" tanya Ruben.
"Mau apa? Main game?" tanya Ahsan.
"Bosen deh kalau main game. Bagaimana kalau main kartu aja. Kau ada kartu gak?" tanya Ruben.
"Kartu Remi? Tentu saja adalah. Tunggu ya aku ambilkan," jawab Ahsan.
***
Plak. Suara kartu Remi yang Ahsan lempar itu tepat jatuh di atas meja.
"Mau main apa nih?" tanya Ruben sambil mengambil kartu Remi tadi.
__ADS_1
"Main apa yah... Hmmm... Kau bisa main kartu kan Lang?" tanya Ahsan.
"Bisa-bisa," jawab ku.
"Lalu permainan apa saja yang kau bisa?" tanya Ahsan lagi.
"Poker bisa," jawab ku.
"Wah boleh tuh. Ya udah kita main Poker aja. Yang kalah duduknya jongkok ya. Baru boleh duduk kalau menang," tantang Ahsan.
"Boleh siapa takut," jawab Ruben dengan tanpa ragu.
"Bagaimana Lang? Berani?" tanya Ahsan lagi.
"Boleh," jawab ku.
Kamu pun lalu pindah tempat. Saat ini kami bukan lagi duduk di sofa, melainkan lesehan di atas sebuah karpet yang terletak di ruang tengah.
***
"King sekop," ucap Ahsan sambil menghentakkan dengan keras kartu yang ia lempar melawan Ruben itu.
"Lanjut," ucap Ruben yang tidak bisa melawan kartu milik Ahsan tersebut.
"Yahhhhhhh hahahaha," Ahsan langsung berteriak kegirangan setelah berhasil mengeluarkan kartunya yang terkahir yang mana berarti di permainan yang pertama ini Ruben lah yang kalah. Itu berarti Ahsan harus menerima hukuman yaitu harus jongkok untuk permainan selanjutnya sampai ia bisa menang.
Sementara itu aku tadi berhasil menjadi pemenang yang pertama. Entah kenapa di permainan yang pertama tadi aku sangat beruntung. Aku mendapatkan 3 buah poker sekaligus yang mana itu sangat membantu ku untuk memenangkan permainan tadi.
***
Sudah lima kali permainan dan sudah lima kali juga Ruben kalah. Itu berarti selama lima permainan ini cuma Ruben yang jongkok sementara aku dan Ahsan masih tetap dalam posisi duduk.
"Udah dulu udah. Pegel banget nich," ucap Ruben yang terlihat sudah menyerah itu.
"Haaa? Apa-apaan tuch? Baru juga 5 permainan masa udahan? Hahaha," ledek Ahsan.
"Kalian kan enak duduk, lah aku jongkok," gumam Ruben.
"Ya kan kau jongkok juga bukan salah kita. Kau aja yang cupu mainnya jadi kalah terus," timpal Ahsan.
"Gimana gak kalah? Kartu yang selalu aku dapat selalu jelek-jelek. Mana bisa aku menang dengan kartu jelek seperti itu," gumam Ruben lagi.
"Hahaha kau kan juga yang membagi kartunya kan?" timpal Ahsan lagi.
"Sialll," gerutu Ruben lagi.
__ADS_1
***
Bersambung