
Akhirnya kini aku dan Ruben telah sampai di depan toko tempat Risal bekerja. Kami pun lalu langsung masuk ke dalam toko segera setelah memarkirkan sepeda.
Kami melihat ke arah kasir, posisi dimana Risal bekerja. Sepertinya sore ini Risal tampak cukup sibuk. Pembeli terlihat mengantre cukup panjang untuk membayar.
Kami memutuskan untuk menunggu hingga pengunjung toko lebih sepi dan Risal punya waktu luang untuk mengobrol sebentar. Kami juga tidak mau mengganggu pekerjaannya itu.
Sembari menunggu, kami memutuskan untuk berkeliling toko sambil melihat-lihat barang yang dijual. Di toko ini, berbagai macam barang dijual. Mulai dari peralatan olahraga, alat tulis, peralatan outdoor, dan lain-lain.
Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya kondisi toko sudah mulai menyepi. Di depan meja kasir terlihat tidak ada lagi pembeli yang sedang mengantre untuk membayar. Kami pun lalu langsung menuju ke sana selagi belum ada pelanggan lagi yang akan membayar.
"Hallo Sal," ucap Ruben menyapa saat kami sudah berada di hadapannya. Dari ekspresi di wajahnya, sepertinya ia dari tadi belum menyadari keberadaan kami.
"Oh ada apa Ben?" jawab Risal datar. Aku tidak menyangka mereka benar-benar terlihat lebih akrab dari apa yang aku bayangkan.
"Ini, ada teman mu yang ingin mengatakan sesuatu pada mu," ucap Ruben lagi.
"Siapa? Mengatakan apa?" tanya Risal.
Ruben lalu menyeret ku untuk berdiri lebih dekat dengan meja kasir. Kini, aku dan Risal benar-benar berhadapan.
"Oh kau Lang, ada apa?" tanya Risal.
"Maaf sebelumnya tidak mendiskusikannya terlebih dahulu dengan mu. Kau tahu, sebentar lagi sekolah kita akan mengadakan festival lomba menyambut untuk ulang tahun sekolah. Salah satu cabang lomba yang diperlombakan adalah lomba puisi. Nah tadi saat pemilihan orang, aku merekomendasikan mu untuk ikut itu. Seisi kelas pun setuju akan hal itu, jadi aku harap kau mau untuk ikut lomba puisi itu mewakili kelas kita," jelas ku.
"Kenapa kau merekomendasikan ku untuk mengikuti lomba itu? Bukankah sudah ada Agung?" ucap Risal.
"Agung juga ikut kok. Setiap kelas diberi kuota dua siswa. Jika kau tanya kenapa aku merekomendasikan mu, hal itu berasal dari saat kau membaca puisi mu saat pelajaran Bahasa Indonesia waktu itu, kau ingat? Kau membacakan puisi mu dengan sederhana, akan tetapi entah kenapa suara dari setiap kata milik mu itu, menyentuh perasaan orang yang mendengarnya. Sejak saat itu, aku menjadi pengagum puisi mu. Aku bahkan berharap bisa mendengar puisi mu lagi," jelas ku lagi.
__ADS_1
"Jadi bagaimana Sal? Kau mau ikut?" ucap Ruben dengan sedikit tersenyum.
"Entahlah, lagi pula aku kan belum janji juga. Akan aku pikirkan nanti. Kalau sudah selesai, bisa kalian minggir dahulu? Para pelanggan sepertinya sudah mulai mengantre," ucap Risal.
"Oh iya maaf," aku lalu mempersilahkan pembeli yang ingin membayar.
Aku dan Ruben lalu langsung pergi keluar meninggalkan toko.
"Sudah, jangan murung begitu Lang. Jangan terlalu dipikirkan," Ruben sedikit tersenyum ke arah ku.
"Tapi, jika Risal pada akhirnya tidak ingin mengikuti lomba itu, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan pada teman-teman. Terlepas dari semua itu, aku akan tetap merasa sedih jika Risal tidak mengikuti lomba puisi itu," aku menunduk melihat ke tanah dengan tatapan agak kosong.
"Tenang saja, Risal pasti ikut kok," Ruben tersenyum lebar kali ini.
"Eh benarkah? Dari mana kau seyakin itu?" aku seakan tak percaya.
"Aku harap begitu," jawab ku yang masih merasa sedikit khawatir.
"Sudah lah jangan terlalu dipikirkan. Yang terpenting kau sudah mengatakan padanya dengan baik dan benar. Ya sudah ayo kita pulang dulu, langit sudah semakin gelap nih," ucap Ruben yang lalu langsung buru-buru menuju sepeda miliknya. Ruben benar, saat ini langit sudah semakin gelap. Lagi-lagi, Ruben terlihat seperti sesosok orang yang benar-benar berbeda. Bahkan saat ini ia terlihat sangat bisa diandalkan.
"Kalau kau mau langsung pulang, kau bisa bawa dulu sepeda ku Lang. Kau bisa mengembalikannya besok sehabis ekstrakulikuler," ucap Ruben.
"Eh beneran?" tanya ku memastikan.
"Ya tentu saja beneran. Kenapa ragu-ragu seperti itu. Itu pun kalau kau memang mau langsung pulang," ucap Ruben lagi.
"Kalau begitu, aku pinjam sepeda mu dulu yah? Sepertinya aku mau langsung pulang saja," ucap ku.
__ADS_1
"Oke, kalau begitu. Sampai jumpa besok..." Ruben tersenyum lalu mulai pergi meninggalkan ku terlebih dahulu. Ruben terlihat terus menjauh dan seakan menghilang di persimpangan jalan sana, seolah-olah seperti ditelan cahaya jingga senja.
Aku pun lalu mulai mengayuh sepeda ini dan bergegas menuju rumah. Saat ini sudah pukul 17.45. Langit sudah benar-benar hampir sepenuhnya gelap.
Sorot lampu kendaraan bermotor yang melintas berlawanan arah dengan ku, terkadang sangat menyilaukan mata. Aku tidak tahu apakah mereka sengaja melakukannya atau tidak. Yang jelas, hal itu sangatlah mengganggu ku.
Suara klakson yang berbunyi pada saat lampu merah baru saja berubah menjadi hijau juga terkadang sangat lah mengganggu. Lampu baru benar-benar hijau, kenapa klakson sudah berbunyi? Aku tidak tahu tujuan orang-orang itu membunyikan klakson untuk apa.
Aku pun terus mengayuh menyusuri jalan pulang. Saat ini, langit sudah benar-benar semakin gelap. Bulan yang berbentuk sabit itu, kini sudah terlihat dengan sedang berada tepat di atas ku.
Untuk mempersingkat waktu dan jarak tempuh, aku pun lalu mengambil jalan pintas. Jalan pintas ini nantinya akan melewati sebuah jalan kecil yang tidak memiliki penerangan sepanjang sekitar 300an meter yang kiri dan kanannya adalah area persawahan.
Kemanapun aku bergerak, bulan terlihat selalu mengikuti ku dari atas sana. Entah kenapa aku selalu melakukan hal seperti ini dari sejak aku kecil. Aku selalu memperhatikan bulan kemana pun aku pergi.
Kini, akhirnya aku tengah melewati jalan yang tidak memiliki penerangan yang tadi aku sebutkan. Suara serangga terdengar begitu jelas. Area persawahan yang cukup luas, membuat udara di sekitar sini dipenuhi oleh hembusan angin yang cukup kuat.
Di sepanjang jalan ini, hanya aku seorang yang tengah melewatinya. Entah kenapa, untuk sesaat rasanya hanya aku seorang yang sedang berada di dunia ini.
Setelah selesai melewati area jalan yang tanpa penerangan tersebut, kini aku sudah sampai di daerah sekolah ku. Cahaya lampu yang terpancar dari setiap sudut sekolah membuat pemandangan saat malam hari menjadi indah.
***
Akhirnya, setelah cukup lama bersepeda, aku sampai di rumah ku. Aku pun langsung memasukan sepeda milik Ruben ini ke dalam garasi. Setelah itu, aku langsung mandi dan bersiap-siap untuk makan malam.
***
Bersambung
__ADS_1
***